Surat dari Jakarta

Sang surya memanggang kulitku yang putih ini. Membuat sedikit bercak kehitaman yang butuh beratus-ratus ribu rupiah untuk menghilangkannya. Hawa panas menjalar dari ujung kaki hingga rambutku, membuat siapa saja bergegas meneguk air dingin yang disuguhkan wanita baya ini. Aku menyebutnya Mbok, pemilik rumah kayu inilah yang menampung kami selama empat puluh lima hari kedepan. 
Beribu jarak langkah kaki menguras habis keringatku. Ditambah debu yang hilir mudik keluar masuk lubang hidungku membuat bulu hidungku harus bekerja ekstra untuk menyaring udara siang ini. Tempat mengajarku cukup jauh. Dua hutan jati  sudah kulewati, tanjakan terjal sudah kudaki, tapi sekolah itu belum juga kutemukan. Aku capek. Memaki Dosen yang membuangku di desa terpencil ini. Untung saja Mbok juga termasuk salah satu siswa yang ikut belajar, jadi aku tak sendirian ke tempat belajar. Dengan sunblock tebal kuarungi setapak jalan yang menurutku lebih seperti neraka. Panas, jauh, dan berdebu. Hanya mp3 player yang sedikit mengendurkan ototku untuk melahap sedikit hiburan. 
Aku berdiam sejenak. Memandang bangunan yang kucari berjam-jam lamanya. Sudah terpampang jelas di depan bangunan itu tulisan dengan huruf besar, “TEMPAT BELAJAR DUSUN SAMBIREJO”. Mataku nanar, memandang pemandangan yang memilukan. Entah apakah bangunan itu bisa disebut rumah? Kayu-kayu yang lapuk berusaha menyangga bobot atap yang sudah berkurang jumlah gentingnya. Alas tanah dengan tikar yang digelar menjadi tempat belajar warga dusun ini. Kelelahanku seketika menguap. Hilang tak berbekas berganti iba yang membaja. 
Sambutan warga dusun itu tak seperti yang kubayangkan. Mereka berbondong-bondong bersalaman dan menciumi punggung tanganku. Aku sudah melarangnya, mereka tetap melakukannya. Seperti Dewi Kecerdasan yang siap membagi ilmu dalam kegelapan bernama kebodohan. Aku merasa terlalu tinggi dinobatkan seperti itu, mereka tak pernah mengira ribuan keluhan dan sumpah serapah yang telah aku lontarkan di Dusun ini. Tapi, melihat semangat dan perjuangan mereka, egoku sedikit meluntur.
***
Kutatap Ibu-ibu di depanku dengan iba. Sekitar sepuluh Ibu yang datang di sekolah ini termasuk Mbok tentunya. Padahal, data buta aksara di Dusun ini adalah 30 orang. Tapi, entahlah. Sudah aku dan Mbok bujuk dengan mendatangi ke rumah-rumah warga, mereka tetap tidak menggubris ajakanku untuk ikut program pemberantasan buta aksara ini. Kesibukan ke sawah dan mengurus anak adalah alasan utama, atau memang membaca bukan kebutuhan yang penting lagi buat mereka?Bagaimana bisa memenuhi bakul tiap hari dengan nasi adalah yang ada dibenak mereka. 
“Halah, sudah tua ini Mbak! Endakbisa baca juga ndak apa-apa!” celetuk salah satu warga yang membuat aku dan Mbok hanya bisa menggelengkan kepala.
“Sudah endak mengherankan lagi kok Mbak, keadaan seperti ini !” kata Mbok memaklumi salah satu Ibu-ibu itu.
Aku juga tak sanggup memaksa mereka. Meskipun sedikit, Ibu-ibu di depanku ini adalah Ibu yang memiliki motivasi super ekstra untuk belajar membaca. Dan yang kulihat paling semangat adalah Mbok. Terlihat matanya penuh dengan keinginan untuk tahu. Kadang aku begitu salut Ibu yang hidup sendiri ini. Entah kemana anak dan suaminya, yang aku tahu hanya ada dia dan aku di gubuknya.
Aku begitu menghargai pengorbanan Ibu-ibu ini, yang harus ikhlas kehilangan 30 menit waktunya untuk mencari nafkah, dan rela sabar belajar membaca dan menulis yang belum pernah mereka dapatkan karena tak pernah mengenyam pendidikan.
Aku mulai memperkenalkan diri. Melihat mata mereka yang haus akan ilmu membuat semangatku terbakar. Aku mulai mengajar dari mengenal huruf alfabet. Mereka cukup gembira karena aku menyanyikannya untuk mempermudah menghafal. Kami menyanyikannya bersama-sama. “a.b.c.d.e.f.g-h.i.j.k.l.m.n-o.p.q.r.s.t.u-vwxyz.” Semua bertepuk tangan setelah lagu selesai dinyanyikan. Kami tertawa bangga karena secara tidak sadar mulai hafal huruf-huruf itu. Dan kumandang azan ashar memisahkan pertemuan kami di hari pertama ini. Syukur sedalam-dalamnya terukir dihatiku, karena dapat membantu mereka, menjadi seorang Ibu yang lebih baik.
***
Belum seminggu berjalan, kelas di rumah tua ini semakin sepi. Lamat-lamat anggota belajar kami berkurang. Aku sedikit kecewa dan sedih. Hanya tinggal tiga orang. Mbok, Bu Siti, dan Bu Sugiyah. “Pasti ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa meninggalkan kelas,” batinku. 
“Ibu-ibu, kok sekarang yang berangkat sedikit ya Bu?” tanyaku pada ketiga Ibu di depanku.
Semua saling memandang. Diam dan tak berbicara. Seperti ada sebongkah rahasia yang mereka tutupi. Tidak untuk Mbok. Dia tersenyum, seolah mempunyai jawaban yang aku cari. Aku hanya tersenyum, melihat kedua Ibu-ibu itu penuh ketakutan. Seorang Ibu dengan muka lebam yang aku kenal dengan Ibu Siti angkat bicara.
“Maaf Mbak Ayu, ini hari terakhir saya sekolah. Besok saya endak bisa berangkat lagi!”
Aku tercekat mendengar kata-kata Bu Siti yang aku tahu daya ingatnya cukup kuat itu.
“Kenapa Bu? Apa ada yang kurang dalam mengajar saya?
“Endak kok Mbak. Malah, Mbak Ayu bagus ngajarnya.”
“Lalu kenapa Bu? Kok semua pada gak sekolah lagi?”
“Kami harus ke sawah Mbak kalau siang begini.”
“Ya sudah kita ganti jam saja, yang Ibu-ibu disini bisa semua hadir, gimana?”
“Endak usah Mbak. Kami benar-benar minta maaf.”
Itulah kata-kata terakhir Bu Siti. Semenjak saat itu dia tak nampak lagi di kelas ini. Semua rumah Ibu-ibu sudah kudatangi satu per satu untuk mengajak mereka kembali sekolah. Tapi, tak ada yang membukakan pintu buatku. Semua pintu tertutup rapat. Seolah rumah mereka haram untuk kuinjak. Aku kehilangan akal. Pak Lurah yang mengepalai Dusun itu pun tidak mau angkat bicara. Aku semakin bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab mereka tak mau sekolah lagi? Akhirnya aku beranikan untuk bertanya kepada Mbok.

