Jamkesmas Paiman

Rasa mual begitu menyiksa perutku. Seperti memaksa semua yang ada dalam lambungku untuk keluar. Tapi sia-sia, tak ada apa-apa dalam lambungku kecuali HCl yang memang sudah Tuhan takdirkan dengan tak pandang bulu kepada semua manusia. Hampir seminggu aku terkurung disini. Mereka tak akan pernah tahu, tiap detik adalah sangat berharga bagiku. Karena kematian telah menungguku diluar terali besi ini, dan siap menerkam nyawaku kapan saja ia mau. Entah, masih berapa hari lagi aku memiliki kesempatan untuk hidup? Hanya Tuhan yang tahu.

Seminggu disini aku telah bermetamorfosis menjadi mahluk hina berwujud manusia. Kotor dan menjijikkan. Dengan semua siksaan-siksaan yang lebih menyayat hati ketimbang fisikku sendiri. Lagi-lagi aku harus rela, pasrah, dan “legowo” menerima konsekuensi dari pasal-pasal yang telah orang-orang sok pintar itu buat dan kelakuan binatang-binatang mahluk hibrida setan ini.

“Hwuoooeek....Hwuooooeeek...”

Akhirnya asam lambung yang sedari tadi ingin merasakan atmosfer bumi tertumpah sudah. Kental dan berwarna sedikit hijau. Bau amis seketika menyerang ruang yang hanya dihuni oleh tiga orang. Aku menepi diantara jeruji, mengeluarkan berbagai cacian kepada penguasa-penguasa sok suci yang mengaku punya hati.

“Diam! Bosan aku dengan ocehanmu!”
Pria hitam legam dan berambut gondrong  yang tadi diam tiba-tiba angkat bicara.
“Sudah kukatakan berkali-kali! Aku seharusnya tidak disini!” kataku kepada lelaki gondrong itu yang sudah menahun terkurung di tempat ini.
“Haa...haa...haa...” lelaki itu tertawa keras.
“Kenapa kamu selalu menertawakanku?”
“Ocehanmu itu gak ada gunanya!”

Memang benar kata lelaki itu, mencaci maki, atau mengharap belas kasihan, dua-duanya sama saja percuma. Hanya membuang energi. Lagian, penegak hukum itu takkan pernah mendengar ocehan seorang sampah masyarakat sepertiku.

“Nikmati saja hari-harimu di bui ini dengan ikhlas! Haha...haha...”
Aku diam. Tak merespon tawa yang memekakkan telinga itu. Tak kusadari lelaki gondrong itu mendekat. Dengan wajah yang sangat berhasrat dia duduk dibelakangku, menyeringai layaknya serigala menemukan mangsanya. Aku mengendus birahinya. Inilah sinyal akan siksaan para binatang ini. Aku menggeser tubuhku, tersadar bahwa ini adalah bui, tempat setan, iblis, dan kroni-kroninya menyatu dalam wujud manusia.

 Dia masih juga mencoba mendekat, menahan tubuhku yang ingin menghindar, lalu dia menggesek-gesekkan tubuhnya ke punggungku. Kebiasaannya memulai penyiksaan yang seminggu ini tak dapat kuelakkan. Aku melawan sekuat tenaga, tapi sia-sia. Tenagaku telah termakan oleh penyakit ini. Apalagi hemoglobin dalam darahku tak jua mau kompromi, membuat diriku semakin lemas.

Dia mulai mengendus kulitku. Perutku semakin mual, aku benar-benar jijik oleh iblis bertopeng manusia ini. Kudorong dia menjauh. Hanya beberapa meter aku berhasil lolos dari lelaki gondrong itu. Kusiapkan tenagaku untuk melawan, kuatur kuda-kuda sebisaku. Sial, tiba-tiba ada sepasang lengan berotot lainnya yang mencengkramku dari belakang. Ternyata penghuni bui lain yang tadi tidur kini telah sadar ada mangsa. Dia mengunci tubuhku yang berdiri lemah. Aku tak mampu melawan. Nafasku tersenggal. Kuda-kudaku luluh tak berdaya, layaknya serangan stroke yang tiba-tiba. Aku panik. Jantungku tiga kali lipat berdetak lebih kencang.

“Lepaskaaaaaan !!!” teriakku.
“Haa...haa..haa..” Teriaknya sekencang terkaman lengannya.
“Kamu akan menikmati momen ini tolol!” kata lelaki botak itu sambil melepas celana lusuhnya.
“Tolong!! Hentikan!! Bangsat!! Hentikaaaaann!!” teriakku ketika dia mulai meraba-raba perut hingga pahaku.

Aku masih berteriak sekeras yang kubisa. Berharap para sipir mendengar. Taktikku tercium oleh si botak jalang ini. Dia lantas memukul keras perutku untuk menghentikan teriakanku. Aku seperti tak mampu bernafas, sesak, mual, lemah, bercampur menjadi satu. Jantungku masih berdetak tak normal. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Tangannya mulai mengoyak celanaku. Dia menindih punggungku, mencoba memasukkan birahinya dalam lubang kehormatanku. Aku tak mampu melawan. Tubuhku bergerak seirama hentakan pinggulnya. Perih, sakit, dan panas.

