Tema : Hadiah
Perjalananku ke Desa Gombrong tak dapat kuelakkan. Ada amanah yang harus segera kulaksanakan di desa ini. Dengan kereta malam aku menelusuri perbatasan Jawa barat. Perjalanan ini membuat aku harus rela melepaskan beberapa sks dan menolak beberapa job pemotretan di sebuah majalah. Wajarlah, selain terdaftar menjadi mahasiswa di salah satu Universitas di Bandung, aku juga merangkap sebagai model pria di sebuah majalah kebugaran.
Stasiun Tawang, Semarang terlihat ramai oleh lalu lalang orang. Aku memutuskan untuk mencari taxi, agar alamat yang aku cari ini dapat mudah kutemukan. Tak ada yang spesial dari perjalananku kali ini. Setelah kepergiannya, aku seperti kehilangan nyawa. Ruhku telah terikut oleh jejaknya. Hampa dan kosong.
“Dia memang orang yang sanggup membuatku tersenyum tulus, tanpa harus takut menghadapi dunia ini.”
Akhirnya aku menemukan alamat yang kucari. Rumah didepanku ini begitu besar, jika dibandingkan dengan rumah lainnya. “Helena pasti dari keluarga yang terpandang di desa ini.” Selorohku.
***
“Siapa kamu?” tanyanya kasar dan tanpa ekspresi. Gadis ini sepertinya masih dalam suasana duka. Terlihat jelas matanya yang sembab dan besar seperti habis menangis berhari-hari.
“Aku Rangga, teman kampusnya Radit.” Jawabku setenang mungkin.
“Kenapa kau kemari?” tanya Helana ketus di ruang tamu yang hanya ada kami berdua.
“Aku kesini hanya ingin memberikan ini!” kusodorkan sebuah kotak hadiah berwarna abu-abu. Warna favorit Radit. Diatas kotak itu tertulis nama Helena. Hadiah yang kutemukan di kamar kost Radit di Bandung.
Helena tak berkata apa-apa. Tiba-tiba tangisnya pecah, dengan tangan yang bergetar dia menerima kotak hadiah itu. Air matanya menetes membasahi kotak persegi itu. Wajahnya begitu pucat, terlihat begitu terpukul atas kecelakaan yang menimpa Radit. Aku terus memandang wajahnya dengan teliti, entah kenapa ada sesuatu dalam hatiku saat kutatap wajah sayu itu.
“Terimakasih Rangga, sudah mau repot mengantarkan hadiah ini kemari.” Katanya lebih halus dan sopan. Kemudian dengan tak sabar dia membuka kotak hadiah itu. Air matanya dia usap dengan tergesa, dan dengan tangan yang masih bergetar, dia mulai mengeluarkan semua yang ada di dalam kotak itu. Itulah yang diam-diam aku inginkan, dapat mengetahui isi kotak abu-abu itu.
Dia mengeluarkan beberap foto dalam kotak itu, foto Radit. Dan sebuah buku, seperti buku diary milik Radit. Tangis Helena pecah kembali, menciumi beberapa foto dan buku yang telah ia rengkuh dari kotak itu. Aku bingung, menentukan apa yang harus kuperbuat. Dia menangis seperti orang gila, lupa segalanya. Matanya memandang tajam foto-foto radit. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan Tiba-tiba menjerit histeris. Aku semakin bingung, tatapannya beralih kepadaku, dia memandangku sangat tajam.
“Katakan, siapa wanita itu!. Aku bingung dengan kata Helena, dia seperti tidak waras. Jelas-jelas tidak ada sosok wanita di foto itu!
“Tidak ada wanita di foto itu!” jawabku dengan nada sedikit meninggi.
“Bukan di foto ini! Tapi yang bersamanya saat foto ini diambil! Rangga, Radit tak pernah terlihat sebahagia ini saat denganku! Senyumnya, tawanya! Katakan padaku! Please! Siapa wanita yang bersamanya?” mohonnya dengan air mata yang membanjiri wajah pucatnya.
Aku hanya diam, melihat foto Radit yang dipegang Helena. Aku membisu, mencoba mengerti. Melihat Helena bersimpuh di depanku membuat aku terombang-ambing oleh ombak pikiranku sendiri.
“Kenapa diam? Kau pasti tahu kan! Siapa wanita yang berani merebut Raditku! Jawaaaaabbb Rangggaaa!”
Aku ingin menjawab pertanyaannya, tapi mulutku terasa terkunci. Berat sekali bibir ini untuk berucap satu kata pun. Dengan suara bergetar, aku memulai mencoba mulai bicara.
“ Memang tidak ada wanita disitu Helena!!”
“ Oh! apa karena Kau teman Radit! jadi ingin menyembunyikan kebusukannya?”
Mendengar kata-kata Helena tentang Radit membuat aku marah.
"Dengar Helena! Aku tidak bohong! tidak ada wanita saat pemotretan itu! hanya ada aku, foto itu hasil jepretanku! Helena, akulah pacar Radit itu!"
Helena tersentak. Mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan. Dia mematung dalam simpuh luka yang teraamat dalam, sebuah hadiah yang ternyata mengiris perih tipis-tipis hatinya. Tapi, aku tak peduli! Dan tak akan pernah peduli! Dia juga tak akan pernah tahu, betapa sakitnya hidup dalam limbah dosa. Dia juga tak akan pernah mengerti betapa beratnya derita yang kupendam atas labirin hitam yang kujalani. Dan sekarang orang yang selalu bersamaku untuk bersama menghadapi semua itu, kini telah tiada.
"Kau tak akan pernah tahu sakitku, Helena!"
Mendengar kata-kata Helena tentang Radit membuat aku marah.
"Dengar Helena! Aku tidak bohong! tidak ada wanita saat pemotretan itu! hanya ada aku, foto itu hasil jepretanku! Helena, akulah pacar Radit itu!"
Helena tersentak. Mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan. Dia mematung dalam simpuh luka yang teraamat dalam, sebuah hadiah yang ternyata mengiris perih tipis-tipis hatinya. Tapi, aku tak peduli! Dan tak akan pernah peduli! Dia juga tak akan pernah tahu, betapa sakitnya hidup dalam limbah dosa. Dia juga tak akan pernah mengerti betapa beratnya derita yang kupendam atas labirin hitam yang kujalani. Dan sekarang orang yang selalu bersamaku untuk bersama menghadapi semua itu, kini telah tiada.
"Kau tak akan pernah tahu sakitku, Helena!"
***
#15harimenulisdiblog
@hurufkecil

0 komentar:
Post a Comment