Tema : Mantan
Angin, air, dan secangkir teh hangat menjadi kombinasi yang luar biasa di hujan sore itu. Duduk bersila di atas kursi kayu yang panjang dengan cangkir teh ditangannya, perempuan itu mengulang kembali kenangan usangnya yang masih tersimpan rapi di memori jiwa. Suara gemuruh air menjadi irama pengiring tiap episode hidupnya.
“Mas, kenapa?” Tanya Perempuan itu.
“Maaf, Aku gak bisa pacaran.”
“Tetapi kenapa Mas? Yang penting kita kan ada komitmen.”
“Aku belum siap untuk menikah.”
“Aku tidak minta kamu nikahi!”
“Tolong, mengertilah aku. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa!”
“Aku mencintai Mas,” kata perempuan itu dengan terisak.
“Cukup! Cinta itu bisa dipelajari !” Berlalu meninggalkan Perempuan berbehel itu sendiri.
Mengingat percakapan terakhir itu, membuat air hangat jatuh dari pelupuk matanya. Tangisnya jatuh seperti hujan, namun lebih pelan. Wajah lelaki itu menyeruak. Bukan wajah kekasihnya, tetapi lelaki lain yang bersemayam sudah lama di hatinya. Lelaki yang pernah dia cintai, bahkan sekarang getar itu masih dia rasakan.
Perasaan cinta kepada Andi perlahan mampu diredamnya. Bukan berarti hilang tidak berbekas, tetapi hanya tidak terlihat oleh siapapun kecuali Tuhan. Prinsip yang berbeda memandang makna cinta membuat dia harus rela dengan keputusan Andi. Dia hanya ingin sebuah kepastian dan komitmen, dia juga tidak minta untuk langsung dinikahi. Tetapi Andi tidak menggubrisnya, karena prinsip tidak mau pacaran sebelum menikah tidak akan dilepaskannya begitu saja. Sekali lagi, Perempuan itu harus menelan pahitnya kecewa.
Setelah kekecewaannya dengan Andi, tidak muluk-muluk doa perempuan itu sekarang, dia hanya ingin ada sosok lelaki apa adanya yang rela meluangkan waktu dan selalu ada untuknya. Hanya itu, tidak perlu tampan, terkenal, berprinsip, atau kaya. Hanya ada untuknya, itu sudah lebih dari cukup. “Apakah permintaanku berlebihan Tuhan?” tanya hatinya suatu hari. Sepertinya, Tuhan telah mengabulkan do’a Perempuan itu. Dalam jiwa yang terluka oleh cinta, telah datang sesosok lelaki jangkung yang hingga kini memasuki ranah cintanya.
***
Teh hangat dalam cangkir putih itu tinggal separuh. Hujan masih mengguyur kota Semarang. Dia menurunkan kakinya dari posisi semula. Senyum simpul terukir di bibir ranum itu. Namun, sedetik berlalu, senyum itu menghilang terganti dengan tangisan hening. Isakanya tak terdengar karena teredam oleh gemuruh hujan.
Sesosok Lelaki jangkung itu terlihat sedikit berlari mendekati kursi kayu. Melawan derasnya hujan yang seolah menusuk setiap sel kulitnya. Dia menyunggingkan senyum tulus kepada sang bidadari pujaan hati. Kemudian dia menemaninya duduk.
“Maaf sayang, aku terlambat.” Katanya penuh sesal.
“Kamu basah, aku ambilkan handuk ya!” meletakkan cangkir teh dari tangannya.
“Gak usah.” Menggenggam tangan perempuan itu yang akan beranjak.
“Nanti kamu sakit lho!”
“Tidak ada yang membuatku sakit, kecuali kamu!”
“Aku ingin ngomong sesuatu!” Kata perempuan itu penuh ragu-ragu.
“Katakanlah!”
“Sebelumnya maaf!” Bisiknya.
“Aku... aku... aku mencintaimu.” Ucapnya lirih dan terbata, namun masih sanggup didengar oleh kekasihnya.
“Kenapa hatimu memilihku untuk kau cintai?” tanya lelaki jangkung itu serius.
“Hati tidak sanggup memilih. Dia tahu kemana harus berlabuh. Kamu nyata, sayang, dan selalu ada, itu sudah cukup buatku. ”
Lelaki itu tersenyum, entah apa makna di balik senyumnya. Yang jelas semburat kebahagiaan terlukis jelas di wajah ovalnya. Dia memegang tangan wanita berbehel itu. Menatap tajam matanya. Mata dua insan itu beradu dalam kabut bernama cinta.
“Tapi, kamu harus tahu Sayang. Aku lebih mencintaimu!”
Mendengar ketulusan kekasihnya, Perempuan berbehel itu tidak sanggup berucap. Dia memeluk erat kekasihnya. Air matanya membanjiri hati dalam peluknya kali ini. Tidak peduli begitu basahnya lelaki dihadapannya, tidak peduli hawa dingin yang membungkus erat tubuhnya. Kehangatan cinta lebih berkuasa dibanding apapun. Mereka berpelukan cukup lama dalam rinai hujan yang berdendang.
“Apakah yang aku rasakan ini cinta? Atau hanya kasihan akan pengorbanan? Semua telah kucoba, namun hatiku tak sanggup! Kekasihku, kenapa pilihan hatiku itu bukan kamu?”
Itulah kata yang ingin terucap dari bibir perempuan itu. Dia tak sanggup menuturkannya. Dia tak cukup kuat melihat orang yang selalu ada untuknya hancur. Perempuan berbehel itu sakit, merasa seperti penghianat cinta yang menjijikkan. Air matanya semakin deras. Hanya peluknya itulah isyarat kata maaf yang lama terpendam.
***
#15harimenulisdiblog
@hurufkecil

2 komentar:
speechless... kadang2 mikir apa sih perasaan itu?
gk usah dipikirin mbak, klo gk ribet kita bukan manusia :|
salam kenal gan, semoga hari ini bermanfaat dan sukses selalu
Post a Comment