 Setelah lelaki botak itu berteriak dalam puncak nafsu, giliran lelaki gondrong menjajaki seluruh inchi tubuhku. Aku tak berdaya. Penyakit ini benar-benar membuatku lemah, tak sanggup melawan kecuali hanya dengan sumpah serapah. Aku hanya  bisa terdiam menahan perih, menahan sakit yang teramat sakit. Akhirnya desahan iblis gondrong itu berakhir, tubuhku terdiam tak lagi bergoncang. Mereka pun lemas, terlentang masih dalam keadaan telanjang. Tertidur pulas dalam senyum kepuasan.

Sedangkan aku layaknya seonggok mayat yang hina. Diam tak berdaya.  Melawan maut yang telah lama bersenggama dalam jiwa. Aku masih ingin hidup, bersama anak dan istriku. Ingin merasakan sekali saja rasa berkecukupan yang tak pernah kucicipi.

“Tuhan, Aku ingin tetap hidup, untuk mengubah takdirku.”

Paru -paruku telah letih tak bertenaga. Jantungku berdetak begitu kencang, berusaha mengalirkan darah kotor ini ke seluruh tubuhku. Aku masih dalam detik-detik melawan maut. Sekelebat muncul bayangan Pak Lek, orang yang membantuku untuk bertahan hidup.

“Pak Lek, kenapa semua berakhir gini!” ronta hatiku.

Pemenang  perang ini belum ditentukan. Dan kematian masih diluar jeruji besi, terjaga dalam penantiannya.

***

“Mana bisa aku membiayai semua itu, Pak Lek?”
“Kalo kamu gak cuci darah, bisa-bisa kamu mati!”
“Trus duit dari mana to Pak Lek, buat makan saja aku susah, lha anak dan Istriku makan apa?”
“Punya Jamkesmas to?”
“Lha ini masalahnya Pak Lek, Pemerintah sepertinya luput mendata keluargaku ini.”
“Waduh lha terus piye? Siap-siap aja buat kuburan!”
“Astagfirulloh Pak Lek. Jaga to omongannya!”
“Wis nanti tak usahain, pokoknya kamu bisa tetap hidup!”
“Amin, maturnuwun yo Pak Lek!”

Aku lelah, pucat  karena berhari-hari tidak bisa memejamkan mata. Memikirkan istri dan anak semata wayangku. Membayangkan mereka, aku malah semakin ingin menangis. Aku tak rela jika harus mati muda, dan meninggalkan mereka dalam garis kemiskinan dan penderitaan ini.

Setelah vonis gagal ginjal ini, pikiranku semakin tak karuan saja. Kata dokter penyakit ini tak bisa disembuhkan. Hanya terapi cuci darah sebagai solusi menunda kematian.

“Kadang Dokter memang sok tahu, nyawa khan urusan Tuhan!” pekikku dalam hati.

Kerisauanku memuncak karena keinginanku untuk hidup tak sepadan dengan uang yang kumiliki. Biaya cuci darah tidaklah murah, dan sialnya jaminan kesehatan untuk orang miskin yang dijanjikan pemerintah buatku hanyalah omong kosong. Apa aku masih kurang miskin untuk mendapat Jamkesmas itu? Lagi-lagi aku harus menelan pahitnya sebuah  takdir.

“Kamu masih pengen hidup to?”
“Lha iyalah Pak Lek!”
“Yo wis, bawa ini!”
"Lho? Ini khan Jamkesmasnya Paiman, bukan punyaku Pak Lek!”
“Wis to. Mau umur panjag gak?”
“Tapi ini melanggar hukum Pak Lek. Ini pemalsuan identitas namanya! Bisa dipenjara aku!”
“Pemerintah yang melanggar hukum juga banyak to! Malah mereka berumur panjang, sehat, gemuk-gemuk lagi! Gak kayak kita, wis miskin, kurang gizi, kurus lagi!”
“Gak bakal ada apa-apa to Pak Lek?”
"Ora! Wis to mantep wae! Kalo gak ketahuan kan gak bakal dipenjara to!”

***

Aku masih bertarung melawan maut. Racun dalam darahku mungkin sudah diambang batas. Bayangan senyum istri dan anakku seolah memberi kekuatan untuk memenangkan  perang ini. Tetapi, sepertinya sang maut telah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Kepedihan kelakuan setan syahwat yang menggores martabatku sebagai manusia kini terakumulasi dalam hati. Perih. Sumpah serapah kulontarkan berkali-kali untuk dua iblis yang terlelap dalam nikmat kubangan dosa itu. Aku begitu muak jika mengingat kebengisan mereka.

Aku menangis. Inilah air mata kebencian akan nasib. Nasib harus hidup di negara yang miskin akan moral dan belas kasihan. Nasib akan peraturan yang terlalu kuat untuk ditembus oleh rakyat jelata yang tak tahu apa-apa, tetapi tidak untuk para penguasa. Nasib hidup dalam janji-janji sejahtera penguasa, namun miskin semua sanak saudara. Aku benar-benar menangis.

Ternyata kematian terlalu kuat. Pertahananku berhasil dijebolnya. Pengumuman pemenang perang ini akan segera diumumkan. Nafasku memburu. Tertahan oleh sabda hati yang belum sempat terucap.

“Hai, Para Penguasa. Seharusnya kalian pun berada di sini bersamaku! Merasakan pahitnya terpenjara, ditinggal keluarga, dihina, dan diperkosa!! Karena kita adalah sama-sama penipu!! Bedanya, aku menipu untuk bertahan hidup! Ingat, Tuhan tahu itu hai Penguasa!!”


***


0 komentar:

Post a Comment