Tema : Hujan
Desa ini sudah seperti neraka. Terlalu panas untuk ukuran musim kemarau. Terik yang begitu membakar kulit, menyisakan sengatan yang teramat sakit. Belum lagi, kami harus rela berbaris untuk menunggu giliran menimba air di satu-satunya sumur yang masih keluar air.
Kemarau panjang ini memang cobaan buat kami, tak ada panen, semua kering, terbakar habis oleh panas yang merong-rong hingga lapisan tanah terdalam. Gagal panen seolah melemparkan warga di desa ini ke kasta terndah. Tak ada panen berarti tak ada makan, dan tak ada uang. Kami pun harus bersiap akan lapar yang menanti di batas musim ini.
Tapi aku juga tak sudi jika harus menjadi makanan buat mereka, santapan untuk seluruh kampung. Aku tak ikhlas jika mereka mengagung-agungkan diriku sebagai pahlawan kampung, yang sebenarnya hanyalah korban. Namun aku terlalu lemah, tak sanggup membela diriku sendiri. Bahkan orang tuaku pun begitu khusyuk mengikuti ritual bodoh ini dan bangga anak gadisnya terpilih menjadi pahlawan desa.
Prosesi pengiringanku ke seluruh penjuru desa telah usai. Dengan dandanan menor ala sinden ini aku di bopong dengan keranda oleh semua warga desa. Aku benar-benar mengutuk ritual minta hujan ini. Bukankah agama telah mengajarkan cara yang benar, dengan berdoa kepada sang Khalik dengan sholat? bukan malah percaya dengan kata-kata Mbah Blendet itu.
Setelah diiring ke seluruh kampung, aku diturunkan dari keranda di rumah Pawang hujan di desa ini. Rumah Mbah Blendet sangat menyeramkan, layaknya rumah-rumah dukun dengan seperangkat aksesorisnya.
“Ayo, bawa dia masuk! Akan aku bersihkan jiwanya!” kata Mbah Blendet kepada salah satu warga.
***
Aku berada di rumah yang gelap dan pengap, hanya lampu teplok yang sedikit memberikan cahaya remang-remang di rumah kecil ini. Mbah Blendet mempersilakan aku untuk tidur di satu-satunya dipan yang usang dan berdebu. Diatasnya terpasang kain kelambu yang telah berlubang di ujung-ujungnya. Aku sedikit ragu, tapi Pawang hujan yang telah bungkuk ini berhasil memaksaku dengan sorot matanya yang cuma tinggal satu.
Aku terlentang, memikirkan apa yang dirasakan gadis-gadis lain sebelumku di rumah ini. Aku tak tahu ritual pembersihan itu apa. Aku hanya ikuti semua ritualnya, meskipun dengan terpaksa.
Aku tersentak. Kaget dan terbangun, ketika jemari kasar seseorang menyentuh kulitku. Aku menggigil, melihat Mbah Blendet sudah telanjang di depanku. Tanpa sehelai kainpun , dia menindih pahaku. Aku menghindar, tubuhnya terjungkal di dipan, seketika wajah rusaknya berhasil menakutiku.
“Berani-beraninya kamu! Ayo, buka bajumu!” katanya dengan tangan yang ingin merengkuh kainku.
“Tidak Iblis!” kataku lantang.
“Perlawananmu itu sia-sia! Warga Desa ini terlalu goblok untuk percaya padamu, gadis tumbal!”
Entah kenapa aku begitu sangat marah mendengar perkataan kakek-kakek ini. Ketakutan yang menjalar di tubuhku seketika lenyap dan menguap tak bersisa. Ternyata sikap penolakanku dengan ritual ini adalah benar. Aku tak ingin terlempar ke dalam dosa Syirik yang dengan apik telah dirancang iblis berwujud manusia di depanku ini.
“Aku tak takut! Aku punya Tuhan yang akan memberiku hujan! Bukan kamu!!”
“wa..ha..ha..ha..ha..ha...mintalah sekarang! Tunjukkan padaku!” katanya penuh ejekan.
Hatiku terasa terbakar, kesombongan manusia ini membuatku kalap. Dalam hati aku berdoa dengan penuh harap, memohon dengan segala kerendahan hatiku sebagai mahluk yang tak punya kuasa apa-apa terhadap semua takdir-Nya. Aku terus berdoa dalam hati, minta hujan hari ini.
“Mana? Mana? Mana hujannya? Kamu itu bodoh! Semua gadis yang pernah disini semua bodoh! Ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha.....” tawanya kembali menggema. Kemudian di berbicara sambil mendekatiku..
“Aku percaya pada Tuhanmu itu! Dan percaya hari ini akan turun hujan! Tapi warga kampung ini yakin kalau Hujan itu dariku, bukan dari doa-doa kalian gadis tolol! Ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha....”
aku mematung, mencerna perkataan iblis bertopeng manusia di depanku ini. Pantas saja, ritual ini terus berjalan sampai sekarang. Ternyata doa gadis-gadis yang terdzalimi lah yang membuka langit untuk menurunkan hujan, air mata merekalah yang membuat tanah desa ini basah dengan rahmat Tuhan.
***
Dan kini aku menangis perih, kala terdengar teriakan seluruh warga menyambut tetesan air hujan sambil meneriakkan nama Mbah Blendet..

0 komentar:
Post a Comment