Aku berjalan dalam luasnya hati. Menelusuri tiap sayatan luka yang telah kau buat. Sebenarnya tak perlu berjalan, diam saja luka-luka ini sanggup kulihat. Goresan, bahkan luka bakar pun telah mendominasi hatiku. Ada yang menghitam hampir sembuh, dan ada pula yang merah menganga tanda baru kau buat. Aku mencoba melihat lebih dekat. Tiap goresan luka ini ternyata juga tertulis sebuah waktu. Aku tertegun, melihat betapa lihainya hati merekam semua hal yang membuatnya bahagia atau menyiksanya dalam luka. Aku masih memisahkan diri dari ragaku, mencoba merenungi tiap goresan yang kau abadikan dalam hatiku.
***
Kau adalah perempuannya, akumu waktu itu. Betapa bahagianya dirimu menjadi satu-satunya wanita dihatinya. Dan hatimu merekam episode itu. Memang bukan luka yang tergores, tapi sebuah kebahagiaan atau mungkin awal sengsara yang belum hatimu curigai. Karena kala itu kau memang telah buta. Gerhana cinta menutup mata hatimu untuk mencium gelagat tajam rayunnya yang sanggup menyayat hatimu. Lagi-lagi hatimu hanya mampu merasa tanpa sanggup menerka rasa apa di episode berikutnya.
Kau merasa spesial, dan tak bisa kaupungkiri kala itu matanya memang menunjukkan kejujuran. Apakah kau yang telah salah mengartikan tatapannya? Atau memang dia yang lihai memainkan ucapan dan matanya? Kauikira dia telah melatihnya dengan keras jika untuk sebuah akting.
Sore itu, dia mulai memperlihatkan bakatnya. Rayuan demi rayuan dia hembuskan di telingamu. Dengan sedikit mendesah dia membawamu terbang ke puncak asmara. Bukan cinta, tapi puncak nafsu dan kenikmatan. Bodohnya kau tak sanggup melihat curamnya jurang dibawah kakimu. Kau memang tak sempat melihat ke bawah, terpukau oleh tiap jengkal bukit yang kaudaki bersamanya. Nafasmu memburu, sejengkal lagi akan kaugapai puncak itu. Dan kau mengerang penuh kepuasan, menaklukan titik tertinggi yang dia sebut dengan cinta.
“Kenapa kita lakukan ini?” tanyamu padanya kala itu.
“Karena kita saling mencintai.”
Teori itu yang melenyapkan semua logika yang menyembul dalam gelap malam setiap sebelum kau beranjak tidur. Gravitasi teramat menyiksamu karena dengan mengingat teori itu membuat bayangan tubuhnya terasa berat menindih tubuhmu dalam peluh. Memori itu terus mengejar seperti bayanganmu sendiri. Bagaimana kau bisa lari, sedangkan gerhana cinta masih membuatmu buta oleh asmara. Sekali lagi, dia masih lihai mempermainkan lidah dan matanya. Mungkin karena sepak terjangnya mempraktikannya kepadamu membuat akting itu menjadi seolah nyata. Hatimupun belum mengendusnya.
Puncak kenikmatan kini sudah terasa biasa. Hati ini mulai lelah dengan rutinitas yang mengatasnamakan cinta. Ranjang hotel dekat sekolahmu bisu. Hanya deritan-deritan kecil yang menggema lirih dalam tiap peluh kalian yang beradu. Semua sudah terasa biasa. Kamar biasa. Kasur biasa. Kondom dengan merek biasa. Dan tentunya seragam SMA biasa. Tetapi, dia masih dengan bibir indah dan hentakan yang tak biasa. Meskipun menurut hatimu semua sama, tetapi tidak untuk nafsumu.
Sore itu, sepulangmu dari sekolah. Dia mengajakmu. Keanehan menyeruak dalam dinding hatimu yang semakin galau oleh makna cinta. Dengan biasa dia mengatasnamakan cinta untuk menekuk lidahmu berucap kata “ya”. Gerhana itu kembali siaga. Tapi, kau terlalu lelah dengan rutinitas yang membuat nafsumu ketagihan, namun hatimu berteriak kekeringan. Walaupun keringat telah dia umbar dalam-dalam, tapi hatimu masih merasa gersang, bertanya akan makna cinta.
Kau sanggup mengendalikan hipnotisnya. Bukan, sebenarnya mengendalikan nafsumu sendiri. Dia tampak kecewa, birahinya sore itu mungkin tak sanggup dia tahan. Kaupun demikian, kalau sang hati tak kuat menyadarkanmu, mungkin ritual di hotel terulang sore itu.
