other side part 2


Cuaca pagi ini agak murung, kabut sedikit menyelimuti persawahan desa sendangguwo. Route ke Sekolah tidak bisa dibilang tanpa tantangan. Selain jaraknya yang lumayan jauh, sekolah ku berdiri kokoh di daerah perbukitan. Itu menjadi kegemaran nina, berpacu adrenalin. Buat nina tanjakan dan tikungan jalan sangat menggoda, tetapi tidak buat ku.
Untuk ke Arah Kota Semarang, kami tidak punya pilihan jalan lain. Dari rumahku, hanya ada satu route dari desa ini ke kota. Jalan aspal yang tidak begitu lebar ini akan tembus ke perempatan desa sendangguwo. Rem wewe mulai diinjak Nina berkali-kali. Pertanda kami harus mengurangi kecepatan, Perempatan sendangguwo memang selalu penuh kendaraan. Maklum, disini berdiri satu-satunya pasar di desa ini. Pasar Sendang memang menjadi pusat keramaian desa. Para penjual sayur di pinggir jalan sibuk memilah-milah sayur nya untuk dipisahkan mana yang layak jual dan tidak. Hilir mudik pembeli asyik menawar barang yang pas di hati dan di kantong mereka. Para kernet angkutan umum berteriak-teriak bagai TOA berbaterai baru, membuat atribut keramaian suasana pasar semakin lengkap. Selain pasar sendang, yang membuat perempatan ini selalu ramai adalah salah satu jalur nya merupakan jalan raya menuju perumahan purwoindah. Dan rata-rata penduduk di wilayah ini bermukim disana. Jadi, lalu lalang mobil dan kendaraan roda dua tak sanggup dihindari. Kami harus belok ke arah kanan untuk menuju kota semarang. Lampu lalu lintas belum bisa dinyalakan. Baru satu minggu diinstall dan belum dioperasikan. Ini juga menjadi salah satu faktor tidak tertibnya permpatan ini. Nina menyalakan lagu Favoritnya untuk mengusir penat.
Kami langsung belok kanan dengan sedikit usaha. Karena harus sabar menunggu pengendara lain yang berbelok. “Don’t stop the music” berdengung dengan sound eqilizer yang mantap. Mungkin perlu ada ralat dengan kata “mantap.” Ini sebuah generalisasi, mungkin benar, buat Nina “”Dont stop the music adalah lagu yang enak untuk telinganya. Berbeda dengan ku, Alunan piano lebih membuat nyaman telingaku. Musik klasik mampu menguak semua imaginasiku yang terkunci dan terbelenggu. Menggairahkan otakku untuk berkarya. Saat mendengar alunan lembut piano, aku merasa semua mahligai seolah nyata. Perasaanku mampu menangkap variasi tekanan tiap tuts . variasi itu menyampaikan rasa yang berbeda. Imaginasi, emosi, dan ketepatan saling berkoherensi membentuk simfoni nada yang agung dan sangat melenakan.
 Seperti karya mozart, overtune Le nozze di Figaro ( Pernikahan Figaro), indah dengan ketukan yang tidak terlalu cengeng dan terkesan berani, sepertinya mozart ingin memberi semangat baru pada pendengar nya. Jika mendengarkan karya mozart ini seolah ada sebuah perlawanan di tiap nada nya, Walaupun itu lirih dan smar-samar. Lepas dari itu semua, Le nozze di Figaro tetap indah dengan balutan kelembutan nada-nada dan ritme yang memberi harapan. Selain over tune nya yang indah dan cantik, Cerita di balik opera ini juga sanggup memesonaku. Seolah kami adalah para pemain nya.  Pangeran Almaviva seperti sosok papi dalam kehidupan nyata, dan Ratu Rosina seperti mami. Walaupun ada sedikit perbedaan dari karakter mereka. Ratu rosina sanggup melawan dan mempermalukan raja, tetapi tidak untuk mami dia ikhlas dan pasrah dengan semua kelakuan bejat papi.
Opera yang berlatar di Seville Spanyol ini berkisah tentang kehidupan di istana Pangeran Almaviva dan Ratu rosina. Sang Pangeran bernafsu dan ingin merasakan tubuh pembantunya, susanna. Nafsu yang sudah tidak terbendung lagi memaksa pangeran untuk memutar otak untuk menunda pernnikahan susanna dengan Figaro sang kekasih. Selain itu, dia juga tidak ingin kehilangan Ratu rossina. Sayang Ratu mencium gelagat raja, maka dia berencana mempermalukan sang raja di hari pernikahan susanna dengan figaro. Bagiku, cerita ini adalah tragedi yang sedikit memuakkan. Kerana di ending cerita ini, Ratu rosina memaafkan kembali sang pangeran. Keputusan bodoh, Kalau aku menjadi rosina sudah ku bunuh pangeran tengik itu, gerutuku dalam hati.
