“Ketika seorang istri mencuci pakaian suaminya, maka Alloh menentukan 1000 kebaikan untuknya, mengampuni 2000 kesalahannya, dan dimohonkan ampun oleh semua mahluk yang disinari matahari, serta ditingkatkan derajatnya 1000 tingkat.” (HR. Abu Mansur dalam musnad Firdaus)
Begitu luar bisanya balasan Sang Khalik untuk istri yang dengan ikhlas berbakti pada suami. Sebab, itu memang bukan hal yang mudah. Apalagi di zaman moderen ini, tidak jarang para Istri berani membantah suami. Bahkan bisa lebih buruk. Hal ini menjadi sangat memprihatinkan.
Kesibukan dijadikan alasan rasional para istri untuk menghindarkan diri dari amanah. Tidak menutup kemungkinan, bahwa faktor kondisi ekonomi dengan tanpa sadar menjadi penyebab sifat egois ini. Keadaan dimana seorang Istri mulai egois dengan keakuan nya karena sudah merasa mampu untuk mandiri dan sanggup mendapatkan penghasilan sendiri akan memicu konflik suami-istri.
Pemikiran masyarakat kita yang masih berpegang pada budaya patriarki ( pria harus memiliki status lebih unggul dari wanita ) mendorong suami berfikir bahwa status pencari nafkah adalah lebih tinggi. Meskipun persamaan derajat pria-wanita telah lama diakui.
Sebagai contoh keluarga Pak Budi (bukan nama sebenarnya). Dia merasa tertekan dan tidak berhasil menjadi tulang punggung keluarga. Suami yang hanya seorang Petani ini harus menghidupi anak-anaknya. Dengan kedaan ini, memaksa Ibu Suyati, istri pak budi, harus ikut membanting tulang untuk membantu Suaminya mencari nafkah.
Ibu Suyati menganggap kerja kerasnya bukan karena membantu suaminya, melainkan tuntutan yang harus dilakukan untuk bertahan hidup, dan memang penghasilannya cukup besar melebihi Pak Budi. Perasaan rendah diri atau minder Pak Budi semakin menjadi, Apalagi karena sikap istrinya yang mulai berubah lebih berani.
Mungkin Pak Budi tidak sendiri, kekuatiran akan kehilangan posisi kepala rumah tangga yang dihormati pasti muncul di kepala para Suami. Hal ini dapat dihindari dengan menggeser pemikiran kita karena semua berawal dari diri individu masing-masing.
Istri yang menurut hadist merupakan tulang rusuk adam yang bengkok memang benar adanya. Tanpa disadari atau tidak, setelah mendapatkan suatu status dan pengakuan dari masyarakat, banyak wanita akan melampaui batas yang tidak sewajarnya. Itu adalah sebuah kecenderungan. Walaupun, tidak semua wanita seperti itu.
Di zaman sekarang, tidak sedikit para Istri secara tidak sadar melalaikan kewajibannya. Seorang suami pun demikian, seharus nya mampu bersyukur atas rizki yang dibawa istri, bukan malah dibenci atau dimaki-maki. Kemungkinan ketakutan Suami yang merasa tidak dianggap atau dihormati sebagai kepala rumah tangga hanya ada di pikiran suami dan kecemasan nya saja
Untuk menghindari konflik yang akan timbul akibat masalah overlapping status ini adalah dengan komunikasi. Penyesuaian diri dengan posisi individu masing-masing dalam tiap rumah tangga juga penting untuk menghindari konflik rumah tangga yang sering muncul.
Menjadi Sosok yang melindungi, memimpin, dan menjadi tulang punggung keluarga adalah impian semua suami yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, Karier Istri diniatkan untuk membantu suami, tetapi tanggung jawab seorang istri tetap mengururus rumah tangga dengan baik dan penuh cinta kasih. Hindari menuntut suami dengan tuntutan yang melampaui batas kemampuannya, karena Rosul bersabda :
“seorang istri yang memaksa suaminya menjadi asedih akibat urusan nafkah atau membebabinya diluar kemampuan suami, maka Alloh tidak menerima kesetiaan dan keadilannya.”
Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi untuk keluarga kita menuju kebahagiaan hakiki, sakinah, mawaddah, warrohmah,,,amien..
# terinspirasi dari keluarga Pak Budi dan Bu Suyati


0 komentar:
Post a Comment