Kubangan Hitam

 Tema : Taman Kanak-kanak

Telepon genggamku berdering, meraunng memekakan telinga. Aku tak mungkin mengangkat telepon di ruangan ini. Ini adalah kali kedua tanganku memencet tombol reject. Telpon demi telpon adalah rejeki buatku, pertanda banyak yang  ingin memakai jasaku. Awalnya, aku begitu menikmati profesi sampinganku ini, tapi lambat laun aku mulai muak dengan apa yang kumulai ini.

Aku telah usai menyelesaikan amanahku. Yeah, membagi ilmu dengan anak-anak memberikan sedikit hiburan untuk hari-hariku. Meskipun, tempat ini tidak senyaman dan seindah dulu. Taman Kanak-kanak yang dulu indah dan penuh warna, sekarang bagiku hanya sebuah lembah hitam yang menyeramkan. Aku tak sanggup lepas dari jeratan dan belenggunya. Sialnya aku memang tak bisa pergi begitu saja!

Untuk menjaga profesionalitasku, aku selalu mencatat  jadwalku kerja di calender. Tempat, tanggal, dan jam sudah terpampang rapi di setiap harinnya. Aku tak tahu, apakah aku termasuk orang yang beruntung seperti yang dikatakan orang-orang?  dengan mobil mewahku? rumah indahku? Ah, mungkin karena mereka tak tahu saja.

***

Restoran Jepang Ayumi menjadi tempat kerjaku sore ini. Disana telah menunggu client-clientku yang sedang asik berbincang dengan ditemani minuman bersoda. Ada lima orang. Mereka melingkar di meja restoran. Dengan mantap dan penuh percaya diri, aku mendekati mereka. Memberikan senyum yang sangat memesona dan menyapa mereka dengan suara beratku yang seksi.

“Sore semua!”
“Oh, yang ditunggu sudah datang!” Kata salah satu Clientku bertubuh langsing ini.
“Wah, ayo segera dimulai! Aku sudah gak sabar nih!” sambut yang lain genit.

Aku mulai mengikuti permainan mereka. Tertawa jika memang diharuskan tertawa, merayu jika memang itu diperlukan. Semua sudah otomatis terekam dalam otakku menjadi sebuah kebiasaan bernama profesionalitas.

“Yesss!! Aku yang menang!” teriak clientku itu mengawali  hari panjangku.


***

Clientku ini memintaku untuk melayaninya di rumah. Aku jelas tidak mau, bagaimana kalau keluarganya tahu, lagian aku juga kurang nyaman kalau harus men-service nya di rumah. Aku tetap keukeuh minta di hotel. 

Penolakanku sia-sia. Aku terdiam, tersadar aku bukan sepenuhnya diriku. Aku telah terbeli, menjadi miliknya untuk malam ini. Akhirnya hanya anggukan lemah yang sanggup kuberikan.

“Anakku sudah tidur jam segini! Lagian Suamiku kan pulang setahun sekali pas lebaran! Tenang saja!” kata-katnya sedikit menentramkan hatiku.

Kami berdua menuju ke rumah, Perumahan yang sangat mewah kami masuki. Aku tercekat, melihat rumah bak istana yang menjulang. “Pantas saja, semua clientku dapat membelikan apa saja buatku!” Kata hatiku. Dia memencet bel, seketika pembantu membuka pintu yang tinggi itu. Belum kaki kami masuk ke rumah, seorang anak kecil langsung berlari menuju kami sambil berteriak!

“Maaaamaaaaa Puuulaaaang!” lalu memeluk erat  clientku yang masih seksi ini.

Dia melihatku. Mengawasiku dengan seksama. Aku menoleh ke kiri, mencoba menyembunyikan wajahku dari anak kecil di depanku ini. Tapi, sepertinya sia-sia.

“Pak Guru!!? Asik Pak guru main ke rumah Tasya! Hore!” katanya juga sambil memelukku dan berjingkrak-jingkrak.

***

Seperti Pagi-pagi biasanya, aku mengajar di TK ini. Dengan harapan dapat membagi ilmu dengan anak-anak. Mengajarkan mereka sebuah pengetahuan, akhlak, dan agama. Kadang aku malu dengan diriku sendiri, merasa tidak pantas berada di sini menjadi seorang guru. Namun, cinta anak-anak  yang tulus sanggup membuatku bertahan. Meskipun, para Ibu yang menunggu mereka di luar kelas adalah clientku yang selalu membuatku gerah dan ingin lari.

Taman Kanak-kanak inilah semua berawal, sebuah kubangan hitam hidupku yang entah kapan sanggup kuakhiri?

***
#15harimenulisdiblog
@hurufkecil

2 komentar:

Adhit said...

Tulisan yang BAGUS!

Sayfullan said...

@Adhit....makasih ya dit dah sempet mampir...
:D salam hangat!

Post a Comment