***
            Kini tinggal tersisa Mbok yang belajar membaca. Misteri hilangnya satu persatu anggota belajar ini belum juga aku tanyakan. Aku masih tetap semangat mengajar seperti biasa. Meskipun hanya mengajar Mbok.
Aku salut dengannya, dari awal hingga kini, saat semua menghilang dan tak ada, Mbok masih semangat belajar dan belajar. Dia juga selalu berangkat dengan semangat yang seolah selalu dia alirkan kepadaku. Bahkan dirumah pun dia belajar sendiri dikamarnya, mengulangi pelajaran-pelajaran yang aku ajarkan. Walau terkadang dia malu-malu saat aku pergoki sedang mengeja sebuah kata.  Dia tak kenal lelah belajar membaca, mengulang kata-kata, mengejanya, dan mencoba membacanya perlahan.
Sekarang kami tinggal berdua di tempat sekolah yang hampir sebulan menjadi sekolah membaca.
“B e be, l a la , bela. J a ja, r, belajar.” Eja Mbok memperlihatkan perkembangan membacanya yang pesat.
Kami berdua bersorak karena Mbok sudah bisa membaca. Aku tersenyum dan memeluknya erat. Dia menangis haru. Matanya bersinar terang. Kebahagiaan yang tak terkira tergambar di mata sayunya itu. Dia berkali-kali mengucap Hamdallah.
            “Mbok, sekarang Mbok sudah bisa baca.”
            Dia tak berucap, hanya anggukan lemah yang dia lakukan. Dia memelukku sekali lagi. Seperti ucapan terimakasih tulus dari anak untuk gurunya.
            “Mbok, kenapa yang lain tak berangkat belajar lagi? Maaf Mbok, tapi Mbok pasti tahu?”
            “Mereka takut, Mbak Ayu.” Suaranya bergetar.
            “Takut? Kenapa?”
            “Takut ketahauan suami mereka.”
            “Kenapa harus takut?”
            “Suami di Dusun ini tidak mengijinkan istrinya untuk sekolah. Tugas mereka hanya urusan dapur, sumur, dan kasur. Tak penting itu sekolah. Kalau mereka ndak nurut, ya dihajar”
            “Dihajar?”
            “Iya, bukankah Mbak Ayu tahu, Muka lebam Bu Siti beberapa hari lalu?”
            Aku mengingat gumpalan darah kering di pipi Bu siti yang menyembul itu. Ternyata bekas pukulan Suaminya.
            “Ini gak bisa dibiarkan Bu, aku akan bicara ke Pak Lurah.”
            “Percuma Mbak, La wong Istrinya Pak Lurah juga gak bisa baca kok. Dia pasti gak mau tahu.”
            Pantas, Pak lurah cuek saat aku melaporkan ketidak berangkatan Ibu-ibu di sekolah, ternyata Pak Lurah juga sama dengan suami-suami di dusun ini.
            “Lalu suami Ibu?” tiba-tiba tanyaku membuat Mbok terdiam. Hening seketika menemani kami berdua.
Tiba-tiba Ibu separuh baya di depanku ini menangis. Aku sangat menyesal menanyakan masalah privasi Mbok.
            “Maaf Mbok!” ucapku cepat melihat dia menangis.
“Ndak usah minta maaf to Mbak, saya ndak apa-apa kok.”
“Trus, kenapa Mbok menangis?”
“Saya cuma ingat suami saya Mbak. Dia sudah lama merantau di Jakarta. Tetapi, belum pulang-pulang. Setahun terakhir saya mendapat surat dari Pak Pos. Saya Ndak berani buka. Takut, Mbak. Lagian saya juga ndak bisa baca. Saya tahu itu dari Mas Karyo karena Pak Pos bilang surat dari Jakarta.”
“Jadi Mbok belum tahu isi surat itu?”
“Belum Mbak, makanya saya harus bisa baca. Biar tahu isi surat Mas Karyo!”
