Tema : Telur Dadar
Dingin angin malam berhasil menembus dagingku yang tipis, menusuk-nusuk seperti jarum hingga ke sumsum tulangku. Musim kemarau memang membuat udara di malam hari menjadi sangat dingin. Keadaan semacam ini sudah biasa kualami, tapi tidak untuk malaikat kecil disampingku ini. Aku menangis getir, sambil merapikan kardus yang menutup tubuh kecilnya yang terus menggigil.
Mungkin akulah Ibu yang paling berdosa di dunia ini, yang tak sanggup melindungi darah dagingnya sendiri dari hujan, terik, dan angin malam. Jangankan rumah, selimut tebal yang hangat saja tak mampu kuberikan, hanya kardus-kardus usang inilah yang sanggup kuberikan. Air mataku mengalir semakin deras, merasakan derita yang seharusnya belum pantas untuk anak-anak seusianya rasakan.
Aku membangunkan malaikat kecilku dengan lembut, sebelum teriakan pemilik toko emas ini terdengar menyanyat hati. Kami tidak tidur berpindah-pindah, emperan tokok emas Koh Acan inilah yang menjadi tempat tidur kami selama ini.
“Emak, aku Lapar!”
“Iya sayang. Kita harus kerja dulu! Mengumpulkan botol plastik dan kardus yang banyak! Biar kita bisa makan enak!”
“Itu kan kata Emak tiap pagi! Nyatanya, makannya sama tempe terus!”
“Hari ini spesial, sayang! Kita makan telur dadar!”
“Bener Mak? Asyiiiik! Ayo mak kita harus dapat botol banyak!” teriaknya penuh semangat.
Sebelum matahari terbit, kami telah meninggalkan emperan Toko Koh Acan untuk mengais sampah untuk mencari botol bekas. Satu botol bekas buat kami layaknya emas. Beribu-ribu hamdallah akan terucap ketika kami berhasil mendapatkannya. Semua kami lakukan untuk dapat bertahan hidup, demi sesuap nasi. Seperti biasa, kami berjalan dengan membopong karung, berharap hari ini banyak botol plastik yang kami temukan.
***
Matahari sudah semakin terik, namun karung kami masih berisi sedikit emas plastik ini. Keringat mengucur deras di dahi kami. Rasa lapar membuatku lemas. Tapi, aku harus kuat! Aku tidak ingin mengecewakan anak semata wayangku. Aku harus bisa bertahan.
“Mak, aku sudah gak kuat!”
“Iya Nak, Emak jual dulu ya hasil kita ini.”
“Aku tunggu di depan warung ya Mak!”
“Iya! Tunggu Emak di warung itu ya!”
“Siap Mak, telur dadar! Aku datang!” Katanya sambil melompat-lompat kegirangan.
Aku masih diam tak bergerak, melihat dari jauh kebahagiaan anakku di depan warung itu. Sepertinya dia begitu bahagia bisa melihat tumpukan telur dadar di depan warung yang hanya dibatasi kaca transparan.
“Tunggu Emak ya Nak!”
***
Aku berjalan dengan sekarung hasil keringat kami pagi ini, dengan langkah gontai aku menuju tempat penjualan sampah bekas. Jaraknya memang lumayan jauh. Rasa lapar yang mendera membuat langkahku terasa berat. Apalagi terik matahari membakar tanpa ampun di seluruh tubuhku. Aku terseok. Tiga hari ini memang tidak ada asupan hidrat arang dalam lambungku, karena hasil memulung kami hanya pas untuk sebungkus nasi. Kini aku lemah. Ingin aku merebahkan tubuhku sebentar saja, tapi bayangan malaikat kecilku menamparku untuk bangun. Untuk tetap bertahan.
Peluhku berjatuhan. Jantungku memompa darah semakin cepat. Bibirku kering oleh sengatan udara panas. Tempat penjualan sampah sudah terlihat. Aku tersenyum, melihat bayangan anakku menari-nari melihat telur dadarnya. Tapi, tiba-tiba bayangan itu menghilang, terganti gelap yang semakin mendekat. Aku berteriak tanpa suara. Aku terjatuh. Tak mampu memopong tubuhku yang terasa lima kali lebih berat.
“Tidak. Tidak! Aku harus bangun! Aku tak boleh berbaring! Ada yang menungguku! Tolong! Jangan biarkan aku tertidur! Jangan biarkan aku mati! Tuhan, ada anak kecil tak berdosa yang menanti kedatanganku! ini hari spesialnya! Toooolooooonglah!! Kalian dengar aku, kan!!”
Tak ada jawaban. Hening. Gelap kini menebas habis bayangan malaikat kecilku. Menghapus senyumnya dari pandanganku. tak ada jejaknya sedikitpun, hanya hitam yang kulihat. Ternyata tak ada yang mendengar teriakanku, kecuali Tuhan dan diriku sendiri!
***
#15harimenulisdiblog
@hurufkecil

3 komentar:
:'( saya bersyukur keadaan saya lebih baik dari tulisan ini..saya harus lebih sering bersyukur..
terimakasih yaa, tulisan nya bagus..
Tulisannya bagus ... bikin sedih :(
Aku sangat bersyukur....
Semoga tidak ada lagi orang miskin yang susah untuk makan di dunia ini....
Amin...
Terima kasih mas untuk tulisan yang indah ini...
:)
Post a Comment