other side part 3


         SMA 2 Semarang termasuk sekolah Favorit di kota atlas ini. Rata-rata siswa yang mampu bersekolah di sini selain harus pintar, juga wajib mempunyai kocek yang lumayan. Tidak bisa di pungkiri bahwa siswa di sini berasal dari kalangan menengah ke atas. Jika melihat gedung sekolah nya yang mewah dan elegan, peralatan mengajar yang lengkap, dan laboratorium serta fasilitas umum yang komplit bisa di terka berapa uang sekolah per bulan nya. Jadi, bagi yang tidak mempunyai banyak uang pasti sudah mengurungkan niat nya untuk menyekolah kan anak nya di SMA ini.
         Aku berjalan sendiri menuju kelas, karena Kelas nina berbeda arah dengan ku. Baru kali ini kami tidak se kelas. Seperti nya hal ini sudah di rencanakan oleh kepala sekolah. Untuk menghemat waktu, dari parkir Nina langsung mengambil jalan menuju Aula, karena kelas nina berada di samping kiri aula. Berbeda dengan ku yang harus keluar dari area Aula menuju ke gedung utama sekolah. Aula dan gedung utama memang terpisah.
         Aku berjalan menyusuri kelas-kelas seperti berada lorong panjang. Mulai kelas IPA 4 sampai IPA 1 yang berada paling  ujung. Untuk menunggu bel masuk, biasa nya banyak siswa duduk-duduk atau saling berbincang di luar kelas. Seperti pagi ini, begitu banyak siswa din depan kelas-kelas yang aku lewati. Pandangan aneh mereka terhadap ku membuat ku tersiksa.  Sepertinya mereka sedang sibuk menggunjingkan ku. Mata mereka memperhatikan ku dari ujung kaki hingga atas kepala. Sungguh menyakitkan, seolah-olah aku adalah alien yang baru turun dari planet asing. Tawa mereka mengisyaratkan bahwa aku sesosok Manusia abnormal yang tersesat di kawanan orang berIQ di atas rata-rata. Memang begitu menyebalkan. Perlakuan ini sebenarnya sudah ku alami sejak aku mulai masuk SMA ini. Seharus nya aku terbiasa dan mulai belajar bersikap wajar. Akan tetapi,  aku belum bisa. Rasa seperti dilecehkan dan tidak dihargai masih saja ada di benak ku. Ketika kebencian ku terhadap mereka mulai membuncah, aku hanya bisa berlari masuk ke dalam kelas.
“wow, surprise! Si alien berangkat nih!” sambut Glenta di depan pintu kelas
“so what?!” balas ku sebal
“turut berduka ya! Bonyok loe dah mampus ke neraka!” sambil sedikit tertawa
“apa kamu bilang!” sambil ku tarik kerah baju nya ke hadapan ku, “aku gak terima kamu hina mami.”
Glenta menyingkirkan tangan ku dengan kasar, “emang gue takut!! Dasar Alien!”
“lihat saja, mak lampir sok seksi!” balas ku dengan nada mengancam
“hahahahahah,,,ngomonmg sama tangan!” dengan kelima jari penuh cutex tepat di depan wajahku
Hanya  menguras banyak energi ku saja jika harus meladeni mak lampir yang merasa dirinya super duper cantik ini. Aku langsung nyelonong masuk ke kelas tanpa mendengarkan ocehan tak penting glenta. Bangku ke dua dari depan dan baris ke tiga adalah tempat duduk ku. Jumlah siswa di kelas ku ganjil, makanya aku duduk sendiri. Dan itu lebih baik, karena aku memang lebih nyaman sendirian.
         Bel berbunyi tanda pelajaran di mulai. Kami akan belajar pelajaran biologi, entah bab apa yang akan dibahas, karena sudah dua hari aku tidak masuk tanpa keterangan. Guru biologi ku memasuki kelas, Bu pranta. Guru yang menurut ku sangat perhatian dengan murid-murid nya. beberapa kali beliau mengajak ku untuk sekedar berbincang tentang keluarga ku. Aku hanya mengatakan “semua baik-baik saja” untuk menghindari serentetan pertanyaan selanjut nya. aku cukup menghargai usaha beliau untuk membantu memecahkan masalah ku.
“pagi anak-anak!”
“pagiiiii,,,,bu,,,,,” serentak jawab semua siswa kecuali aku
“ok, sekarang kita akan membahas bab  4 tentang simbiosis, tapi sebelum nya ada pengumuman untuk kalian.”
