#terinspirasi kisah kumaeroh (bukan nama sebenar nya) teman cuci darah ku.
Hidup hanya sekali, mimpi-mimpi tak pernah berhenti mencoba menyusup dalam relung gelap hidup ku. Seperti kilatan cahaya yang Sungguh sulit ku raih. Pendar-pendar sinarnya seolah menertawakan kelemahan ku. Begitu angkuh nya mimpi-mimpi itu.
Hidup ku Sebenarnya tidak terlalu gelap, namun hati ini masih belum bisa menerima takdir demi takdir yang menghantam ku. Aku memang manusia lemah, Apapun daya yang ku lakukan, sekeras apapun usaha yang kucoba, tidak akan berarti apa-apa tanpa izin Tuhan. Aku mulai muak dengan ketetapan itu.
Rasa benci ku terhadap ketetapan Tuhan ini tumbuh karena Nasib yang tidak pernah berpihak padaku. Aku bosan dengan hidup ku yang selalu kekurangan. Aku hanya ingin bisa meraih mimpi-mimpi ku. Namun, Keadaan ekonomi keluarga yang buruk memaksa ku untuk menghentikan sekolah.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, aku harus membantu emak untuk mencari nafkah demi adik-adik ku. Rasa sesal dan sedih menyeruak ketika aku melihat anak seusiaku dengan riang pergi ke sekolah. Mereka saling menyapa satu sama lain, menanyakan PR, atau hanya sekedar bertanya kabar. Sedang aku di sini, hanya seorang pekerja bangunan yang setiap hari harus mengangkat adukan pasir dan kerikil. Sungguh kenyataan yang menyakitkan.
Aku dua bersaudara, Kedua adik ku perempuan. Semua masih berstatus siswa SMP negri di desa ku. Wardah, adalah adik ku yang nomor dua. Dia masih kelas tiga, sedangkan kodriah, si bungsu, masih duduk di bangku kelas satu. Aku dan emak bekerja keras untuk bisa menyekolahkan mereka, karena Bapak sudah lama meninggal sejak umur ku delapan tahun.
Terkadang sempat terbesit iri dalam hati ketika melihat adik-adik ku. Mereka berparas cantik dan bertubuh tinggi semampai, walaupun masih SMP, bentuk tubuh kedua adik ku ini sudah mulai terlihat. Tidak seperti diriku yang agak cebol dan jauh dari cantik. Rambutku yang keriting dan bibir ku yang sangat tebal membuat aku muak bila melihat bayangan ku sendiri di cermin. Ingin rasanya aku iris saja bibir ini. Belum lagi, kulit ku yang gelap dan kasar akibat terbakar panas matahari saat bekerja. Dengan fisik yang seperti ini, Bagaimana mungkin ada lelaki yang mau melirik ku?
Hari demi hari umpatan-umpatan terus aku ucapkan. Malah kian menjadi-jadi. Keadaan ini diperparah karena Kekesalanku melihat adikku ingin mendahului ku untuk menikah.
“mbak, kum. Boleh kan?” tanya Wardah takut, “gak mungkin aku menunggu mbak!”
“gak mungkin? Karena aku belum punya calon?” teriakku tempramen
“tapi, mas rama sudah tiga kali melamar ku mbak!” alasan apa lagi yang harus keluarga kita samapaikan?” jelas wardah tenang
“itu kan tugas nya emak! Ngapain kamu yang repot?”
“sudahlah nduk, nanti terima saja kalo rama ke sini lagi!” kata emak kepada Wardah
“emak gimana to!” tanpa sadar mata ku berair
“Kum, sing ikhlas to, restui adekmu iki nikah, kok malah marah-marah!” kata emak bijak
“emak memang gak pernah ngerti!” aku pergi menunju kamar dengan tangis yang tak terbendung lagi
Sekali lagi, Takdir berjalan tanpa menghiraukan perasaan ku. Tepat tiga hari setelah pertengkaran ku dengan emak, Wardah menikah. Aku bersikeras tidak mengikuti acara pernikahan nya. Hati ku tak cukup kuat mendengarkan obrolan tetangga tentang ku. Telingaku sudah terlalu sering mendengar ocehan-ocehan mereka tentang keluarga ku.
