Kebiri Anuku

Suara speaker masjid subuh hari tadi mengagetkanku. Bukan karena kumandang azan, tetapi sebuah berita duka.

“Lek Paidin meninggal?” tanyaku dalam hati dengan rasa tak percaya.

Setelah sholat subuh aku menuju kediaman almarhum Lek Paidin, butuh beberapa menit untuk sampai di rumahnya dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, kulihat sedikit sekali orang yang ikut pemakaman Lek Paidin. Aku tak heran dengan keadaan itu, Lek Paidin memang terkenal bukan orang baik-baik. Selain berwajah mesum, Kakek-kakek ini juga masih doyan wanita. Kalau saja istrinya mengizinkan dia untuk poligami, pasti dia sudah punya istri lima.

Kegemaran Lek Paidin bermain wanita sudah bukan rahasia umum lagi, dia malah terang-terangan berzina atau tidur dengan wanita-wanita nakal di losmen murahan bahkan di rumahnya. Dia tidak risih atau malu. Istrinya pun sudah menyerah dan pasrah dengan sikap suaminya itu.

***

Aku duduk di barisan paling depan, dekat dengan mayat Lek Paidin. Terlihat semua orang yang layat bukan mendoakan Lek Paidin, malah asyik membicarakan aib almarhum sebelum meninggal. Mereka berbicara keras sekali, seolah hanya mereka yang ada di sana.

“Paidin itu memang gila! Tiap ada wanita, matanaya langsung ijo!” kata salah satu pelayat.
“Kalo hanya mata ijo tuh masih aman! Lha dia langsung pengen ngelonin aja!” timpal yang lain.
“Memang sudah kelewat batas si Paidin itu!” sambil geleng-geleng.
“Malah pernah juga bawa wanita nakal di rumah! Aku kasihan sama istrinya!” 

Sebenarnya aku masih kaget dan tak percaya Lek Paidin meninggal secepat ini. Padahal, baru kemarin malam kami berbincang lama di rumah. Tapi, sekarang dia sudah tak bernyawa. Dalam keramaian hujatan para pelayat, perbincanganku dengan Lek Paidin malam itu kembali berputar di benak.

“Tahu-tahu kok aku sudah tua ya Mas Saiful ?!”
“Ah, Perasaan Lek Paidin aja. Fisik boleh tua Lek,  tapi, jiwa tetap muda,” godaku padanya.
“Bisa saja kamu, Mas,” jawabnya pelan sambil menyunggingkan senyum yang dipaksakan.

Hening. Tak seperti biasa Lek Paidin terlihat serius dan pendiam. Malam itu, seperti ada sebongkah beban berat di pundaknya.

“Aku kepengen berubah, mas. Kepengen jadi orang baik!” akunya jujur.
“Wah kalau itu, saya dukung Lek!” jawabku sambil senyum-senyum.
“Tapi, anuku ini lho, yang gak bisa jadi baik!” ucapnya sedikit berteriak.
“Maksudnya apa Lek?”
“Aku itu sebenarnya bisa nahan nafsu, aku juga sanggup kok kalau gak zina, tapi manukku ini yang nggak bisa nahan!” terangnya frustrasi.
“Oh...Lha terus gimana dong Lek?” kataku sambil manggut-manggut menunggu solusi dari Kakek-kakek di depanku ini.
“Potong saja Mas!”
“Opo? Dikebiri? Edan kamu Lek!”  teriakku kaget dan tak percaya.
“Aku sudah yakin, Mas. Mantep lahir batin! Aku bener-bener mau tobat,Mas. Pengin jadi suami dan bapak yang baik,” terangnya dengan mata menerawang jauh ke depan.
“Tapi, kenapa harus sampai dikebiri to, Lek?” tanyaku masih ingin memastikan keputusan mengerikan dan terekstrim Lek Paidin.
“Kan sudah jelas to tadi! Aku kesini tu minta kamu anter besok pagi ke dokter, Mas. Wis ora usah mikir gimana-gimana. Tugas Mas Saiful cukup nganter aku saja.”
“Lek Paidin yakin?” tanyaku masih ragu.
Dia mengangguk mantap. Kemudian berkata, "Pokonya, jangan, lupa besok!" sambil berlalu meninggalkanku sendiri yang masih terheran-heran dengan keputusan Lek Paidin yang ingin mengkebiri kemaluannya.

***

Suara Modin yang sudah siap menguburkan jasad Lek Paidin berhasil membuatku sadar dari lamunan. Belum ada satu jam, ternyata sudah bertambah banyak saja orang yang melayat. Baguslah, batinku melihat banyaknya pelayat yang datang. Kini, aku dan semua pelayat yang lain berdiri khusyuk mendengar kata-kata yang akan diucapkan Modin selama proses pengangkatan jenazah.

“Assalamu’alaikum. Sebelum jenazah Bapak Paidin dikuburkan, maka kesaksian semua warga desa, tetangga, dan keluarga kepada almarhum selama hidupnya wajib diikrarkan. Sesuai hati bapak-bapak, Ibu-ibu semua yang hadir layat disini,” kata Modin memulai.

Dia kemudian melanjutkan prosesi yang wajib ada dalam acara pengangkatan jenazah itu, yaitu penyaksian warga  terhadap tindak tanduk almarhum selam hidup di dunia.

“Kepada Semua warga Desa Karangawen harap bersaksi, Apakah Almarhum Paidin adalah orang yang baik selama hidupnya?” tanya Modin kepada semua pelayat.

Sunyi. Hanya terdengar suara hembuasan napas semua orang.  Tak ada jawaban satu pun dari Pelayat. Semua diam dan menunduk. Modin mengulangi kata-katanya sekali lagi, 

“Apakah Almarhum Paidin adalah orang yang baik selama hidupnya?”

Suasana kembali senyap.  Tak ada yang menjawab sepatah katapun. Aku ikut  menunduk, teringat pesan terakhir Lek Paidin kemarin malam. Kucoba mengangkat wajahku, dan dengan suara yang bergetar aku berucap, “ Aku bersaksi bahwa almarhum Lek Paidin Baik!”

Semua mata warga desa tertuju padaku dengan pandangan tak mengerti. Suasana yang tadi hening kini dipenuhi suara-suara pelayat yang dapat kudengar dengan jelas. Keterkejutan dan beribu tanya masih menghiasi wajah semua pelayat yang datang hingga proses pemakaman selesai.

Ah, aku tak tahu apakah Lek Paidin orang yang baik atau buruk, tapi aku percaya orang yang mau bertobat menjelang akhir hayatnya dalah orang yang baik. Dan hanya Tuhan yang berhak menilai apakah hambaNya baik atau tidak, bukankah Dia maha menerima tobat semua hambaNya ?

(End)

0 komentar:

Post a Comment