“ada info apaan mom?” tanya glenta cari perhatian
“panggil saya ibu, glenta!” sambil menatap mata glenta dengan tajam, “akan ada siswa baru di kelas IPA 1” lanjut bu Pranta
         Semua siswa riuh, saling bertanya-tanya seperti apa teman baru mereka. Glenta sibuk bercermin melihat penampilan nya, siapa tahu siswa baru itu cowok keren yang bisa di gebet nya. Aku hanya diam tanpa kata-kata, berdoa dalam hati supaya siswa itu tidak ribet dan tidak suka mencampuri urusan orang.
“tenang anak-anak! Tenang!” teriak bu Pranta sambil mengetuk penghapus dengan keras dan berulang-ulang. “bara, silakan masuk dan perkenalkan diri kamu di depan teman-teman baru mu.”
         Masuklah siswa baru itu. Lelaki yang berwajah sedikit bule berjalan memasuki ruang kelas. Mata nya begitu tajam hanya menatap ku. Apakah hanya perasaan ku saja? Tubuhnya tegap dan kekar, memperlihatkan dia aktif berolah raga. Rambut nya cepak  dengan jell rambut sedikit menempel di ujung-ujung nya. kulit putih dan hidung mancung membuat hampir semua siswi melongo memandang tanpa berkedip siswa baru ini. Bagiku tak mengherankan, aku akui memang aura nya sanggup membius semua wanita yang ada di dekat nya. termasuk aku.
“pagi teman-teman,” sapa nya kepada kami semua
Suara nya yang berat membuat jantung ku berdegup keras. “Oh Tuhan, ada apa dengan ku ini?” tanya hati ku
“e,,nama ku bara baskara,” kata dia sambil menuliskan nama nya di papan tulis, “teman-teman bisa panggil aku, bara.”
“mungkin, ini dulu perkenalan dari aku. Kalau ada yang ingin teman-teman tanyakan, langsung saja bisa ditanyakan nanti saat istirahat.”
Semua siswa riuh, protes pada perkenalan bara yang terlalu singkat.
“tenang! Tenang! Anak-anak.” Bu Pranta mengambil alih, “bara, kamu bisa duduk di kursi kosong itu!”
 ‘baik bu, terima kasih.” Jawab bara
         Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini. Aku harus duduk dengan pria tertampan yang pernah ku lihat. Aku bisa sakit jantung kalau lama-lama dekat dia. Pikiran ku kacau, mencium bau parfum nya saja aku sudah hilang kendali. Apa lagi harus Melihat tangan nya yang kokoh, membuat aku membayangkan pelukan nya yang dahsyat. Pikiran apa ini, tidak! Aku harus membuang jauh perasaan ini. Help me Nina!
Dia menuju bangku ku. Aku semakin gugup. Ku rapikan rambut lurus ku dengan mengusap-mengusap kan jemari ku. Walupun aku tahu itu tak berpengaruh banyak dengan penampilan ku. Gaya berjalan nya yang cool menambah daftar alasan aku menyukai nya. Tetapi, matanya begitu tajam. Seakan ada dendam yang membara di tiap tatapan nya. tiba-tiba timbul rasa ngeri ketika bara menatap mata ku. “Menakutkan!” Batin ku.
“hai! Bella.” Sapa nya dengan suara berat
“bagaimana kamu tahu nama ku?” balas ku gugup
“aku mengenalmu lebih dari yang kamu tahu.” Kata nya tetap menatap ku tajam
“maksud kamu?” tanya ku penuh ketakutan
“bahkan aku juga tahu sahabat mu Nina!”
Aku sangat kaget, tidak ada satu orang teman sekelas ku yang  pernah menyebut nama nina. Tapi, siswa baru ini mengaku tahu diriku, bahkan nina. Sebenar nya siapa dia? Aku memutar otak mencoba menerka identitas bara, tapi nihil. Tidak ada nama bara di memori otak ku, tapi kenapa seolah dia begitu mengenal ku?
“siapa kamu sebenar nya?” tanya ku tanpa basa-basi
“kamu tak perlu tahu,” Kata nya dengan mendekatkan wajah nya ke arah ku. Aku dapat merasakan nafas nya, karena takut terlihat oleh bu Pranta, aku langsung menjauh. Jantung ku masih saja berdegup kencang, benar-benar tak bisa ku kendalikan ketertarikan ku ini. Tapi, kurasakan ada kebencian di tiap ucapan bara.  Mata dan ucapan nya mengisyaratkan sesuatu dan sepertinya berbahaya.
