Jodoh tak Lari Kemana !




Aku merasa kerdil dihadapanmu. Sayatan luka yang kaubuat dihatiku menganga semakin parah. Setiap ucapan yang keluar dari bibir indahmu sanggup mengiris tipis-tipis semua organku. Teramat sakit kurasa. Jarum-jarum halus dari langit ini masih menusuk kulitku. Aku hanya ingin dosa yang menjalar dalam seluruh tubuhku dapat terlarut olehnya. Air mataku tak kentara oleh usapan sang hujan yang mengalir bersama dalam rindu akan pangkuan sang samudera.

Aku menepi dalam jauh diri, membayangkan sikapmu terhadapku. Meskipun kadang kau tak berkata, namun pandangan jijikmu selalu membuatku meradang. Aku mengerti, aku berbeda dengan teman-temanmu. Yang pandai mengaji, ceramah, atau semacamnya. Aku hanya seorang pendosa. Namun, apa akau dilarang menginginkan seorang Bidadari sepertimu? Aku tak habis pikir, tanganmu pun menolak uluran jemariku ketika ingin berkenalan. Apakah aku najis bagimu?
Berderet pertanyaan menguap, mengkristal terkondensasi oleh dinginnya air hujan. Lalu Jatuh dalam lubang hitam tak berujung tanpa penjelasan.

***

Putaran kali pertama berjumpa denganmu menyeruak kembali. Angin masih membelaiku, menambah hawa dingin hingga ke sumsum tulang.
“Hai, cewek cantik. Boleh kenalan gak?” Sapaku padamu, yang manis dengan jilbab menutup rambutmu.
Kau tidak menoleh sedikitpun, masih asyik berbincang dengan teman perempuanmu.
“Hoi! Sombong amit sih loe!” Kataku emosi waktu itu dan tangan ini menggebrak meja kuliah yang bersanding denganmu.
“Afwan, ada apa ya?” Tanyamu, kali ini kau menengok, namun pandanganmu ke arah bawah meja.
“Gue, bukan Afwan. Tapi Irwan. Dan gue ada di depan loe, bukan dibawah kursi!” kataku jengkel. Sepertinya kamu lebih tertarik dengan sepatu adidasku. Atau kamu memang sengaja tak mau melihat mukaku? Aneh sekali.
“Afwan dalam bahasa Indonesia berarti maaf, dan maaf jika pandanganku mengganggumu. Aku hanya ingin menjaga pandangan, karena dari pandangan bisa mengundang sesuatu yang tak diinginkan.” Jelasmu panjang lebar, sambil tetap menundukkan matamu.
Jujur, kala itu aku benar-benar gemes melihat tingkahmu. Aneh dan membingungkan. Tapi, tak bisa kupungkiri, itulah kali pertama aku mengenal bahasa arab, afwan.

***

Hujan menebas habis tubuhku, menyisakan pilu yang menyerbu. Kenangan perjumpaan itu membuatku tersenyum kecut. Mengenang saat-saat aku masih mampu melihat indah wajahmu yang selalu tertunduk itu.

Kini halilintar menunjukkan kuasanya, aku masih belum beranjak dari tanah lapang ini. Berharap sang hujan mencuci habis dosa-dosaku, agar aku mampu memilikimu. Kini, terbesit kala aku merasakan suatu hal aneh. Bayangan wajahmu mengisi tiap pandangan mataku. Perkataanmu bagaikan sabda raja yang menundukkanku. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Mungkin itu yang dinamakan cinta. Aku yang tak pernah mengerti kata itu, harus rela bertekuk lutut dalam manis pahitnya cinta. Kenangan denganmu berputar kembali.