Mata Mbok penuh harapan. Ternyata semangat yang menggebu untuk belajar membaca karena ingin bisa mengerti surat suaminya. Tak terasa air mataku menetaes. Betapa sangat panjang dan melelahkan penantian Mbok. Mungkin rasa penasaran isi surat itu memakan habis tubuhnya hingga tinggal kulit saja.
“Kenapa Mbok gak minta dibacain orang lain?”
“Saya ndak punya siapa-siapa Mbak. Kalau dibacain orang lain malu ah. Kan urusan rumah tangga, ndak elok Mbak. Saya selalu bawa surat Mas Karyo kemana saya pergi Mbak. Aku merasa Mas Karyo selalu ada disamping saya kalau surat ini saya bawa.”
Kulihat amplop putih yang sudah lusuh dan penuh noda hitam tanah itu. Mungkin, sering dibawanya ke sawah. Dia memegang surat itu seperti kitab suci yang sakral. Dipandanginya surat dari suaminya yang sangat ia rindukan. Sesekali dia mencium surat itu dengan air mata berlinang.
“Mbak Ayu, boleh bacakan surat ini untuk saya?”
“Aku Mbok?” aku kaget. Mendapat amanah membaca surat yang  sangat berarti ini adalah sabda suci yang tidak sembarang orang bisa membacanya. Tetapi, dia memilih aku. Orang yang 35 hari baru dia kenal. Ada seberkas rasa bangga akan kepercayaan Mbok.
“Iya, saya percaya pada Mbak Ayu!”
Aku tersanjung dengan ucapannya. Kuraih surat lusuh itu. Benar, surat itu dari Karyo, suami Mbok di Jakarta. Tiba-tiba mataku berair. Melihat kepahitan seorang istri yang menunggu suaminya tanpa kabar. Memang ada surat, namun apalah arti surat itu, kalau seorang istri tak mampu membaca pesan itu. Dan Membuatnya tenggelam dalam ketidaktahuan dan penantian yang panjang. 
Aku sanggup merasakan kepedihan Mbok. Hatinya remuk redam menunggu belahan jiwanya dengan segenggam sandi dalam kertas yang tak sanggup ia terjemahkan. Dia resah, menunggu aku membacakan surat suaminya dari Jakarta. Aku mulai membaca surat yang sudah satu tahun ini.
Jakarta, 25 April 2000
Teruntuk Rafi’ah di Sambirejo.
Assalamu’alaikum.
Maaf baru mengirimkan kabar kepadamu. Aku di Jakarta baik-baik saja, tak usah memikirkan aku. Kamu di desa baik to? Insya Allah baik selalu.
Rafi’ah, sekali lagi aku mohon maaf, bukan aku ingin membuatmu terluka, bersedih, atau kecewa. Tapi, ini terpaksa kulakukan. Jujur, aku kecewa menikah denganmu, sudah bertahun-tahun kita menikah, tapi belum juga kita dikaruniai anak. Aku sangat terpukul ketika kamu dinyatakan tidak bisa hamil. Dengan sesal, aku sebagai suamimu menurunkan talak tiga kepadamu. Dengan ini, kita tak ada ikatan apa-apa lagi!
Maaf jika keputusanku terlalu kejam, tapi yakinlah ini yang terbaik baut kita. Jangan kau tunggu aku. Aku takkan pernah pulang. Karena aku telah berkeluarga di sini, Di Jakarta, hidup bahagia dengan istri baru dan calon anak-anakku.
Semoga kamu dapat menerima keputusanku. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah Rafi’ah. Doaku selalu menyertaimu.

Mantan Suamimu
                                                                                                                Karyo

Mbok yang baru aku tahu bernama Rafi’ah ini mematung. Tak bergerak. Air mata membanjiri bukan hanya matanya, tetapi juga hatinya. Luka yang sudah lama bernanah kini menganga tambah parah. Dia memelukku erat. Sangat erat. Kami berpelukan dalam air mata yang sama-sama meluap. Air mata luka akan isi surat dari Jakarta.
***


0 komentar:

Post a Comment