         Setengah jam sudah pikiran ku tidak fokus pada pelajaran bu pranta kali ini. Pertanyaan-pertanyaan di benak ku semakin menumpuk. Masalah terbunuh nya papi, sosok bertopeng, dan sekarang Bara. Misteri ini membuat kepala ku semakin pening. Suara bu Pranta membuyarkan lamunan ku.
“bella?”
“ii...ii...ya..bu?” jawab ku kaget
“apa jawaban nya?” tanya bu Pranta tegas
Aku yang tidak memperhatikan beliau mengajar, bingung mau menjawab apa.
“tidak tahu bu!” jawab ku sedikit malu
“oke. coba kamu bara!”
Bara berdiri dari duduk nya, dengan senyum yang sangat manis dia menjawab pertanyaan bu Pranta yang aku tak tahu itu apa.
Simbiosis berasal dari bahasa Yunani sym yang berarti dengan dan biosis yang berarti kehidupan.” Bara melanjutkan, “atau bisa diartikan interaksi antara dua organisme yang hidup berdampingan.”
“bagus. Menurut kamu bella?” tanya bu Pranta
Mau tidak mau aku harus menjawab pertanyaan bu pranta kali ini. Tidak mungkin aku bilang tidak tahu untuk yang ke dua kali. Dengan malas, ku angkat tubuh ku dari kursi. Aku mulai memikirkan jawaban.
“oke, mungkin aku akan memberi sedikit contoh dalam hidup kita.” Aku memulai, “sebuah interaksi mutlak di butuhkan seseorang. Entah interaksi dengan Tuhan nya, alam, atau dengan sesama manusia. Dan interaksi itu bermacam-macam, karena suatu perjanjian, komitmen, cinta, atau bahkan rasa benci. Itu semua merupakan aturan Tuhan, dan kita dituntut untuk memilih.” Terang ku panjang lebar, “dan juga harus siap dengan segala konsekuensi nya.” tambah ku mengakhiri jawaban ku.
Tiba-tiba glenta mengangkat tangan tanda interupsi.
“silakan, glenta!” kata bu Pranta sambil menunjuk glenta
“menurut saya”  sebelum glenta menyampaikan pendapat nya suara bell berbunyi, tanda pelajaran ke dua akan di mulai.
“maaf glenta, pelajaran dilanjutkan besok!” kata bu Pranta kepada glenta
“yahhh,,,bu!” suara glenta penuh kekecewaan
         Kemudian Bu Pranta menutup diskusi hari ini. Tidak lupa dia juga memberikan PR untuk di kumpulkan minggu depan. Aku membatasi buku biologi ku sebagai pengingat PR yang harus dikerjakan. Dengan salam dan senyum yang ramah, bu Pranta mengakhiri pelajaran dan meninggalkan kelas.
        Pelajaran ke dua adalah olah raga. Sebelum di mulai kami semua siswa mulai sibuk mengganti seragam sekolah dengan baju olah raga. Sekolah ini tidak memberlakuakan seragam olah raga, baju yang di kenakan bebas, tetapi harus sesuai. Rata-rata siswa menggunakan kaos dan celana pendek.
         Aku memakai kaos Favoritku, warna hitam dengan gambar percikan darah di bagian dada. Terasa sangat pas, aku padan kan dengan celana kolor pendek yang warna merah. Aku sedikit percaya diri dengan penampilan ku yang tidak terlalu buruk. Berbeda dengan glenta yang hampir selalu tampil seksi. Dia memakai kaos tanpa lengan dengan dua tali yang menggantung di pundak nya. celana hot pan yang ketat selalu menjadi andalan. terkadang belahan dada nya menyembul di antara ujung kaos yang ketat itu. tidak heran,  jika banyak lelaki yang tak berkedip melihat nya. hal itu malah membuat glenta sangat bangga dan senang .
         Kami berkumpul di lapangan depan kantor tata usaha. Pak bejo, guru olah raga, sudah menunggu. kami berbaris dengan rapi. Ketua kelas menyiapkan barisan kemudian mengistirahatkan kami untuk mendengar pak bejo berbicara.
“dengar anak-anak!” pak bejo memulai dengan teriakan keras
“nanti akan diadakan pengambilan nilai olah raga buat minggu ini, nilai di ambil dari permainan bola basket. Cewek dan cowok akan di pisah. Tapi, ada satu cowok di masing-masing tim cewek agar ada yang bisa mencetak score.”