“woi, ngelamun lagi?.”  Lagi-lagi Suara nina membuyarkan lamunan ku, “mikirin mami kamu ya?”
Mukaku sedikit kesal, karena nina hampir selalu tepat menebak apa yang ada di benakku’
“sok tahu kamu, nin,”
“bukan sok tahu, emang tahu kali. Apa sih yang tidak aku tahu darimu?” sambil mengedipkan mata kirinya
Kontan bibirku tambah kesal “sok imut nin, males ah,” tapi ada sedikit rasa bahagia. Setidaknya ada yang mengerti dan perhatian sama aku.
“emang imut!? Tetapi, kamu suka khan punya aku? Goda nina, ”siap-siap gih bel, lima belas menit lagi kita nyampe nih, sudah ada planning?” nadanya berubah normal. Mungkin melihat respon pipiku yang langsung memerah.
“planning?”
“yupz, planning ke BP centre. hari ini kita harus ke BP, karena sudah berhari-hari tidak masuk,” menjelaskan sambil mangguk-mangguk ikuti irama lagu.
“ok. Yang perlu disiapkan hanya mental kok nin!”
“mental buat apa tuh?”
“mental bertemu mak lampir, glenta.’’
“..hahahaha...hahahha...” tawa kita menyatu seperti paduan suara yang harmonis.
Di sepanajang perjalanan ke sekolah, nina selalu berhasil memberi  ruang buatku untuk bisa sedikit tertawa dan melupakan semua kelam yang terjadi akhir-akhir ini. Selalu begitu, di setiap malam-malam saat papi menganiaya mami dan melecehkan ku, paginya nina selalu ada untuk ku, menghibur ku dan sedikit mengurangi beban hidup  ku. Sampai sekarang, hingga Mami dan Papi meninggal, nina pun masih di sisiku. Entah sampai kapan semua akan berjalan seperti ini. mungkin sampai salah satu dari kami ada yang mati.
 Inilah yang membuat ku berusaha bertahan hidup dalam kekerasan dan penganiayaan papi. Aku tidak yakin bisa,  jika orang lain yang mengalami dan merasakan hal serupa seperti ku. Pasti sudah bunuh diri dari jauh-jauh hari, pikir ku. Walaupun mami mengakhiri hidupnya sendiri. Tetapi, aku tetap bangga dan menganggap beliau wonder women. Mampu bersabar hidup dengan si bengis Papi.
“busyet bel, ada yang mau menantang kita euy,” teriak nina, “lihat mobil antik di belakang! Mau mengejar kita terus.” Sambil menaikkan kecepatan. Untung wewe baru ku baru diservice tiga hari yang lalu, ada peluang wewe akan unggul.
Ku tengok spion wewe, benar keta Nina, mobil kuno toyota corolla 73 melaju tepat dibelakang kami. Dan dia juga menekan gas untuk membalap wewe. Setahu aku, hanya ada tiga anak yang membawa mobil kuno ke sekolah. Noah vivi dengan hardtop birunya, jarwo hidayat dengan Mercy 74-nya, dan corona tahun 81 putih yang menjadi pegasus bagi kakak kelas 3IPA yang tidak begitu aku kenal namanya. Lalu siapa anak yang mulai tertarik dengan mobil kuno? Batinku mencari jawaban.
“wow, Nin, hati-hati!! Ini sudah jalan naik, area sigar bencah.” Pekikku tidak dihiraukan nina. Dia benar-benar fokus untuk menjadi pemenang di area balap ini, walaupun banyak tikungan dan tanjakan. “kurangi kecepatan Nin!” perintahku. Nina semakin membuatku takut. Siswa misterius itu hampir membalap kami. Nina tekan lagi pedal gas, lalu meluncur. Corolla merah tidak mau kalah, dengan kecepatan yang lebih tinggi dia membelokkan setirnya mengambil jalur kanan kami.
Arrrghhhh geram nina melihat spion wewe. Kami saling berdempetan. Nina mengunngguli beberapa menit kemudian. Sekarang hanya bemper depan yang memisahkan kami. Jalan seolah milik mobil kita berdua. Dan corolla berhasil mendahului sebatas kaca pengemudi wewe. Terlihat sekilas wajah siswa misterius itu. Seklebetan menghilang beberapa menit kemudian, nina memimpin. Jalanan sigar bencah memang sepi, karena merupakan jalur alternatif. Selain itu jalur ini terkenal angker dan banyak terjadi perampokan dan pembunuhan, mungkin itu penyebab jalan ini hampir selalu sepi. Nina puas dengan mata berbinar-binar dan senyum indah, luar biasa cantik. Aku sangat senang memandang keindahan seluruh tubuh nina saat tersenyum, ku beranikan diri untuk menyentuh halus kulitnya, dan ku rasakan kelembutan tekstur yang luar biasa, ku sentuh perlahan tangannya, berharap dia merasakan semangat yang ku alirkan.
