Tema : Perkenalan
Aku mengenalnya sudah satu tahun. Tidak ada yang spesial dari hubungan kami berdua, hanya dua perempuan yang sangat berbeda menjadi dekat karena harus bertemu setiap hari di satu angkot. Jam kerja dan jurusan angkot yang samalah yang membuat kita berdua selalu menunggu bersama di halte yang sama.
Sebenarnya, perkenalan ini membuat aku ingin lari. Lari sekencang-kencangnya! Lari sejauh-jauhnya! Bukan karena dia menakutkan, atau membahayakan. Tapi, ketakutan diriku sendirilah yang tumbuh perlahan-lahan dan mulai menggerogoti hati ini. Jujur, bersamanya membuatku takut menjadi mahluk yang dikutuk Tuhan! Aku tak mau itu, tapi aku yakin 100%, cepat atau lambat hal itu akan terjadi juga.
Semenjak perkenalan itu, rasa bersalahku pada Tuhan kian memuncak. Apalagi, omongan orang-orang di angkot melihat kami berdua membuatku semakin gerah. Rasa benci dengan takdir Tuhan mulai menganga. Akupun dengan mudah terprovokasi oleh penyesalan. Tuhan memang tidak adil, menciptakan rupaku begitu menjijikkan! Lalu, kenapa Tuhan berikan dia fisik yang begitu sempurna? Sedang aku?
Setahun setelah perkenalan itu, aku menutupi kesakitan yang kian bernanah, terluka oleh kenyataan yang pahit. Bahwa aku tak secantik dia!
***
“Benar Tuhan! Aku iri dengannya!” jerit hatiku.
Melihat tubuh indahnya, memandang lurus rambutnya, menatap rupanya yang begitu memesona, mampu membakar hidup-hidup hatiku. Apa aku salah? Jika gadis hitam, gendut, dan keriting sepertiku iri denganya? Apa aku keliru? kalau benjolan-benjolan jerawat dan bekas luka bakar di pipiku ini selalu menjadi ejekan orang-orang? Aku mulai mengutuk perkenalanku dengannya! Begitu sakit jika setiap hari harus bersamanya Tuhan!
Kuputuskan untuk menghindarinya. Berharap luka hati ini dapat mereda. Tapi, dia selalu mendekat. Memberikan senyum tulusnya. Dia memang tidak hanya cantik dari luar, tapi juga hatinya. Aku merasa berdosa jika terus membencinya, tapi iri ini menggelapkan semua indra.
“Aku ingin seperti kamu.” Kataku pagi itu.
“Kamu akan menyesal menjadi sepertiku.”
Aku tersenyum kecut penuh sindiran.
“Asal kau tahu, aku benci dengan kecantikan ini!” katanya parau.
***
Setelah pagi itu, tidak lagi kujumpai dia di halte. Mungkin dia mendapat pekerjaan lain, atau mungkin sedang dinas. Mengingatnya, ada sebongkah penyesalan perlahan-lahan mengendap di hatiku. Teman yang bisa menerimaku apa adanya, kini mendadak hilang ditelan masa. Tanpa kehadirannya, aku duduk diangkot sendiri. Ternyata sama saja! Ada dan tak ada dia, gunjingan orang-orang masih juga terdengar di telingaku. Kenapa aku harus menyalahkannya?
Ketika aku sudah sampai di tempatku bekerja, seperti biasa, aku mulai membuat kopi dan membawakan koran terbaru buat para karyawan. Tiba-tiba, cangkir kopi yang kupegang jatuh, mendarat tepat di lantai kakiku. Pecahannya menghasilkan suara yang ngilu digendang telingaku. Aku tak peduli dengan teriakan karyawan yang meraung-raung menyebut namaku. Mataku masih tertuju pada gambar di headline news koran pagi ini. Aku terkejut, jantungku seakan berhenti berdetak.
Seorang Penjaga Swalayan yang Merangkap Wanita Malam Telah Diperkosa dan Ditemukan Mati Mengenaskan!
“Ya Tuhan, maafkan atas rasa tak bersyukurku selama ini, dan Terimakasih telah Engkau kenalkan aku dengannya!”
***
#15harimenulisdiblog @hurufkecil

0 komentar:
Post a Comment