Ciuman dari Om

 Tema : Ciuman Pertama

Aku hanya  terdiam. Saat kamu memberiku perhatian lebih. Itu karena aku begitu menghormatimu, menyayangimu, dan mencintaimu seperti Ayahku. Walaupun usiaku baru sepuluh tahun, tapi getar sayangmu padaku sanggup kurasakan. Senyum dan ketulusanmu, mampu membuatku kembali tersenyum.  Aku begitu bahagia bersamamu!

 “Tuhan, terimakasih telah kau kirimkan seorang Ayah untukku.”

Kini, aku tak lagi kesepian, merasa terlahir kembali dengan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Walaupun, terkadang Ibu memang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Hingga aku merasa sendiri , untunglah kau datang tepat waktunya. Entah darimana kau berasal, entah bagaimana kau hadir, aku tak peduli! Yang penting kau telah mampu mengisi jiwaku yang kosong dan sepi. Bersamamu, aku merasa aman, nyaman, dan terlindungi. 

Mungkin kau sudah tahu, kalau waktu Ibu itu begitu berharga, aku tahu ia lakukan semua itu untuk hidupku. Aku juga tak akan protes. Setelah Ayah meninggal, Ibu lebih sering berada di kantornya daraipada di rumah. Mungkin, karena Ibu harus menggantikan posisi Ayah untuk mencari nafkah. 

“Aku mengerti kok Bu, akan selalu mengerti.”

Rasa kehilangan itu kini lamat-lamat tergerus bersama dengan kedatanganmu. Apalagi perhatian seorang Ayah yang kubutuhkan, kudapatkan darimu yang selalu tercurah  seperti matahari menyinari bumi. 

***

Tetapi, semakin hari kurasakan semua kian berubah. Tatapan matamu berbeda. Sentuhanmu pun lain. Kau juga sering mengelus kulitku dengan  hasrat yang ku tak tahu. Rasa sayangmu padaku mendadak menghilang. Kini kau seperti serigala menemukan mangsanya, bukan lagi anaknya. 

Aku tak mengenalmu lagi. Kau membuatku takut. Aku mencoba menghindarimu, menangis bertanya mengapa kau tega mengubah sikapmu?  Tapi, kau  tetap tak peduli. Malah sikapmu sekarang semakin kasar. Kau genggam tanganku dengan paksa, tak ada lagi cinta, enyah semua sayang, dan lari semua ketulusan. 

Aku tercabik, saat bibirmu menempel di kulitku. Aku menangis  perih, namun kau sepertinya semakin menikmatinya. Aku ingin lari. Nafasku tersenggal. Tapi,  aku kalah. Bibirmu berhasil mendarat di bibirku. Aku meronta. Menangis dan memohon untuk kau lepaskan. 

***

Aku tercekat, ketika dengan senyum behagia Ibu mengenalkanmu padaku.
“Sayang, Ini Om Bram. Sekarang dia akan menjadi Ayahmu Nak! ”

***
#15harimenulisdiblog @hurufkecil

0 komentar:

Post a Comment