Masih terekam dalam benak baju yang kau pakai saat itu, Kemeja panjang dengan motif bunga-bunga dan dipadu dengan rok panjang berwarna pink senada dengan warna bunga di kemejamu itu. Jilbab Pink juga membalut indah wajahmu begitu anggun. Pagi itu, kau sedang sendiri di taman dekat kampus, karena teman-temanmu belum ada yang datang. Aku mendekatimu.
“Zahra, boleh gak gue duduk di samping loe?” Tanyaku polos.
Kau tak bersuara seperti biasa, malah menghindar dan berlalu dariku. Aku mengejarmu, dengan lari kecil kuberhasil mendekat kembali sambil berjalan mengikutimu entah kemana.
“Afwan, Ra. Gue cuman mo ngomong sesuatu.”
Kau berhenti. Mungkin kaget, mendengar aku menggunakan kosakatamu.
“Kamu mau ngomong apa?” balasmu waktu itu.
“Gue cinta ama loe, Ra! Mau jadi pacar gue?” Kataku agak gugup di lorong jalan kampus itu.
Aku sudah bersiap mengejarmu, karena kupikir kau akan lari menghindar mendengar kata cinta. Ternyata prediksiku salah, kau tak bergeming sedikitpun.
“Perlu kamu ingat dan lebih baik kamu catat, Akhi.  Pertama aku gak pacaran! Kedua aku gak cinta sama orang kayak kamu. Paham?” sekarang kau berlalu dari hadapanku, meninggalkanku mematung menahan perihnya luka atas kata-katamu.

Aku tak ingin mengejarmu, masih diam membeku dengan sebongkah luka hati atas penolakanmu. Apakah karena aku tak seperti teman-temanmu? Ataukah karena aku gak bisa mengajar adik-adik kelas tentang agama?  Oh mungkin penampilanku yang brutal dan tidak serapi teman-temanmu yang selalu kau panggil ikhwan itu? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu relunng hatiku. Sampai kini, belum ada jawaban atas semua itu.

***

Hujan telah mereda, membuat air mataku yang berlinang kian jelas. Derasnya kini telah mengalahkan hujan. Aku tersungkur. Menahan beban pertanyaan yang semakin berat. Aku terisak dalam kelam. Hanya gemuruh air yang terdengar. Mereka berbisik, melantunkan simfoni alam yang begitu indah. Seperti indahnya kata-kata perpisahan itu. Bayangannya menyeruak dalam genangan air hujan di atas tanah yang kupijak. Kenangan terakhirku denganmu mengalir seperti air.
“Zahra, setelah ini loe masih di sini khan?” tanyaku padamu saat wisuda itu.
Dengan kebiasaanmu menundukkan pandangan yang sudah dapat kuterima, kau pun menjawab, “aku langsung kembali ke kotaku, Akhi.”
“Ke Kalimantan? Gak kembali ke sini?”
“Iya ke Bontang, ke Semarang? Entahlah, kalau emang Alloh berkehendak.”
“Emang kamu mau tetep disini ya?” tanyanya kepadaku. Aku nyengir sendiri, inilah pertama kali kau bertanya kepadaku.
“Ada yang lucu?” tanyamu lagi dengan sedikit keheranan.
Hatiku membuncah waktu itu, walaupun hanya mendengar dua pertanyaan darimu.
“Gak lah, gue pulang kok ke Jakarta. Well, Selamat jalan ya, Ra!” Kataku dengan setumpuk kesedihan karena tak akan melihatmu lagi.
“Ok, kamu juga hati-hati!” kau pun benar-benar akan beranjak pergi.
Tapi, sebelum kau sempat melangkahkan kakimu untuk pergi, dengan segera kuajukan pertanyaan terakhir untukmu.
“Ra, gue mungkin gak sih bisa berjodoh ama loe?” tanyaku polos, kau sepertinya tersenyum. Tapi aku tak sanggup menerka ekspresi mukanmu, karena kau masih menunduk.
“Akhi Irwan, jodoh itu hanya Alloh yang menentukan. Kita gak tahu siapa jodohnya siapa, yang jelas tiap insan telah diciptakkan berpasangan. Gak usah cemas, kalau memang kamu jodohku, kita pasti dipertemukan kok.”
“InsyaAlloh.” Kata terakhirku sebelum kau pergi meninggalkanku menuju keluarga besarmu.

Hujan telah benar-benar berhenti. Menyisakan langit yang masih murung oleh sisa-sisa mendung. Airmataku berganti senyum. Sebuah ketenangan akan janji Alloh akan jodohku. Sisa mendung di langit mulai tersingkap, begitu juga kegundahanku. Kata-katanya waktu itu mampu menenangkanku. Seperti alam ini yang mampu menembus relung jiwaku. Aku bangkit. Berdiri menatap langit yang seolah tek henti menyemangatiku. Aku yang baru telah lahir kembali.

