other side part 1


          Hujan masih menampakkan kekuasaan nya, petir menyambar bagai pantulan elektron bertumbukan menghasilkan tingkat kuantum yang tak jelas. Begitu juga dengan kondisiku sekarang, hanya internal energi  yang sempat tersisa dalam sel darahku. Pertengkaran malam itu menyeruak dalam benak. Sudah berhari-hari ingin ku bakar memori ini, tetapi nihil. Semakin jauh aku buang peristiwa malam itu, semakin dalam menusuk jantungku.
“aku bukan perempuan lemah pi, aku tak sudi kau perlakukan seperti ini.”
“manis, apa yang ku lakukan padamu adalah kenikmatan. Persetan kau menolak, desahanmu menjelaskan semuanya manis!” berjalan mendekatiku. Hampir tak ada jarak antara tubuh kami, lengan berototnya membelai rambutku. Muak dan merinding seluruh tubuhku.
“tutup mulutmu, apa kau masih belum puas? Pukulan di tubuh mami, tamparan di pipi mami, dan sekarang kau,,,” terlalu berat untuk meneruskan kata-kataku “apa belum puas kau iblis!!” teriakku penuh emosi dan berusaha menghindari kontak fisik dengan papi.
“begitu cara kamu membalas cinta papi manis? Mau papi ajak bermain- main lagi ha?” desahan papi menggoda amarahku untuk lari. Bibirnya tepat menyentuh telingaku, wangi mint yang khas kini tak lagi menyegarkan, berubah menakutkan.  Jijik terlalu lama dekat dengan iblis ini.
“arghhhh,” ku dorong tubuhnya yang tegap dan kekar. Ku kerahkan sisa-sisa tenaga yang ada, ku ubah ketakutanku menjadi kekuatan. Serpihan-serpihan bayangan kekejaman papi menguap mengisi  seluruh ruangan. Otakku memutar cara untuk lepas dari cengkraman papi, semua ruangan rumah ini hampir aku hafal, aku meronta, memukul-mukul lengan papi dengan kekuatan yang masih ku miliki. Tenaga yang ku miliki tidak sepadan dengan cengkraman   lengan papi. Aku masih tetap berusaha lepas. Ku angkat kaki ku ke arah pangkal paha nya. Dia meronta keras dengan tangan memegang sumber sakit yang kaki ku buat. Kurang dari sepuluh detik aku lolos dari tubuh papi. Jantungku berdetak  tak karuan. Nafasku tersenggal. Aku lari menuju lorong dapur, lemari gudang adalah pilihan tepat.  Pikirku. Aku masuk ke lemari, pengap dan gelap. Tapi kekuatiranku masih memuncak, iblis belum sepenuhnya pergi.
“manis,,mau ajak papi bermain petak umpet ya? Masih suka dengan tubuh papi khan? Ayolah manis, kita akhiri permainan ini dengan kenikmatan.”
Ku lihat bayangan papi dari sela pintu lemari, Jantungku memompa darah dengan cepat. Tanganku meraba-raba dalam lemari, berharap ada sesuatu yang dapat ku jadikan senjata. “mampus,” batinku. Tak ada sama sekali senjata,  dan bayangan papi semakin mendekat. Bayangan itu tepat di bawah lemari, tersirat senyum puas di bibirnya.
“manis, jangan lari sayang. Papi menemukanmu, ayo kita mulai bermain.” Membuka pintu sebelah kiri lemari, desain lemari yang tersusun dua bagian ini menguntungkan ku. Aku harus kabur dari sini. Nafasku memburu, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitku, aku benar-benar takut.
“braaakk,,,” suara derit pintu karena tersambar  tubuhku, dengan gesit aku berlari menuju tangga lantai dua, sayang tanganku berhasil di kunci oleh genggaman kuat papi. Dia menarikku dengan kasar, membenamkan tubuhku dalam dekapan kuatnya, dadanya yang bidang menyesakkan rongga paruku. Tangannya membelai kasar rambut ku. Aku merintih ketakutan, tetapi dia sangat menikmati tiap inci rambutku, tiap jengkal tubuhku, dan mengulum bibir ku. Nafas mint nya semakin memuakkan, bau keringatnya menaikkan emosi ku. Aku berteriak, tapi sia-sia. Tiada batas lagi antar tubuh kami, seolah ketakutanku menambah kenikmatan papi. Aku berontak dan teriak sebisa ku..
“aaaarghhh, lepaskaaaaan !!!!”
Aku terbangun, ternyata hanya mimpi. Berapa butir obat penenang lagi  yang harus ku telan untuk melupakan peristiwa malam itu, semua seakan tidak memiliki efect di otakku. Memori  itu terus datang dan mengganggu jiwa ku. aku fikir semua telah beres, tapi malah sebaliknya.
 Tubuhku masih  lunglai di wilayah kekuasaanku, begitulah aku menyebut kamarku. Karena hal yang tak termaafkan nomor satu adalah memasuki privasi ku. Aturan main ini juga berlaku untuk keluarga ku. Mimpi ini menguras banyak tenaga, seperti memutar film di otakku, dan sialnya akulah tokoh utamaya.
