Andai Boleh Memilih



Saat itu hari senin.  Langit begitu cerah dengan matahari yang bersinar terang. Seterang hati ku saat itu. Senyum terulas di wajah ku. Dengan penuh semangat, aku menyambut hari baru, Hari dimana kali pertama aku memasuki dunia kampus. rasa bahagia menyeruak saat ku kendarai sepeda motor baru hadiah dari Ibu. 

“ini, sepeda motor kamu, pras!” kata ibu saat itu
“Alhamdulillah, makasih bu.” Jawab ku penuh syukur
“itu sebagai hadiah dari ibu.”
“hadiah?” tanya ku
“iya, gak mudah lho pras, bisa lolos SPMB.”
“makasih bu, aku sayang ibu.” Suara ku parau tanda terharu 

Pukul setengah tujuh aku bersiap berangkat kuliah, ku naikki si x (julukan motor supra x ku). Dengan mendendangkan lagu favorit, aku meluncur menuju kampus ku di Tembalang. Pukul delapan kurang seperempat aku sampai di kampus. Teknnik Kimia Undip merupakan Kampus yang besar dan megah namun, cat pada dinding-dinding nya sudah mulai mengelupas. Ku parkir si x di area parkir kampus. Pohon karsen yang tumbuh liar membuat parkiran ini selalu rindang, karena terhalang oleh sengatan matahari. 

Kimia analisa adalah kuliah pertama ku, di lantai tiga ruangan A.32. Dengan semangat yang ekstra aku menaikki tangga gedung A. Suasana ramai terlihat di ruangan ini. Banyak mahasiswa telah memenuhi hampir semua kursi. Hanya sisa kursi kosong di depan. Mau tak mau, aku harus mengisi nya. Disamping kanan ku ada mahasiswi dari tasik, lusti nama nya. Di sebelah nya lagi, aku lihat gadis berjilbab pink dengan baju bercorak bunga-bunga berwarna ungu. Gadis dengan senyum yang lebar itu begitu ramah kepada semua oranng. Aku pun tertarik mengenal nya. 

“boleh kenalan!” tanya ku sambil mengulurkan tangan
“aku nopita.” Menelungkupkan kedua tangan nya di depan dada
Aku kaget, dia tidak mau bersalaman dengan ku. “Sungguh tidak menghormati orang!” batin ku
“nama ku Pras,” balas ku
Itulah kali pertama aku berbicara dengan nya, mungkin bagi Nopita tidak ada arti apa-apa. Tetapi buat ku, itu hal yang spesial.

Kini aku sudah menempuh semester akhir, perasaan yang ada di hati ku belumjuga aku ungkapkan. Aku tidak cukup keberanian untuk mengutarakan perasaan ku.
“ngapain kamu menunggu orang yang tidak pasti!” kata teman ku suatu hari
“dia belum tahu perasaan ku!” kata ku
“bullshit! Dia emang gak mau pacaran! Haram!”
“aku tahu itu, tapi aku gak harus jadi pacar nya khan?”
“sadar fren, ada sandri yang tulus mencintai mu!”
“sandri?”
“jangan pura-pura gak tahu, kamu!”
“aku takut menyakitinya, aku belum sepenuh  nya bisa melupakan nopita!”
“tapi kamu harus mencoba! Dia lebih baik buat mu!!”
“sudahlah, kepala ku pening dengan semua ini.”

Semalam suntuk aku memikirkan kata-kata sahabat ku anwar, aku mencoba memahami kembali apa yang dia ucapkan. Memang benar, jika sekarang aku dekat dengan sandri. Perhatian nya, senyum nya, dan keikhlasan nya membuat ku dekat dengan nya. Tapi, perasaan ini tidak seperti perasaan ku ketika bersama nopita. Jika memang kata-kata pujangga bahwa cinta bisa dipelajari, aku akan berusaha belajar.

Nopita adalah seorang gadis yang menjaga  izzah nya sebagai akhwat. Tak heran jika dia hampir tidak pernahbersentuhan dengan orang yang bukan muhrim nya, kecuali tanpa sengaja. Pacaran bagi nya adalah sesuatu yang banyak mendatangkan mudharat. Prinsip hidup yang selalu teguh ini di pegang nya hingga kini. Mana mungkin aku bisa mendekati nya, kalau aku sendiri merasa tak sepadan dengan nya. Kepercayaan diriku sedikit demi sedikit terkikis oleh waktu. Di puncak rasa tak berdaya ini, ada sandri yang selalu menyemangati dan ada untukku.

