Renata menghela napas dalam. Pagi hari yang harusnya menjadi semangat barunya, kini mendadak murung. Selain memang karena mendung yang membungkus kota kembang saat ini, pesan singkat dari kontak bernama Mumu pendonor rasa malas terbesar. Seperti merebut harinya saja. Ia mendengus kesal. 

Sudah tahu gue uts, masih aja disuruh kerja!

Tak ada yang berlebihan dari penampilan Renata pagi ini. Kuliah hanya dengan tengtop, jins balel, sepatu kets menutupi mata kaki, dan kemeja kotak-kotak tanpa dikancingkan menjadi dandanan wajib perempuan tomboy itu. Rambutnya yang legam dan panjang terikat seenaknya dengan anak-anak rambut yang masih keluar dari ikatannya, membuat leher jenjang nya yang mulus itu ternodai dengan rambut-rambut kecil menjulur. Ia tak begitu memperhatikan penampilan, toh meskipun Renata kerap dikatakan anti make up seperti mahasiswa lain, namun kecantikan alami khas Indonesia tak akan luntur begitu saja. 

"Semoga nggak telat, " batinnya saat muali menaiki vixion hitamnya untuk segera bertolak ke kampus yang tak jauh dari kosnya. 

Satu hal yang membuat Renata terpaksa tetap kuliah adalah cita-citanya. Meskipun ia harus hidup seorang diri tanpa orang tua lagi, ia berusaha tetap sekolah. Semacam sudah menjadi hal biasa, ia membiayai dirinya sendiri. Sejak ia keluar dari panti asuhan dan mulai mencari uang sendiri. 

Mampus! Telat gue.

Pekiknya jengkel. Peraturan kejam. Mana mungkin karena tidur kemaleman, oke ralat, kepagian saja, ia harus mengulang satu mata kuliah semester depan. Renata tak habis pikir, apakah tak ada sedikit pun pengecualian bagi dirinya, mahasiswa yang  juga bekerja? Belum kelar Renata menyalurkan emosinya karena melihat pintu ruang ujian ditutup, pesan dari Mumu masuk lagi dengan sadis. 

Ini foto orangnya, ingat malam ini pukul 10.00 di cafe de cozy 

Tanpa melihat foto yang masih buram dan berlingkaran di tengah pertanda loading gambar, ia memasukkan smartphone-nya kembali. Ada hal yang lebih penting dari terus berkutat dengan kerjaan. Ya, mendengarkan gesekan biola anak-anak seni musik di dekat kampusnya. Percaya atau tidak, gadis tomboy itu begitu tenang dan damai jika mendengar permainan biola anak-anak seni musik. 

Kebiasaan itu diawali ketika Renata secara tak sengaja mencuri dengar seseorang bermain biola di salah salah satu ruang kuliah anak musik. Ia begitu bergetar. Hatinya serasa diiris tipis tipis oleh gesekan senar yang terdengar pilu. Nada-nada kekecewaan, frustrasi, dan kekelaman hidup seperti sanggup dirasakan. Renata seperti tertarik magnet, mencari dan mendekati sumber suara. Dan saat ia menatap ke arah pintu yang yang sedikit terbuka, sudah berdiri pria bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang menjuntai sampai leher putihnya. Hidungnya yang runcing, dan rahangnya yang keras dan sempurna seperti membius Renata seketika. Bukan karena fisik lelaki itu yang terbilang tampan, namun alunan nada penuh penghayatan yang dimainkannya itu begitu menyengat kewarasannya. Saat itulah, ia gemar ke kampus seni musik untuk mendengarkan gesekan-gesekan biola. Tapi, lagu yang membius itu sudah tak pernah lagi ia dengar. Pun, lelaki yang memainknnya. 

Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia hendak berjalan ke kampus sebelah. Renata seperti melupakan sesuatu yang penting. Ia pun merogoh ponselnya di tas punggung neavy hijau lumutnya, mencari kontak whatsapp yang sudah berada di urutan terbawah. Wajar, karena Reta memang hanya menghubungi orang itu sebulan sekali, ketika persediaan obat untuk ia bekerja ludes. AZALIA, nama kontak yang langsung dia hubungi. 

Untuk satu bulan, de cozy cafe, pukul 09.00

Setelah pesan terkirim, ia tersenyum lega. Namun, sebelum menutup aplikasi whatsapp-nya, ia akhirnya tertarik juga untuk melihat foto yang dikirimkan Mumu untuk partner kerjanya malam ini. Dan dengan tanpa ekspektasi apa-apa dan rasa penasaran yang telah karam, ia pun menyentuh foto itu. 

Betapa kagetnya Renata ketika lelaki yang akan ia temani semalaman nanti adalah pria yang sudah tak tak asing lagi lagi baginya. Pria yang sempat mengisi benaknya dan menjadi imajinasi setiap ia bercinta. Lelaki yang diam-diam ia cari setiap hari, yang diam-diam ia ingin temui hanya agar ia dapat kembali merasakan hidup. Mencercap pahit dan getir dari setiap gesekan biolanya. Ya, lelaki itu adalah violis yang Renata kagumi. 

Ini gila. Mana mungkin gue bercinta dengannya malam ini?

0 komentar:

Post a Comment