Selain mimpi buruk itu, aku juga harus menghadapi terror menyeramkan dari seseorang bertopeng dari beberapa minggu yang lalu. Seolah dia menginginkan nyawa ku. Siapa orang yang mampu menyusup rumah ini? Padahal rumah ini telah di rancang papi dengan memperhatikan faktor keamanan nya. gembok gerbang pun selalu aku kunci. Terasa     tak mungkin jika orang itu melompat melalui pagar rumah. Karena tembok itu terlalu tinggi untuk di naiki, dan atas tembok itu dengan merata di pasang mata pisau yang tajam. Kaki siapa pun akan terluka jika menginjak nya. kecuali mahluk halus. Tiba-tiba kulit ku merinding memikirkan kemungkinan ini.
Aku perlu teman cerita, ketakutan ku mengganggu ku. Aku butuh Nina, sahabat karibku. Cepat-cepat ku cari samsung corby ku, ku sentuh layar phonebook dan menekankan jariku di layar bertuliskan my soulmate. “calling my soulmate”, beberapa detik kemudian tulisan itu yang muncul di layar.
“nina, hallo. Nin dengar suaraku?”
“denger honey, pagi buta gini panik amat. Ada masalah?” suara seksi nina mengudara
“kamu harus ke rumah aku sekarang, aku takut nin! Aku di teror. Aku kuatir dia datang lagi!” aku sedikit panik
“dia siapa? Lelaki bertopeng seksi itu?” sambil tertawa nakal
“tidak lucu nin, pokonya aku tunggu jam enam, berangkat sekolah aku ceritakan semua!”
“tunggu aku ya !,” sambil sedikit mendesah.
Aku matikan handphonku dengan sedikit kesal, nina memang jago dalam segala hal. Masalah seberat apapun yang aku hadapi, akan dia babat habis sampai akar-akarnya. Terkadang aku kagum dengan ketenangan dan kecerdasan otaknya.
 Sempat merasa malas untuk beranjak ke sekolah, tetapi sudah tiga hari aku tidak masuk. Aku urungkan niatku untuk bolos, lagian diluar terasa lebih aman daripada di rumah. “huh,,,,hari sibuk sekolah” gerutuku dalam hati.
Sebelum berkemas ke sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Dan itu telah menjadi schedule wajib harianku. Kejadian akhir-akhir ini memakan bobot tubuhku, kira-kira susut hampir tiga kilo, tubuhku yang biasanya ramping, kini makin kurus tanpa daging. Jika dihitung berat ideal aku harusnya seberat 58 kilo, sekarang aku hanya seberat 52 kilo. Seperti penderita kurang gizi.
Aku berputar-putar di cermin, tetapi tidak pernah ku temukan keindahan sedikitpun di tubuhku. Rambut yang ku idamkan keriting atau sedikit ikal, ini malah lurus dan kaku ke bawah. Saking kakunya, aku sangat berterima kasih pada hukum gravitasi, kalau hukum ini tidak berlaku, semua rambutku pasti sudah tegak ke atas. Ku pandangi bibirku yang tebal dan penuh, kesan eksotis selalu menempel di bibirku. Inilah kelebihanku, “berlebihan bibir.” Canda teman-temanku. Dengan formasi organ yang minus ini, mana ada yang bernafsu denganku. Apalagi aku tidak segaul teman-temanku di kelas, hanya orang yang tidak normal dan bermasalah yang mungkin tertarik pada spesies seperti aku.
            Aku tertegun. Bayangan dalam cermin membuyarkan lamunan ku. Tiba-tiba lelaki bertopeng itu muncul di cermin. Bayangan itu nyata. Rahangnya terangkat, seperti tersenyum. Dia menatap ku tajam, tubuhnya dibalut kain serba hitam. Kain longgar yang besar, seperti baju pastor jaman romawi kuno. Dipinggangnya hanya di pitakan tambang merah untuk ikat pinggang. Dia mengikat tidak terlalu kencang. Nyaris tidak dapat ku  prediksikan jenis kelamin sosok ini. Dia mengelabui semua orang dengan baju longgarnya.
 Ku urungkan niat ku untuk menengok ke belakang. Jantungku berdegup kencang. Nafasku tersenggal. Dia semakin jelas di belakang pantulan bayangan ku. Benar-benar menakutkan. Rambutnya sedikit ikal. Dia mendekati ku perlahan. Aku masih berdiri kaku. Di depan cermin meja hias kamarku dia mulai membuka topengnya. Dia tersenyum dendam, Bibir indahnya yang ranum dengan sedikit usapan merah darah membuat senyumnya semakin mengerikan. Sorot matanya penuh kemarahan. Tidak mungkin, teriakku.
Dia tertawa sangat keras, tertawa penuh kebencian dan nafsu. Hingga gendang telingaku hampir pecah. Ku tutup lorong telingaku dengan jari telunjukku, sambil ku pejamkan mata. Berharap ini tidak nyata dan ilusiku saja. Dan berhasil, bayangan itu musnah.