***

Undangan pernikahan ini telah ditanganku. Aku harus menghadiri pernikahan teman dekatku. Dia mangancamku kalau aku tak menghadiri pernikahannya. “Bukankah datang di sebuah undangan adalah wajib sepanjang acara walimah itu tidak ada hal-hal yang mungkar, yang menjadikan terlarang kita mendatanginya atau ada pertimbangan syara’ lainnya.” Terngiang kata-kata Ustadz di benakku. “Kecuali aku sakit, atau jarak yang terlalu jauh. Lagian acaranya dilakukan di Semarang,” batinku memprovokasiku untuk datang.

Aku terbang dari Jakarta ke Semarang dengan salah satu maskapai favoritku. Dari Bandara Ahmad Yani, aku melanjutkan perjalanan dengan taxi ke arah Tembalang, Tempat Kampusku berdiri. Aku memaki baju andalanku yang sudah satu tahun menjadi Favoritku. Baju koko putih ini aku padankan dengan celana bahan abu-abu. Mungkin temanku ini akan tersentak jantungan melihat penampilanku sekarang. Memang tak se-modis dan se-keren dulu. Tapi, menurutku kini baju ini terasa lebih cocok dan nyaman buatku. Daripada aku harus memaksa memakai jins pensil dan kemeja junkis yang menjadi identitasku masa kuliah dulu, malah membuatku tak nyaman. “Lagian semua telah berubah,” batinku.

Pesta telah dimulai. Kutelusuri karpet merah yang berujung di dalam gedung. Lagu demi lagu bergema menambah keindahan acara ini. Dari luar kulihat temanku itu penuh kebahagiaan. “Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah.” Doaku dalam hati.

“Akhi, Irwan ..!” tiba-tiba suara itu membuka mengejutkanku. Suara yang sempat membuat luka dalam hatiku kini memanggilku membuka memori yang tak akan pernah terlupakan hingga kini. Aku menengok mencari sumber suara. 

Subhanalloh, Perempuan berjilbab itu melambaikan tangannya. Kini dia terlihat sedikit bertambah bobotnya. Namun, aura kecantikannya masih seperti dulu. Tak berubah. Dia tidak lagi menunduk seperti dulu, hanya sedikit. Gaun panjangnya menari dalam terpaan angin pagi ini.
“Assalamualaikum ya Ukhti.” Sapaku dengan menelungkupkan tanganku ke dada.
“Wa’alaikumsalam.” Jawabnya khusyu’
Kami berdiam cukup lama. Tiga tahun bukan waktu yang pendek. Dia memulai, mencoba mencairkan suasana.
“O ya, kenalkan. Ini Isa.” Dia mengenalkan lelaki kecil yang ada di sampingnya. Bocah ini sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya sangat mirip dengan perempuan di depanku ini. Kemudian dia bersalaman denganku.
“Isa adalah anakku.” Terangnya.

Aku tak bersuara. Hanya anggukan kecil yang sanggup kulakukan. Pupus sudah harapanku. Hanya senyum yang kucoba perlihatkan kepadanya, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal, hati ini masih perih mencoba berdamai dengan ketetapan Sang Khalik ini.
“Trus, mana Suamimu?” tanyaku  sambil celingukan mencari wajah  tamu undangan yang mirip dengan Isa.
“Kamu? Gak gue-loe lagi sekarang?” candanya sambil sedikit terkekeh menghindari pertanyaanku.
Wajah riangnya tiba-tiba mendung penuh kesedihan.
“Dia sudah dipanggil Alloh, Akh.” Katanya perlahan.
Kontan kulontarkan kata maaf kepadanya.
Dia menjawab, “gak papa kok! Sudah satu tahun.” Dengan senyum yang terpaksa.
“Ee ... masuk aja yuk. Kayaknya, mempelai sudah menunggu ucapan selamat dari kita. ” Ajakku  untuk memasuki gedung. Berharap dia dapat melupakan kesedihannya itu. Jujur, Aku tak sanggup melihat kesedihan di indah wajahnya itu. Melihatnya dalam kesedihan, seperti penyiksaan buatku.
Lagu yang begitu indah menyambut kami. Senyum temanku merekah, melihat sahabatnya datang di pesta pernikahnnya. Setelah menyalami mempelai, kami menyambung percakapan tadi yang terpotong. Melihatnya begitu dekat denganku membuat jantungku berdetak keras. Keringat dingin menetes dari tadi. Tanganku gemetar. Ada ketakutan yang menjalar di seluruh tubuh. Mungkin niatku untuk melamarnya semakin menjadi. “Oh Robb, bantu aku!” doaku lirih.

