Tema : Malam Minggu
Aku baru mengenal nama-nama hari tak lama ini. Itu juga karena Ibu guruku yang mengajarkanku. Padahal aku berharap Ibuku sendiri yang mau mengajariku seperti teman-temanku yang lain. Mengenal hari tak membuatku lebih bahagia, atau membuatku bangga, malah sebaliknya, mengerti hari membuatku menderita. Entahlah, seperti ada kebencian yang menusuk sum-sum tulangku ketika hari itu akan datang. Yeah, hari Sabtu.
Dulu aku tak pernah menghitung hari, menit, atau detik . Jadi putaran waktu tak begitu menyiksaku, Hanya layaknya mendapat doorprize, jika hari sabtu itu tiba. Tapi, kini setelah aku mengenal hari, waktu seakan pisau berkarat yang mengiris perih dagingku. Aku tidak menanti atau menunggu datangnya Sabtu, Aku ingin Sabtu enyah dari nama hari! Aku benar-benar tak sanggup jika terus menghadapi hari sabtu.
Seperti sabtu-sabtu malam biasanya. Suara erangan ibu terdengar parau. Dibalik kamar Ibu terdengar suara siksaan yang amat perih. Ingin sekali aku menolong ibu yang melolong penuh peluh. Ingin aku menarik ibu dari himpitan tubuh kekar yang aku tak tahu itu siapa, dan selalu berubah rupa.
Aku melihat Ibu tertindih, menahan beban tubuh lelaki kurang ajar itu. Ibu teriak kesakitan, dan terguncang oleh gerakan kasar tubuh lelaki itu. Ibu seperti kehabisan nafas. Terssenggal. Aku tak tega melihatnya.
Sabtu malam adalah siksaan buatku. Melihat Ibu kesakitan, merintih penuh peluh. Aku tak sanggup melihat itu, benar-benar tak sanggup!! Tapi, ada satu pertanyaan yang belum aku temukan jawabanya.
“Kenapa setelah siksaan itu usai, Ibu malah tersenyum puas?”
#15harimenulisdiblog @hurufkecil

3 komentar:
cerita anak bawah umur untuk yg cukup umur... menarik ^^
Makasih mas Amier dah sempat mampir... :)
Post a Comment