Begitu beruntung nya wardah, selain ditakdirkan berwajah cantik, dia juga mendapatkan suami yang kaya. Tiba-tiba mataku tak mampu menahan tangis. Melihat bentuk wajah ku yang terpantul jelas di cermin kamar. "Apakah aku bisa seberuntung kamu Wardah?" Dalam keheningan hati aku meminta, “Tuhan, berikan lah jodoh untuk ku”
Sekarang umurku sudah berjalan 34 tahun, tetapi belum juga ada lelaki yang melamar ku. Jangan kan melamar, mendekati pun tidak ada. Aku selalu dirundung kesedihan, apalagi Semenjak Kodriah menikah karena sudah hamil satu bulan, Aku semakin labil, emosi yang tidak beralasan sering membuat kuwalahan emak. Puncak nya pada siang yang mendung itu, aku bertengkar hebat dengan emak. Hanya karena emak menyampaikan keinginan nya agar aku segera menikah. Disaat emosiku memuncak, tiba-tiba aku tersungkur lemah. aku jatuh dan sakit. Tubuh ku tak berdaya sama sekali. Dengan ambulance, Aku di larikan di Rumah sakit terdekat. Dokter mulai memeriksa, Dia juga mengambil semple darah ku dengan suntikan berkali-kali. Aku di opname di ruangan kelas bawah, mengingat ekonomi keluarga ku yang buruk. Hasil laboratorium selesai nanti sore, dan hasil itu yang akan menunjukkan apa sebenar nya penyakit ku.
“anda, harus cuci darah mbak !” kata dokter sore itu
“apa? Cu...cu...ci...da...rah?” jawab ku tak percaya
“iya, anda sakit gagal ginjal terminal, yang mengharuskan pasien nya untuk cuci darah seumur hidup!”
“oh Tuhan, ini kah Takdir-Mu?” tangisku tak tertahan
“berapa biaya cuci darah, dok?” tanya emak
“sekali cuci darah sekisar satu juta bu, itu belum termasuk obat-obatan rutin yang perlu di minum dan injeksi hormonal.” Terang dokter
Aku tak sanggup berkata-kata, air mata ku menetes dengan deras. Begitu pula dengan emak. Dia memeluk ku dengan erat, seakan ingin menyalurkan sisa-sisa tenaga yang masih dia punya. “Bagaimana bisa aku mendapatkan uang sebanyak itu mak?”
"Tuhan tidak adil, mengapaaaaaaa Tuhan!!" teriak ku kencang
“mak, apa Tuhan tidak sayang pada ku? mak, Jawaaaaab mak! jawaaaab!!”
Emak tak menjawab apa-apa, hanya suara isakan tangis yang terdengar
Aku meronta, berteriak, menangis sekencang-kencang nya yang ku bisa. Aku belum bisa menerima putusan Tuhan ini yang bagiku kejam. Dalam tangis, hati ku berucap,
“Tuhan, Engkau telah takdirkan aku menjadi perempuan hina, jauh dari kaya, dan kini, Engkau beri aku penyakit yang aku tak mampu menanggung nya. Lengkap sudah penderitaan ku Tuhan, apakah ini balasan untuk ku karena tidak pernah mensyukuri nikmat Mu? Apakah ini balasan ketidak ikhlasan ku menjalani hidup? Jawab Tuhan!!”
Ku dengar sayup-sayup azan menggema merdu di telingaku. Aku Teringat terakhir menghadap Tuhan adalah saat aku masih duduk di bangku SD. Terekam jelas waktu itu, begitu bahagia nya aku mendapat mukena baru dari emak, sebagai hadiah ulang tahun ku. aku selalu memakai nya saat menghadap-Mu Tuhan. kini, ternyata Aku telah lalai dengan semua keluh kesah ini. "Maaf Tuhan, aku telah melupakan Mu selama ini. Maaf Tuhan, dan kini Engkau telah panggil aku kembali.......”