            “astaga, nekat sekali dia!” bisik nina yang ku dengar dengan Memperhatikan siswa misterius yang mencoba membalap wewe dengan susah payah, karena ada honda jazz dan avanza diantara mobil kami. Dia mulai menekan pedal gas dan berhasil lolos dari gangguan avanza, tetapi jazz tidak rela dibalap. Sepertinya dia juga terkena imbas balapan kami. Jazz pink itu terus menaikkan kecepatan diatas kecepatan corolla, berapapapun itu, dia hanya kira-kira saja asalkan tidak terbalap. Siswa misterius terus berusaha mendahului laju jazz pink, tapi pengendara jazz pink tetap keras kepala tidak mau dengan  mudah menyerahkan posisinya. Kami berhati-hati dan tetap fokus, karena lengah sedikit mobil dengan mesin baru itu akan dengan gampang naik dari runner up menjadi gelar juara.
Jazz pink hampir kuwalahan menjaga ritme kecepatan, corolla hampir mendahului, bemper belakang sudah dilalui nya, jazz tidak mau kalah.  Mereka berdua beradu, kami miris melihat seluruh aspal habis untuk track mereka, jalan sigar bencah masih tersisa beberapa meter untuk satu motor yang lewat dari arah berlawanan. Persaingan semakin sengit, jazz tetap belum mau menyerahkan mahkotanya sebagai runner up, dia terus mempertahankan kecepatannya, dan sesekali hampir membalap wewe. Sepertinya, pengemudi jazz putih belum sadar kekuatan mesinnya. Tidak untuk si siswa misterius, dengan mobil kuno nya, yang seperti telah dimodifikasi itu tetap berusaha mengejar jazz putih. Posisi masih belum berubah, bersebelahan. Balap membalap, benar-benar menegangkan, tanjakan sekali lagi akan sampai. Mereka tetap keukeuh bertarung.
“o,,o,,ada truck dari jalur lawan arah bell,” katanya sangat terkendali dan elegan, “mampus dia, bell” sambil melirik spion wewe
“astaga...” pekik ku ngeri
Truck tronton dengan muatan kayu melaju dengan kecepatan tinggi sedang menuruni jalan sigar bencah dari arah yang berlawanan dengan kami. Siswa misterius sepertinya belum sadar akan hal itu. Tikungan pada jalan ini memang membuat pengendara tidak mampu melihat jauh ke depan. Kecuali sudah dekat dan akan berpapasan.Dan itu terjadi dengan siswa misterius itu. Truck sudah mulai mendekat, beberapa menit lagi akan berpapasan. Pengendara corolla itu baru sadar, bahwa tepat di depan nya ada truck tronton, dia sedikit kaget dan memencet rem sekerasnya. Setir dibanting nya ke  arah kiri dengan cepat.
Sopir truck sedikit panik. Dia kaget ada mobil di depannya. Dia putar setir ke kanan dengan Akurat, sisi kanan truck hampir ber himpitan dan bergesekan dengan corolla. Sedangkan ban kiri truck sudah melaju di sisi jalan aspal. Mereka berpapasan dengan jarak yang sangat dekat. Hampir bergesekan sisi. semua terjadi dengan cepat. Spontan wewe dan jazz pink melambat memperhatikan dengan detil apa yang akan terjadi antara truck dan corolla. Momen itu digunakan lelaki siswa misterius untuk membalap kami berdua setelah lepas dari himpitan truck. Dan sialnnya, dia berhasil.
Gerbang sekolah kami sudah terlihat, semua menuju tempat parkir siswa. Parkir mobil melewati gerbang samping belakang sekolah, karena langsung masuk ke tempat parkiran mobil. Sedangkan siswa yang menggunakan sepeda motor masuk langsung dari depan dan menuju ke parkir melalui lorong-lorong antara kelas 3 IPA, ruang BK, dan kelas 2.1 yang saling berhadapan. Tempat Parkir sepeda motor berada di dekat laboratorium fisika dan biologi. Persis di depan kantin dan toilet siswa. Beda halnya dengan tempat parkir mobil, terletak di depan gedung aula, yang digunakan untuk latihan akting grup teater sekolah. Disamping tempat parkir yang rindang ini ada lapangan basket outdoor. Kami sering mengadakan kompetisi basket di situ.
Wewe Nina parkir di dekat pohon perdu yang terhindar sengatan langsung dari matahari, dan itu menjadi tempat parkir favorit siswa. Aku sudah siap untuk masuk kelas, tanpa perlu mengaca dan berdandan aku langsung menuju kelas. Rasa mual mengisi rongga di lambung ku saat melihat glenta sudah stand bay di depan pintu kelas.

0 komentar:

Post a Comment