“mas pras harus semangat!” ucap sandri memotivasi
“aku sedih san!” jawab ku lemah
“kita masih punya Alloh mas, tidak ada yang perlu dikuatirkan!”  senyum manis sandri menghiasi
“iya san, aku harus bangkit! Aku tahu Alloh selalu memberikan yang terbaik untuk ku!”
“semangat!! Dengan mengangkat kepalan tangan nya
Aku pun menjawab tidak kalah keras, “semangat!”


Hari berganti hari, aku harus mengambil keputusan. aku terus berfikir tentang keputusan yang akan aku ambil. Aku tak mungkin menunggu Nopita. Dia seperti bintang yang jauh di angkasa dan aku tidak sanggup menggapai nya, sedangkan  sandri, walaupun dia tidak seperti bintang, namun, cahaya hati nya mampu menembus jiwa ku yang gelap.

Keputusan ku untuk belajar mencintai sandri sudah bulat. Aku berencana mengatakan nya malam ini. Ada ketegangan yang melanda jiwa. Degup jantung ku tak dapat ku kendalikan. Begitu keras, hingga aku mampu mendengar tiap detak nya. inilah detik-detik yang menentukan hidup dan cinta ku.
 aku berjanji bertemu dengan sandri di sebuah kafe kecil. Bismillah ku ucapkan berkali-kali untuk mengusir ketegangan ku. Dia pun datang.

“sudah lama mas pras?” tanya nya sambil duduk di kursi
Kami duduk berhadap-hadapan, rasa panas di pipi ku mulai terasa. Aku memang pemalu untuk urusan wanita.
“gak kok, barusan nyampe.” Kata ku berbohong
“ada apa ya mas? Kok tumben ngajak makan gini!”
“ee,,,mau ngobrol aja sama kamu!” kata ku gugup, “lagian sudah beberapa minggu kita gak ketemu khan?”
“iya, sebenar nya aku nunggu sms dari mas pras lho! Tapi gak pernah ada, percuma!” wjah yang kecewa terlihat jelas
“sorry, aku lagi banyak urusan, jadi gak sempat hubungi kamu.”
Aku melanjutkan
“o, ya san. Aku mau ngomong penting sama kamu!”
“penting? Tentang apa ya mas?”
“san,,,a,,a,,k,k,,k,uu,,,,,” kata-kata ku terputus karena gugup
“kamu kenapa mas?”
“aku mau belajar mencintai kamu!” dengan memejamkan mata, akhir nya kata-kata itu meluncur dari bibir ku. Aku tak sanggup melihat ekspresi wajah sandri. Mata ku masih tertutup.
Ku beranikan membuka mata pelan-pelan. Aku kaget.sandri menangis. Aku tak mengerti arti tangisan itu. Apakah itu air mata bahagia? Atau tanda kesedihan?
“ada apa san? Kamu menangis?” tanya ku agak takut
“kenapa baru sekarang mas?” suara isak sandri
“aku,,,masih ragu! Tapi sekarang aku sudah memilih!” dengan meyakinkan
“aku tuh, nunggu mas, nunggu! Kamu gak pernah tahu hati ku! hati ini sakit tiap kau sebut nama nopita! Sakit mas! Sakiiit!” dengan tangis yang semakin menjadi
“maaf, san! Aku tak ber,,,,” sebelum aku selesai bicara, sandri memotong
“sudah cukup mas, semua dah berakhir!”
“berakhir?”
 “Aku memang mencintai mas pras, bahkan sampai detik ini. Tapi aku sudah menjadi milik orang lain!”
“apa maksud mu san?” tanya ku bingung
“aku sudah menjalin hubungan dengan orang lain!”
“siapa, san?”
“sahabat musendiri mas.” Mengusap air mata yang mengalir deras, “ Mas andi!” lanjut nya pelan
“kenapa san?, bukan kah kamu mencintai ku?”
“aku tak sanggup lagi menunggu mu mas, sudah lama hati ini terombang-ambing  oleh sikap mu! ”
“terlambat kah?” kataku lemah
“aku tak tahu, hanya takdir Alloh yang bisa menjawab, mas.” kata sandri sambil beranjak pergi

Sandri meninggalkan aku sendiri di cafe itu. Ingin rasa nya aku meneteskan air mata, tapi aku tahan. Ramai nya suasana kafe tak sanggup mengusir sepi hati ku. Ya Alloh, Aku terlambat! 

#Saat cinta mulai datang untuk menyapa, ternyata semua harus berakhir. Aku  bisa terima  karena itu semua sudah takdir! Entah, kemana lagi takdir akan membawa ku pergi,,,,




0 komentar:

Post a Comment