Gerhana kini mulai setengah menutup matamu. Sebongkah kekuatiran menjelma kala di usiamu yang dini telah tumbuh janinnya. Dia pun sama. Takut. Selain Dia masih Sekolah, ketidaksiapannya menjadi calon Bapak memaksa dia melupakan rutinitasnya. Lupa hotel itu, ranjang itu, kondom itu, erangan itu dan tentunya peluhmu. Dia hanya diam, tak menatapmu seperti kemarin, bahkan bakat aktingnya telah mulai luntur. Apakah dia dalam guncangan yang hebat? Hingga semua terlihat tak biasa? Atau dia tak menyangka akan hadirnya seorang janin yang sesungguhnya itu bukan hak manusia, kalau tak butuh, bisa halal-halal saja membuangnya?
Kau semakin terdesak. Seragam putih abu-abu itu menjadi terlalu ketat. Dia tak lagi nampak. Kau kuatir, apakah dia telah lupa dengan cinta yang diagung-agungkannya kala di ranjang itu? Kau tetap mencari, jawaban atas cinta hakiki.
Air matamu yang seakan kering tak mampu lagi terlihat oleh manusia yang melihat dengan matanya tapi tidak dengan hatinya. Gerhana cinta kini telah tersingkap semua, cinta yang dia ucapkan hanya fatamorgana. Lenyap dalam sekejap.
Dia keluar dari sekolah dengan alasan pindah rumah. Tanpa pamit, tanpa kata-kata, dan tanpa ucapan pisah. Semua telah dia renggut. Hanya janin dan luka yang dia tinggalkan kepadamu. Kau coba tegakkan pandanganmu seolah ini hanya ilusi. Sebuah skenario yang butuh penghayatan dalam tiap memainkannya. Sialnya, ini adalah kenyataan dan kau merasa hampa tanpa tujuan dan harapan.
***
Senyumku mengambang, melihat anak kecil dipelukmu. Demi hidupnya kautanggalkan semua cita-cita, keluarga, dan cintamu. Entah masih adakah cinta dihatimuu? Mungkin semua memori yang terekam dihatimu telah tertumpuk luka. Sakit oleh goresan sembilu bertopeng nama cinta. Tapi, anak ini tulus tersenyum untukmu dan untukku. Tanpa akting, tanpa lidah menyembul merayu. “Ah, semoga tak ada setitik sifat Ayahmu merangaki genmu,” kataku dalam hati.
Sekarang bahagia seakan menutup lukaku dan lukamu. Keluarga atas pondasi luka yang mengarang. Semua kisahmu telah kumengerti. Walaupun kisahku masih rapi dalam hati. Karena semua tak perlu kau tahu, yang perlu adalah kau bahagia denganku, sekarang, esok, dan kelak. Itu doaku setiap waktu.
Tapi aku salah. Kau dengan tega memicingkan matamu melihatku. Kau raih anakmu dalam genggamku. Apakah Orang tuamu yang telah kembali menerimamu? Atau kedatangan Ayah anakmu ini membuat kau berubah secepat itu? Lukaku kini bernanah. Luka yang hampir sembuh oleh kedatanganmu padaku dengan perut buncit itu. Kini kau lukai lagi hatiku. Bukankah aku menerima hitam putihmu? Bukankah aku mencintai kekuranganmu? Tapi kenapa kau tak bisa lakukan hal yang sama denganku?
Mataku tak lagi sanggup berairmata. Melihat anakmu yang kuanggap anakku telah kau bawa pergi. Dan kau, orang yang kucintai dengan cerita hidupmu yang tragis dengan lengang pergi tanpa ada cinta terucap dibibirmu.
Mungkin kau telah bosan denganku, dengan ritual ranjangku. Seperti wanita lain yang bersamaku. Kuanggap kau berbeda, mampu menerima apa adanya diriku. Ternyata aku salah. Ternyata bukan hanya cinta yang kau butuhkan.
Janjimu membuang nafsumu hanya sementara. Janji palsu pada dirimu untuk melepas kesalahan yang terlanjur kau buat dengan nafsumu itu. Janji itu bukan benar-benar keluar dari hatimu. Aku tersungkur di tepi ranjang yang biasa menyimpan kesalmu. Air mata yang tertahan kini benar-benar mengalir. Terngiang, ucapanmu di tepi ranjang ini. Menyalahkan takdir akan kecacatanku sebagai seorang lelaki.
“Bukannya aku tak menghormatimu, tapi mana mungkin seorang perempuan bisa hidup dengan lelaki lemah tanpa daya sepertimu!”
***


2 komentar:
Nitip jejak dulu gan. Salam.
bagus sekali...
Post a Comment