Ini semua tidak mungkin. Aku telah sakit jiwa. Aku berlari sambil menarik tas punggung ku. Ku turuni tangga yang gelap karena lampu sengaja kumatikan. Dingin  dan kabut menjadi kombinasi yang janggal. Aku melirik jam dinding di ruang makan, kaca-kaca pembatas dapur dan taman di belakang terlihat berembun, dan membentuk seraut topeng yang tidak jelas. Rumah ini benar-benar menakutkan. Aku telah siap dengan mobil antik ku, vw beetle tahun 74. Mobil merah ini peninggalan kakekku. Nina menjulukinya si wewe. Aku menunggu di mobil sambil memanasi mesin wewe.
Tidak biasanya Nina telat ke rumahku, jam enam teng pasti sudah nyelonong ke kamarku. Tidak jarang dia juga mandi di kamar ku dan tidak menutup pintunya, walhasil seluruh tubuhnya dapat ku lihat dengan jelas. Memang perempuan aneh.
Kadang terbesit rasa iri jika melihat nina. Dia cerdas, cantik, dan supel. Semua yang aku inginkan ada padanya. Nina adalah perempuan yang perfect. Tubuhnya langsing dipadu dengan warna kulit yang putih dan mulus. Bibir indahnya tidak berlebih, sedikit usapan lipgloss transparan membuat senyumnya semakin memesona.
Dialah Nina, sahabat karib ku. Tidak ada yang lebih dekat melebihi aku dengan perempuan bernama Nina, kami kenal sejak SMP. Ketika papi mulai berkelakuan seperti iblis. Dulu, kita satu sekolah, bahkan selalu satu kelas. Kami seperti gembok dan kunci yang tidak terpisahkan, berangkat dan bermain bersama, kadang tidur bersama, dan mandi bersama. Dia juga suka menginap di rumah ku. Dia perempuan yang sangat misterius. Banyak rahasia di hidupnya yang tidak boleh aku ketahui, padahal semua hal terkecil dalam hidupku dia tahu. Dia sahabat yang mengerti dan selalu ada untuk ku.
 “hai sweety, ngelamunin aku ya? cabut yuk!” sapa Nina membuyarkan lamunanku
“nin, aku harus cerita sekarang!” ku usahakan setenang mungkin, “sosok bertopeng itu tak berhenti menghantui ku.”
“berita itu lagi bell,” berkata serius “oke aku ngerti, sekarang kamu harus minum obatmu dulu!” sambil memberikan satu kapsul obat penenang , “tenangkan pikiranmu dulu sayang.”
“thanks nin,” sambil menelan kapsul itu tanpa minum.
“oke ambil nafas panjang dan buang,” perintah nya lembut kepadaku, “dengar bella. Tidak ada sosok bertopeng di rumahmu, itu ha,,,”
Sebelum nina meneruskan perkataan nya, ku potong dengan nada interupsi, “hanya ilusiku saja? Plesae nin, its real dan aku gak gila!” kemarahan mengisi nyawaku
“oke bell, jika memang dia nyata dan ada. Kita harus selidiki, siap menjadi mata-mata??” dengan penuh semangat dan rasa penasaran. Nina memang selalu berani mengambil keputusan, walau terkadang aku merasakan dia menyeret ku ke jalan yang berbahaya.
“sangat berisiko nin, apa tidak hubungi polisi aja?”
“polisi hanya kita butuhkan saat darurat. pastinya akan ada risiko yang mengasyikkan dan menegangkan.” dengan Memandangku tajam,”Seperti puncak kenikmatan kita.” Kata-kata nina menghipnotis ku
“ok.” Jawab ku lemah
Wewe dan kami meninggalkan garasi rumah kuno ku tepat pukul 06.15. Masih aman untuk dikatakan hampir telat. Sekolah ku jauh dari rumah, bisa dibilang perbatasan kota. Aku di kota Demak dan SMA ku di kota semarang. Kalau di jalan tidak ada masalah perlu waktu 45 menit untuk sampai,  Ku tengok rumahku sebelum kami jauh, mengingat kembali kenangan mami yang selalu melambaikan tangannya setiap aku berangkat.
 Rumah ku berada di dekat persawahan penduduk, tidak ada tetangga, rumah warga yang paling dekat berjarak tiga kilo meter. Itupun kalau masih bisa disebut tetangga. Tidak heran jika kami sanggup menaikkan spidometer sampai 80 km/jam karena jalan aspal di desa ini sangat sepi. Sisi kanan dan kiri jalan ini hanyalah sawah dan beberapa rumah penduduk. Nyaris setiap pagi desa ini dibalut kesunyian, desa sendangguwo yang dingin dan selalu ditemani kabut menambah catatan ketakutan di  memori ku.
Obat yang disuguhkan nina benar-benar mujarab, kurasakan ketenangan yang sangat dalam diriku. Hanya kenikmatan dan keintiman kami berdua yang ku rasakan. Benar-benar tenang dan indah bersama nina. Inilah yang selalu kurasakan bersama nya.



0 komentar:

Post a Comment