Semua siswa riuh memperdebatkan ketetapan pak bejo yang tidak bisa di ganggu gugat. Tetapi itu memang alasan yang masuk akal. Kalau tidak ada cowok, mungkin satu jam bermain tidak akan ada bola yang masuk ring.
“empat cowok yang saya panggil, akan  bermain di tim cewek.” Lanjut pak bejo
Pak bejo di dampingi asisten nya memilih-milih siapa saja yang akan bergabung untuk menjadi pemain di tim cewek. Akhir nya keempat lelaki beruntung itu di umumkan pak bejo.
“Noke prakoso, farad bilgudal, gilban wahid, bara baskara.” Teriak pak bejo
Hati ku bergetar saat nama bara di panggil. aku tak kuasa melihat wajah tampan nya. senyum nya benar-benar melumpuhkan ku.  Aku takut, benar-benar takut kalau aku jatuh cinta pada nya. “Nina, aku butuh kamu sekarang.” Hati ku meronta
         Tim cewek akan bermain basket di lapangan in door dekat aula. Sedangkan group cowok harus bermain di lapangan out door dekat parkir. Secara kualitas, gedung lapangan tim cewek lebih nyaman dan enak. Selain di lengkapi dengan AC, berbagai minuman gratis di sediakan di lapangan basket ini. Itu termasuk fasilitas sekolah.
         Kami para siswi dan empat cowok berjalan dari depan ruang tata usaha menuju lapangan basket. Penilaian di lakukan langsung oleh pak bejo, sedangkan tim cowok di nilai oleh asisten nya. pembagian tim pun dilakukan. Aku berdoa dan berharap semoga bara tidak satu tim dengan ku, walaupun kenyataan nya hati ku berkata lain.
         Doaku kali ini tidak terkabul. “Ya Tuhan, aku satu tim dengan bara.” terlihat murung wajah Glenta, menyaksikan bara satu tim dengan ku. Mata ku tak bisa lepas dari tubuh Bara. Badan nya begitu tegap. Dia hanya memakai kaos dalam berwarna hitam, mungkin karena dia belum tahu bahwa hari ini ada jadwal olah raga. Warna kaos yang kontras membuat Kulit nya yang putih terlihat semakin bercahaya. Otot-otot bisep di lengan nya menyembul menambah kesan macho pada diri bara. “Nina, andai kamu lihat cowok ini!” jerit ku dalam hati.
        Permainan akan di mulai, syukurlah aku dan glenta dalam kubu yang berlawanan. Aku akan susah bekerja sama dengan nya kalau kami menjadi satu tim. Kami hanya bermain 15 menit, karena ada empat tim. Jadi, hanya dua permainan sudah cukup. Aku di tim pertama berhadapan dengan tim ke empat, sedangkan tim ke dua melawan tim ke tiga. Tiap-tiap tim memiliki satu pemain cowok. Aku masuk di dalam tim yang lumayan bagus. Ada bara, ninda, gesta, dan si tomboy luna. Sedangkan lawan ku juga tidak bisa dibilang enteng, kelima pemain nya adalah glenta, sisil, inggrid, wita, dan satu cowok Noke yang kelima-limanya punya postur tinggi.
         Sebelum memulai pertandingan, kami masing-masing tim melakukan breifing. Bara mengambil alih untuk menentukan posisi kami di lapangan.
“oke sekarang kita bagi tugas!”
“Bella, karena kamu kurus dan tidak terlalu tinggi, kamu menjadi point guard.” Kata bara tegas
“jadi aku yang membawa bola dan memassing nya pertama kali?” tanya ku memastikan
“yups, bella” bara mengiyakan
“luna, kamu power forward. Fisik mu yang kuat akan mampu mendapatkan bola rebound.”
“aku posisi apa?” tanya ninda dan gesta hampir bersamaan
“kalian berdua di posisi small forward, harus fokus dan usahakan bola masuk ring!” jawab bara.
“oke, sudah jelas semua?” tanya bara kepada kami
“trus, kamu di mana ra?” tanya luna tiba-tiba
“center,” jawab bara singkat
“sebelum bermain, mari kita tos dulu,” saran ninda
“kalo aku bilang tim satu, kalian harus menjawab keras, oooooooooooyeah!” instruksi bara
Suara bara sangat kencang memekakan telinga. Dia  berteriak, “tim satuuuuuuuuuu!”
