Timeline Berdarah

Tema : Timeline

Aku masih dalam suasana duka. Orang yang kucintai tragis hilang nyawa dalam kecelakaan mobil dua hari lalu. Padahal, hari pernikahan kami telah ditentukan. Dan kenapa takdir begitu kejam, mengambilnya setelah beribu panah jarak kami lewati dengan sabar. 

Cinta kami tidak menganggap jarak sebagai rintangan, Meskipun dia berada di Bandung dan aku di Surabaya, namun kami sanggup menunggu hari perjumpaan. Dan rasa saling percaya selalu terikat rapi dalam jiwa. Namun, kini Dia telah pergi untuk selamanya, hanya tersisa goresan kata-kata cinta di timelineku ini.

Tiga hari setelah dia pergi, aku hanya sanggup merenung, membuka tweetnya yang tak akan pernah usang. Kata-katanya selalu sanggup membbuatku tersenyum. Di timeline ini aku dapat selalu merasa bersamanya. Mungkin di timelinenya pun juga sama, hanya namaku yang mendominasi di tiap deretan kata. Andai saja aku tahu akan seperti ini, aku takkan memintanya pulang hari itu, aku juga akan meredam rasa rinduku barang sehari atau dua hari, agar kecelakaan itu tak akan pernah terjadi dan merenggut nyawanya!

Notifikasi dari hpku mengagetkanku. Lamunanku buyar. Kubuka hapeku, aku tercekat. Jantungku berdetak tak beraturan. Mention darinya mengisi timelineku pagi ini. Aku tak percaya. “Dia sudah meninggal!”

dimas @raya aku merindukanmu!

Dengan cepat jariku memencet keyboard, 

raya kamu siapa? RT dimas @raya aku merindukanmu!

Dimas aku kekasihmu! RT @raya kamu siapa? RT dimas @raya aku merindukanmu!

Keringat dingin membanjiri keningku. Aku masih tidak percaya, malah ketakutan. Apakah mungkin semua ini darinya? Tweet demi tweet mengisi penuh timelineku. Aku begitu penasaran dengan  semua timeline yang menyerbu twitterku itu. Kata-katanya penuh rayuan. Persis seperti yang dilakukan Dimas. Aku mencoba membiarkannya. Tapi, timelineku semakin meluber oleh kata-kata indahnya. Aku semakin penasaran. Dan akhirnya, kami sepakat akan  bertemu malam ini di gedung sekolahku dulu.

***
Aku datang sendiri. Dengan hanya membawa hp dan dompet aku sudah berada di  gedung yang dekat dengan rumahku ini. Sekolah sangat sepi. Tak seperti biasanya, mungkin karena habis hujan, jadi banyak kegiatan siswa yang di-cancel. Aku memasuki gerbang sekolah yang memag terbuka dan tak pernah terkunci. Pak bon sepertinya sudah tidur, terlihat lampu rumahnya di pojok gedung sekolah ini yang sudah dimatikan.

Aku menyusuri lorong antar kelas. Menunggu sosok yang mengisi timelimeku akhir-akhir ini. Jika memang dia Dimas, aku akan sangat senang dan bahagia. Karena itu adalah harapku.

“Kau menepati janjimu, sayang!”

Suara berat seorang laki-laki mengagetkanku. Aku tak begitu jelas melihat wajahnya. Gelap. Dan jarak kami lumayan jauh. “suaranya begitu mirip Dimas!” kata batinku.

Angin berhembus membawa suasana basah sisa hujan tadi. Dinginnya berhasil menembus tulangku. Sepi dan senyap. Hanya suara jangkrik yang terdengar sangat riuh. Bulu romaku berdiri, menahan ketakutan yang lamat-lamat mengisi hati.

“Dimas?”
“Kau Dimas?”

Aku bertanya dengan kata yang tergetar. Ketakutan telah menjalar diseluruh tubuhku. Tubuhku bergidik penuh ngeri.

“Iya, sayang!”

Katanya dengan tenang. Dia mendekat. Langkah demi langkahnya seperti timer bom yang siap meledak. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku tahu dia sudah mati. Dimas sudah mati!

“Kesini sayang, peluk aku! Aku sangat merindukanmu!” kata-katanya mampu menghipnotisku. 

Aku tak peduli dia setan atau bukan. Aku tak mau tahu dia mayit atau manusia hidup,  sekali lagi,aku tak peduli!! hanya rindu yang membuncah yang menggerakkan kakiku untuk melangkah mendekatinya, memeluknya, dan melepaskan rasa yang tersisa. 

***

“Aku yakin ini bukan dia. ini bukan pelukan Dimas. Ini lain!”
“Kau bukan Dimas!” teriakku tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya.
“hahahahahahaha.” Tawanya keras menyeramkan.
"Kembalikan Hp Dimas!" teriakku sambil mundur beberapa langkah.
"Aku menemukannya di jalan, sayang. Dan ini milikku!" katanya sambil mendekatiku.

Aku mencoba mengamati wajahnya. Jantungku seakan terhenti. Muka lelaki itu rusak. Seperti luka bakar. Dia menyeringai tersenyum penuh nafsu. Aku takut. Keringat membanjiri tubuhku. Namun, kakiku terasa kaku, lidahku kelu. Aku ingin berlari, tapi ketakutan mengikat erat kakiku. Dia semakin tertawa. Tertawa sangat keras layaknya monster. 

Aku mencoba berlari dan terus berlari. Sambil berteriak aku berlari menuju gerbang sekolah. Tapi, tiba-tiba kakiku menghantam sesuatu yang keras. aku terjatuh. Ingin aku berdiri, tapi terlambat! tangan lelaki itu sudah mengunci erat lenganku. Aku meronta. Tapi, sia-sia. Dia menarikku dalam dekapannya, sanagt kasar. Aku melawan, mencoba lepas, tapi semakin melawan dia semakin murka dan kasar. 

Aku tersungkur. Merasakan pukulan kerasnya diperutku. Lalu dia menjambak rambutku, menariknya hingga beberapa rambutku tercabut dan berdarah. Dia memukul wajahku dengan genggaman tangannya yang kuat. Aku tak berdaya. Hanya sakit yang kurasakan. Darah menetes dari kulit kepala dan mukaku. Semua perih dan lebam. Dia begitu puas melihatku tak berdaya. 

***

Aku terkapar di tanah lapang sekolah. Dari kejauhan kudengar sirine mendekat. Lelaki itu terlihat ketakutan. Dia bingung. Suara sirine rumah sakit itu seperti siksaan buatnya. Dia masih ketakutan. Menengok kekanan kekiri untuk menghindari sumber suara. Kemudian, Dia berlari menjauh. Menghindari suara itu.

Aku masih tersungur di tanah basah sekolah ini. Melihat air hujan menjadi merah oleh darahku sendiri. Aku ingin berteriak minta tolong, dan berkata “dia masih disini!” namun tenaga untuk menggetarkan pita suara ini terasa telah habis. Aku hanya mampu memandang dari sini, sebuah mobil rumah sakit jiwa yang  hanya lewat begitu saja...

***
#15harimenulisdiblog
@hurufkecil

0 komentar:

Post a Comment