Hidup hanya sekali, mimpi-mimpi tak pernah berhenti mencoba menyusup dalam relung gelap hidup ku. Seperti kilatan cahaya yang Sungguh sulit ku raih. Pendar-pendar sinarnya seolah menertawakan kelemahan ku. Begitu angkuh nya mimpi-mimpi itu.
Hidup ku Sebenarnya tidak terlalu gelap, namun hati ini masih belum bisa menerima takdir demi takdir yang menghantam ku. Aku memang manusia lemah, Apapun daya yang ku lakukan, sekeras apapun usaha yang kucoba, tidak akan berarti apa-apa tanpa izin Tuhan. Aku mulai muak dengan ketetapan itu.
Rasa benci ku terhadap ketetapan Tuhan ini tumbuh karena Nasib yang tidak pernah berpihak padaku. Aku bosan dengan hidup ku yang selalu kekurangan. Aku hanya ingin bisa meraih mimpi-mimpi ku. Namun, Keadaan ekonomi keluarga yang buruk memaksa ku untuk menghentikan sekolah.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, aku harus membantu emak untuk mencari nafkah demi adik-adik ku. Rasa sesal dan sedih menyeruak ketika aku melihat anak seusiaku dengan riang pergi ke sekolah. Mereka saling menyapa satu sama lain, menanyakan PR, atau hanya sekedar bertanya kabar. Sedang aku di sini, hanya seorang pekerja bangunan yang setiap hari harus mengangkat adukan pasir dan kerikil. Sungguh kenyataan yang menyakitkan.
Aku dua bersaudara, Kedua adik ku perempuan. Semua masih berstatus siswa SMP negri di desa ku. Wardah, adalah adik ku yang nomor dua. Dia masih kelas tiga, sedangkan kodriah, si bungsu, masih duduk di bangku kelas satu. Aku dan emak bekerja keras untuk bisa menyekolahkan mereka, karena Bapak sudah lama meninggal sejak umur ku delapan tahun.
Terkadang sempat terbesit iri dalam hati ketika melihat adik-adik ku. Mereka berparas cantik dan bertubuh tinggi semampai, walaupun masih SMP, bentuk tubuh kedua adik ku ini sudah mulai terlihat. Tidak seperti diriku yang agak cebol dan jauh dari cantik. Rambutku yang keriting dan bibir ku yang sangat tebal membuat aku muak bila melihat bayangan ku sendiri di cermin. Ingin rasanya aku iris saja bibir ini. Belum lagi, kulit ku yang gelap dan kasar akibat terbakar panas matahari saat bekerja. Dengan fisik yang seperti ini, Bagaimana mungkin ada lelaki yang mau melirik ku?
Hari demi hari umpatan-umpatan terus aku ucapkan. Malah kian menjadi-jadi. Keadaan ini diperparah karena Kekesalanku melihat adikku ingin mendahului ku untuk menikah.
“mbak, kum. Boleh kan?” tanya Wardah takut, “gak mungkin aku menunggu mbak!”
“gak mungkin? Karena aku belum punya calon?” teriakku tempramen
“tapi, mas rama sudah tiga kali melamar ku mbak!” alasan apa lagi yang harus keluarga kita samapaikan?” jelas wardah tenang
“itu kan tugas nya emak! Ngapain kamu yang repot?”
“sudahlah nduk, nanti terima saja kalo rama ke sini lagi!” kata emak kepada Wardah
“emak gimana to!” tanpa sadar mata ku berair
“Kum, sing ikhlas to, restui adekmu iki nikah, kok malah marah-marah!” kata emak bijak
“emak memang gak pernah ngerti!” aku pergi menunju kamar dengan tangis yang tak terbendung lagi
Sekali lagi, Takdir berjalan tanpa menghiraukan perasaan ku. Tepat tiga hari setelah pertengkaran ku dengan emak, Wardah menikah. Aku bersikeras tidak mengikuti acara pernikahan nya. Hati ku tak cukup kuat mendengarkan obrolan tetangga tentang ku. Telingaku sudah terlalu sering mendengar ocehan-ocehan mereka tentang keluarga ku.