“oooooooooooooooo......yeah!” kami menyahut tidak kalah keras
         Suara peluit terdengar tanda permainan di mulai. Kami menempatkan diri di posisi masing-masing. Kami menggunakan model deffense 2-1-2, sedangkan untuk menyerang, model 1-2-2 yang kami pergunakan. Tim lawan sudah siap. Glenta dalam posisi point guard, seperti ku. Sungguh malas harus berhadapan dengan nya.
aku dan glenta maju di tengah lapangan untuk perebutan bola pertama. Pak bejo di tengah-tengah kami berdua dengan memegang bola di tangan kanan nya. aku sudah siap pasang kuda-kuda untuk melompat. Glenta pun demikian. Kami berdua sama-sama tegang. Keringat mengucur di dahi ku. Jantung ku memompa lebih cepat. “priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt” pak bejo melemparkan bola nya ke atas, seketika itu pertarungan di mulai. Kami berdua melompat di waktu yang bersamaan. Tangan kami berusaha menangkap bola. Ku hempaskan sekuat tenaga tangan kanan ku agar bola terlempar di area lawan. Tapi tangan glenta terlalu kuat menahan laju bola. Hingga bola berhasil melambung di areaku. Untung luna dengan gesit mengejar bola dan men-tribble bola ke arah lawan.
         Luna di block oleh sisil yang dengan ganas mencoba merebut bola. Sisil terus memainkan tangan panjang nya untuk bisa merebut bola. Luna kuwalahan.  Sebelum sisil berhasil merebut bola dari nya, dia memassing bola ke arah ku. Dengan susah payah ku tangkap bola. Kemudian Aku mentribble nya di tempat, untuk mengontrol laju bola dan melihat posisi paling enak untuk memassing bola. Glenta maju ke depan. Dia berdiri di hadapan ku dengan kuda-kuda yang kokoh. Belahan dada nya menyembul karena teng top yang di pakai nya melorot . aku tetap fokus. Ku lihat bara sudah mengangkat tangan nya pertanda minta untuk dipassing bola. Ku lewati glenta dengan tribble tangan kanan ku. Lalu ku passingkan bola ke arah tangan bara yang terangkat. Bola tertangkap, bara memutar tubuh nya dan melompat melempar bola. Laju bola sangat cepat. Dan “kruck” suara ring menyentuh bola. Kami pun mendapat score. Bara melayangkan senyum pada ku. “Tuhan, benar-benar manis,,”
         Sekarang bola berada di kubu glenta, sebagai point guard dia mentriblle bola dengan amarah. Mata nya bagai singa mencari umpan makanan nya. noke sebagai small forward hilir mudik menghindari blok dari nindi. Aku juga tak mau kalah, ku awasi semua gerik glenta dan berharap dapat merebut bola dari tangan nya. sial, aku tertipu. Glenta langsung memassing bola tanpa mentribble melalui ku. Dengan mudah Bola melayang ke arah noke. Glenta memassing atas bola karena  pstur ku yang tidak terlalu tinggi. Senyum licik terlihat di bibir nya. Noke melakukan drive, kemudian mencoba melempar bola. Akan tetapi tangan bara menyentuh shoot yang dilakukan noke. Bola melenceng dari ring. Semua forward berjaga-jaga di bawah, termasuk bara yang ada di bawah ring. semua menanti rebound dan bersiap menangkap nya. bola terpental dari papan ring, dan semua melompat untuk berebut. Saat melompat Gesta tersikut oleh wita. Dia berteriak kesakitan. Tidak ada yang peduli. Semua perhatian terfokus pada bola. Bara dengan tangan nya yang kekar mempunyai peluang besar menangkap bola. Berhasil. Dia mengamankan bola dari stealing Noke dan wita dengan memeluk erat bola. Ku bayangkan erat nya pelukan bara, seolah dapat merasakan kenikmatan nya. ku tepis bayangan itu, aku kembali fokus di permainan. Nindi dan Gesta dengan tenaga yang tersisa berlari di posisi penyerang. Aku tetap dengan posisi ku.
         Kelemahan ku adalah susah menangkap bola. Aku terlalu takut dan was-was saat bola meluncur ke arah ku. Jadi aku tidak pernah mengangkat lenganku untuk minta bola. Tapi, ku lihat tiba-tiba bara memasingkan bola ke arah ku. Aku gugup. Passingan nya terlalu kuat. Bola melaju dengan cepat. Aku tak bisa mengontrol nya. bola itu mendarat tepat di kepala ku. “dug” suara terakhir yang ku dengar. Setelah itu hanya gelap.
