Pengorbanan


Wanita baya itu masih diam di kursi, sorot mata nya dipenuhi dengan campuran rasa sedih, kuatir, dan harapan. Dia tidak berkata sedikit pun, mata nya sebagai isyarat. Dan memang benar, lelaki itu sanggup mendengar jelas kata hati nya. Siang itu, adalah saksi sebuah cinta. Setengah jam kemudian lelaki sudah tak tampak dan pergi menjauh.

Wanita baya itu kaku. Pelupuk mata nya terasa berat, bulir air mata  yang menggantung ingin jatuh  ditahan nya. Bukankah, perih sudah menjadi santapan nya bertahun-tahun. Hingga keriput menyerang kulit yang dulu terlihat kencang itu.

Tatapan wanita itu lurus ke depan, memandangi sisa-sisa lelaki itu yang seakan masih ber-raga. Di dalam benak nya muncul kenangan masa lalu yang bergantian seperti gulungan film yang berputar. Dia masuk dalam dunia nya sendiri, tanpa menyadari senja telah di pundak nya.

“demi masa depan!” kata lelaki yang masih  di ingat nya

Sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima, tanpa protes. Entah itu buruk atau baik bagi nya, dia tak peduli. Dia hanya ingin kebahagiaan orang yang dicintai nya, tidak lebih. Apakah itu pinta yang berlebihan? 

“ Mungkin kesedihan ini adalah awal untuk menuju kebahagiaan kelak,” kata sang hati

Dia tak mampu mendiskripsikan cinta itu apa, dia hanya mampu merasa. Bukan seperti nafsu yang membelenggu, tapi kasih suci, sesuci air mata nya. Demi cinta, bukan hanya raga, jiwa pun siap di korbankan tanpa pamrih. Walaupun bersimbah kesedihan, tak mengapa bagi nya, asal orang yang dia cintai bahagia. Berkorban adalah satu hal yang ingin selalu dilakukan nya. dia tak ambil pusing, apakah cinta nya berbalas atau tidak. Yang dia tahu, senyum orang yang dicintai nya adalah bahagia nya, walaupun harus menyerahkan nyawa nya untuk sebuah senyum itu.

“aku selalu berdoa untuk mu” kata wanita itu suatu sore

Lelaki itu mungkin tak pernah melihat cinta suci itu. Dia hanya Percaya ada cinta, Namun dahsyat nya pengorbanan, sakit nya menanggung beban, luar biasa nya harapan, dan doa-doa sakti belum ia  rasakan. Wanita itu tak pernah kecewa . Dia pun ikhlas dengan ini semua dan akan tetap menjaga kesucian cinta nya, sampai kapan pun.

Kini dia sakit, bukan penyakit yang menyerang nya. Tapi, kesakitan karena orang yang dicintai nya tak berdaya. Dia menyayangi lelaki itu, lebih dari diri nya sendiri.

“aku sakiiiit,,,,benar-benar sakiiit.” Teriak perih lelaki itu
“aku lebih sakit!” dia berkata dengan air mata membanjiri hati
“tolong aku! Aku tak tahan lagi!!”
“apa yang sanggup ku lakukan?”

Tangis tiap malam menjadi penghias tidur nya. Tuhan lah kini yang sanggup menolong orang yang dicintai nya. Dia tak berdaya, dia hanya mahluk biasa tanpa kuasa.

“Tuhan, andai nyawa ku sanggup menyembuhkan nya. Aku rela kau ambil nyawa ku, hanya untuk nya. kembalikan senyum indah nya, Tuhan. Ku mohon,,,” 

Dengan bersimbah air mata, di atas sajadah yang sudah mulai usang, dan mukena tua  yang berwarna putih kecoklatan, Dia bermunajat pada sang Khalik. Dia hanya ingin Tuhan mengembalikan senyum orang yang dicintai nya, walaupun nyawa adalah taruhan nya. 

Malam-malam bisu yang hening , sepi, dan sunyi menjadi bukti akan cinta suci,,,,



# 19 april 2011

Teruntuk alm. Emak.
“Mak, Aku kangen! Aku ingin bertemu!”
I LOVE U.....slalu!


0 komentar:

Post a Comment