Aku menjawab dengan sedanya pertanyaan-pertanyaannya. Aku tak bisa fokus. Dalam otakku berpikir menyusun kata yang ingin terucap. Jantungku semakin berdetak hebat. Ketakutan akan penolakannya menciutkan nyaliku. 

Kini dengan tekad yang meruncing. Dan kepasrahan total akan keputusan Alloh memacu keberanianku. Aku memulai. “Kuserahkan hasilnya kepada-Mu,” batinku.
“Ra,” panggilku.
“Iya.” Jawabnya.
“Maukah ... hmm ... hmm.” Bibirku tak sanggup berkata-kata.
“Maukah apa, Akh?” tanyanya bingung.
“Hmm ... hmm ... hmm ...” masih belum juga kata itu keluar.
“Kamu mau ngomong apa sih?”

Keringat dingin mengalir semakin deras. Bukan hanya tangan, kakiku pun ikut bergetar. “Robb, pliss tolong hamba.” Doaku dalam hati.
“Kamu sakit?” tanyanya kepadaku melihat keringat yang tak kunjung berhenti.
“E..e...enggak kok, aku baik-baik saja.” Jawabku grogi.
“Ukh, aku cuman mau ngomong.”
“Dari tadi khan sudah ngomong?”
“Maukah kau menjadi muhrimku?” kata-kataku meluncur dengan lancar.
Tiba-tiba kami berdua merasa hening. Meskipun keramaian mengisi seluruh gedung.

Dengan resah aku menunggu jawabannya. Menunggu kata-katanya seolah menanti kematianku. Aku benar-benar dalam kekuatiran yang nyata. Jantung berdegup tak beraturan. Tak lupa dengan komat-kamit aku baca Ayat Kursi dan Surat Ikhlas. Berharap, Alloh membantuku mengetuk hatinya. Aku memejamkan mata. Takut kata-kata penolakan itu mengisi gendang telingaku entah sudah berapa kali kudengar. “Aku pasrah Robb,” pekikku.

“Afwan Akhi, masih banyak akhwat yang lebih baik daripada aku.” 

Akhirnya jawaban itu yang kudengar. Kurasakan bumi ini berhenti berputar. Kesedihan menjulang dalam kalbu. “Apakah dia bukan jodohku, Robb? Apakah pertemuan ini tak berarti apa-apa?” kataku sedikit kecewa. Tapi, Aku mencoba kembali meyakinkannya.

“Menerima atau menolak pinangan dari seseorang adalah hak seorang wanita, tapi tolong pikirkan kembali Ukhti. Aku siap menjadi Imammu dan anakmu. InsyaAlloh aku siap.” Kataku lantang tanpa ada keraguan sedikitpun. Entah keberanian darimana hingga aku dapat begitu lancar berkata di depannya.

Kulihat air matanya mengalir. Begitu deras. Dia memeluk erat Isa yang berada disampingnya. Dia kali menatapku, mencoba mencari kebenaran dan ketulusan dalam tatapanku. Mata kami beradu. Inilah kali pertama kulihat indah matanya. Begitu teduh. Sesaat dia menunduk. Dan tak kudengar dia berucap. Hanya anggukan yang dalam dia berikan. Dia masih menangis. Apakah ini anggukan pertanda dia menerima  pinanganku?

Alhamdulillah, Ya Robb !! aku tersungkur dalam sujud syukurku. Berterima kasih kepada sang Pencipta. Dalam sujudku, sayup-sayup terdengar alunan musik yang melayangkanku pada cinta-Mu, wahai Robbku.

demi cinta ku pergi
tinggalkanmu relakanmu
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini
ku alami ku lewati

suatu saat ku kan kembali
sungguh sebelum aku mati
dalam mihrab cinta ku berdoa semoga
suatu hari kau kan mengerti
siapa yang paling mencintai
dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya
karena cinta ku ikhlaskan
segalanya kepadanya
untuk cinta tak pernah
ku sesali saat ini

***

0 komentar:

Post a Comment