          Aku tersadar, ku lihat di depan ku sebuah tembok berwarna krem yang bersih. Aku masih dalam posisi terlentang tanpa bantal di sebuah sit bed yang ukuran nya persis selebar bahu ku. Kasur ini tidak terlalu empuk, karena gabus sebagai pengisi nya. ruangan ini seperti ber bilik-bilik dengan korden sebagai pembatas nya. aku melihat ke atas atap, ada sebuah lampu neon besar terpasang di bawah eternit yang cat nya sudah mulai luntur.
         Aku mengambil nafas panjang, mengingat kejadian terakhir yang ku alami. “bara,” kata ku pelan. Dia yang melempar bola dengan keras di kepala ku. Ternyata aku pingsan, dan ini pasti UKS. Baru kali ini aku masuk UKS, jadi merasa agak asing. Yang aku tahu hanya ruangan khusus orang sakit ini berada di sebelah kiri kelas 2.1 dan kanan ruang ini berdiri BP centre yang konon di takuti siswa. Karena merupakan tempat bagi siswa bermasalah.
        Tiba-tiba korden bilik ku  terbuka, ku lihat nina dan bara mendekati bed ku. Wajah mereka tampak kuatir. Bara langsung mendekat di samping ku, di susul nina yang berdiri di sebelah kirinya.
“gimana keadaan kamu bel?” tanya bara cemas
“aku gak papa kok.” Jawab ku dengan pipi memerah karena perhatian bara
“nin, mendingan kita pulang sekarang!” ajak nina lembut
“bukan nya kita harus ke BP centre, nin?” tanya ku kemudian
“aku tadi sudah ke sana, sudah beres masalah nya kok. Apalagi kamu lagi sakit, BP juga sudah ngijinin kita pulang!” penjelasan dari nina
“iya bel, lebih baik kamu pulang,” saran bara
         Aku menerima saran dari mereka berdua. Sebelum aku kembali ke kelas, nina memanggil bara. mereka berbincang begitu akrab. Samar-samar ku dengar percakapan mereka.
“kamu bara ya?” tanya nina
“dan kamu pasti nina!” balas bara
“bisa kau katakan cewek seperti apa kamu, aku sedikit bingung menilai mu!” lanjut bara
“aku cantik, cerdas, dan pandai memikat  cowok seperti mu!”
“wow,,, aku telah terpikat denganmu, nina!”
“hahahahahahaha,,,,,,” tawa nina manja, “kau pengendara corolla itu kan?”
“bagaimana kau tahu?”
“aku melihat sekilas wajah mu!”
“o ya?!” dengan muka mengejek, “sedih, vw-mu KO?”
“kali ini kamu beruntung cowok! Tapi lihat lain kali!” ancam nina dengan mendekatkan tubuh nya hampir tak berjarak dengan tubuh bara
        Aku tak kuasa melihat pemandangan itu, tubuh nina hampir bersentuhan dengan dada bara yang bidang. Jantungku seakan berhenti, rasa sedih tiba-tiba menggelayuti hati ku.
Bara pun membalas melayangkan lengan nya melingkar di punggung nina dan berkata, “berani mengancam ku cantik? Menarik tubuh Nina sampai benar-benar berhimpit di tubuh nya. ku lihat nina sangat menikmati perlakuan bara.
“oke, cukup!! Aku bisa mati lama-lama dengan cowok yang begitu menggoda.”
“aku juga, Nina. Rasanya bibir ku ingin menyentuh kulit mulus mu!”
“hahahahahaha, bukan kamu saja! Tapi semua cowok berhasrat seperti mu, bara.” percakapan terakhir nina dengan bara.
        Nina meninggalkan bara menuju kelas nya. bara berjalan menghampiri ku. Memegang tangan ku dan kami berjalan bersama menuju kelas. Selama berjalan aku tak mampu berkata apa-apa. Bayangan kemesraan nina dan bara menyeruak dan bertahta di benak ku. Jiwa ku Terasa seperti terluka oleh tusukan pisau hingga berdarah-darah.
         Sampai di dalam kelas, aku merapikan buku-buku ku dan memasukkan nya ke dalam tas. Seragam yang ku pakai juga aku masukkan. Dengan izin guru matematika yang sedang mengajar, aku keluar kelas dengan masih memakai kaos olah raga ku menuju parkiran. Ku lihat di sana sudah ada nina. Dengan melambaikan tangan ke atas dia memanggil ku. “bella ! ayo kita pulang!” aku tak menyambut. Hati ku masih terluka dengan kejadian tadi.

0 komentar:

Post a Comment