Begitu beruntung nya wardah, selain ditakdirkan berwajah cantik, dia juga mendapatkan suami yang kaya. Tiba-tiba mataku tak mampu menahan tangis. Melihat bentuk wajah ku yang terpantul jelas di cermin kamar. "Apakah aku bisa seberuntung kamu Wardah?" Dalam keheningan hati aku meminta, “Tuhan, berikan lah jodoh untuk ku”
Sekarang umurku sudah berjalan 34 tahun, tetapi belum juga ada lelaki yang melamar ku. Jangan kan melamar, mendekati pun tidak ada. Aku selalu dirundung kesedihan, apalagi Semenjak Kodriah menikah karena sudah hamil satu bulan, Aku semakin labil, emosi yang tidak beralasan sering membuat kuwalahan emak. Puncak nya pada siang yang mendung itu, aku bertengkar hebat dengan emak. Hanya karena emak menyampaikan keinginan nya agar aku segera menikah. Disaat emosiku memuncak, tiba-tiba aku tersungkur lemah. aku jatuh dan sakit. Tubuh ku tak berdaya sama sekali. Dengan ambulance, Aku di larikan di Rumah sakit terdekat. Dokter mulai memeriksa, Dia juga mengambil semple darah ku dengan suntikan berkali-kali. Aku di opname di ruangan kelas bawah, mengingat ekonomi keluarga ku yang buruk. Hasil laboratorium selesai nanti sore, dan hasil itu yang akan menunjukkan apa sebenar nya penyakit ku.
“anda, harus cuci darah mbak !” kata dokter sore itu
“apa? Cu...cu...ci...da...rah?” jawab ku tak percaya
“iya, anda sakit gagal ginjal terminal, yang mengharuskan pasien nya untuk cuci darah seumur hidup!”
“oh Tuhan, ini kah Takdir-Mu?” tangisku tak tertahan
“berapa biaya cuci darah, dok?” tanya emak
“sekali cuci darah sekisar satu juta bu, itu belum termasuk obat-obatan rutin yang perlu di minum dan injeksi hormonal.” Terang dokter
Aku tak sanggup berkata-kata, air mata ku menetes dengan deras. Begitu pula dengan emak. Dia memeluk ku dengan erat, seakan ingin menyalurkan sisa-sisa tenaga yang masih dia punya. “Bagaimana bisa aku mendapatkan uang sebanyak itu mak?”
"Tuhan tidak adil, mengapaaaaaaa Tuhan!!" teriak ku kencang
“mak, apa Tuhan tidak sayang pada ku? mak, Jawaaaaab mak! jawaaaab!!”
Emak tak menjawab apa-apa, hanya suara isakan tangis yang terdengar
Aku meronta, berteriak, menangis sekencang-kencang nya yang ku bisa. Aku belum bisa menerima putusan Tuhan ini yang bagiku kejam. Dalam tangis, hati ku berucap,
“Tuhan, Engkau telah takdirkan aku menjadi perempuan hina, jauh dari kaya, dan kini, Engkau beri aku penyakit yang aku tak mampu menanggung nya. Lengkap sudah penderitaan ku Tuhan, apakah ini balasan untuk ku karena tidak pernah mensyukuri nikmat Mu? Apakah ini balasan ketidak ikhlasan ku menjalani hidup? Jawab Tuhan!!”
Ku dengar sayup-sayup azan menggema merdu di telingaku. Aku Teringat terakhir menghadap Tuhan adalah saat aku masih duduk di bangku SD. Terekam jelas waktu itu, begitu bahagia nya aku mendapat mukena baru dari emak, sebagai hadiah ulang tahun ku. aku selalu memakai nya saat menghadap-Mu Tuhan. kini, ternyata Aku telah lalai dengan semua keluh kesah ini. "Maaf Tuhan, aku telah melupakan Mu selama ini. Maaf Tuhan, dan kini Engkau telah panggil aku kembali.......”


3 komentar:
Subhanallah...
Bagus banget mas... :)
subhanallah bagus ..... tuhan slalu dg hamba nya yg sabar
Saya bisa merasakan bagaimana pedihny hati kum. Semoga hujan badai segera berganti pelangi :)
Post a Comment