Sayup-sayup angin malam menyentuh kulitku dengan nakal, serasa menelanjangiku dalam tawa penuh hinaan. Aku tersenyum kecut, terprovokasi oleh suasana yang begitu menjijikkan, dan tetap akan selalu menjijikkan jika aku terus berdiam di tempat ini. Tempat wanita-wanita “terpilih” harus merelakan tubuh mereka untuk para lelaki bersertifikat. Aku masih tak mengerti, betapa berharganya sertifikat itu, hingga seperti surat kuasa Tuhan yang sanggup merenggut keperawanan tiap gadis di sini.
Sudah hampir tiga bulan aku mengabdi, di sebuah perkampungan yang dijaga ketat oleh para lelaki kekar berseragam. Ditangannya dilengkapi dengan sebuah pistol, yang siap membunuh siapa saja bagi yang berani melawan atau kabur dari perkampungan.
Kampung ini layaknya sebuah perumahan, dengan tiap rumah dihuni oleh wanita-wanita “terpilih” dan dua penjaga di depannya. Sebelumnya, aku begitu bangga menjadi wanita yang terpilih. Dapat mengurangi beban Orang tua dengan penghasilan sendiri adalah impianku sejak dulu, meskipun aku harus rela berpisah dengan mereka untuk hijrah di kampung ini.
“Bapak ndak usah kuatir, nanti kalau aku sudah ada duit banyak, aku kirimi buat Bapak.”
“Itu gak usah dipikir mumet-mumet. Sing penting kamu baik-baik disana!”
“Bener kata Bapakmu kui, ojo sampe ninggal sholat ya Nduk!”
“Iya, Bu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Bapak bangga sama kamu Nduk,” terisak sambil memelukku.
“Ibu juga seneng, dari semua gadis Desa ini Cuma kamu yang terpilih Nduk.” Kata Ibu, ikut terisak.
“Yo wis, aku berangkat dulu ya Pak, Bu!” Kata-kata terakhirku kepada keluargaku karena dua lelaki berseragam telah datang untuk menjemputku. Tak lupa, sebelum aku meninggalkan Desa ini, kukecup kening Bapak, Ibu, dan Adik lelakiku, Darwis, yang sudah terlelap tidur.
***
Tak terasa airmataku meleleh, mengingat kembali perpisahan itu. Aku cepat-cepat mengusap airmata ini, takut semua bedakku luntur. Aku masih di depan kaca rias, merasakan sepoi angin dari jendela yang kini memamerkan nikmatnya sebuah kebebasan.
Jam sembilan, angka sembilan di jam wekerku ini menunjukkan saatnya aku harus beraksi. Sudah menjadi scheduleku untuk memasang badan setiap hari pukul sembilan malam.
Pintu telah diketuk, aku harus cepat membukanya. Didepanku sudah berdiri seorang Lelaki dengan tangan menggenggam sebuah sertifikat. Dia menunjukkan kertas ber cap itu, aku memeriksanya dengan teliti. Sebenarnya ini hanyalah prosedur yang diajarkan bagi kami, para wanita penghuni kampung ini. Aku mengangguk lemah. Pertanda dia benar-benar lelaki tersertifikasi.
Aku memandangnya lekat. Dia seorang lelaki yang tegap dan tinggi, dia juga tidak begitu bernafsu dan terburu-buru seperti yang lainnya, “elegant,” puji batinku.
“Ada minum?” tanyanya sambil duduk di kursi tamu layaknya seorang tamu.
Aku hanya diam, menelan keanehan pada lelaki ini. Kuambil anggur dengan gelas kristal yang memang sudah menjadi sarana wajib di setiap rumah.
Aku menyodorkannya separuh gelas minuman beralkohol di depannya. Dia meminumnya hanya sekali teguk. Aku masih diam, mengamati begitu tampan lelaki di depanku ini. “Tapi, bukankah semua tamu yang masuk rumah ini adalah lelaki tampan? Tinggi? Dan tegap? Entahlah kenapa aku merasa dia berbeda.” Bisik hatiku berkomentar.
Dia menggeser tubuhnya mendekatiku, “Bisa kita mulai?” tanyanya sangat lembut hampir berbisik. Dia duduk sangat dekat, hingga hanya sejengkal jarak tubuh kami. Dia mulai menyentuh tanganku, mengelusnya penuh kelembutan. Lalu, bibir ranumnya menempel dibibirku, dia menciumiku dengan lembut.
Tangannya berkeliaran menikmati tiap inchi keindahan tubuhku. Aku mendesah, merasakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dia mulai memainkan pinggulnya, seirama dengan denyut jantung kami yang berburu. Nafas kami beradu, tubuh kami saling terpaut lengket seolah menyatu. Hentakan demi hentakan tubuh kekarnya membuat kenikmatan yang tak sanggup kujelaskan. Aku terkapar dalam puncak asmara, melenakan seluruh syaraf perasaku hingga hanya hangat tubuhnya yang kurasakan. Tubuh kami masih tertaut, meskipun hanya di sofa ruang tamu, namun begitu nyaman seolah dalam permadani yang menjulang.
Aku berteriak parau, peluhku menetes, lemas. Berangsur-angsur tubuhnya menjauh, kami sudah tak tertaut. Dia masih terengah dalam peluhnya, aku sudah beranjak, memakai gaunku yang telah dia tanggalkan.
***
Tiba-tiba aku menangis, entah apa yang ada dibenakku hingga airmataku menetes begitu deras. Mungkin karena aku merasa kotor dan tak berharga, yang setiap malam harus melayani semua lelaki bersertifikat ini. Penyesalan menjadi gadis yang terpilih lamat-lamat membakar habis tubuhku. Aku ingin pulang. Pulang!
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya sambil memakai celana dalamnya kembali.
“Aku ingin pulang. Aku kangen sama Bapak dan Ibu.”
“Kamu tahu khan kenapa kamu disini? Bukankah kamu sudah sepakat sebelumnya?”
“Iya, aku hanya tahu kalau aku menjadi gadis yang terpilih, aku akan kaya, diberi rumah mewah, semua biaya hidup terpenuhi, dan mendapat gaji tiap bulannya. Gadis mana yang tak mau itu! Kalau aku tahu, ternyata aku harus melayani lelaki tiap hari, aku tak akan sudi!”
“Aku mengerti perasaanmu. Bukankah semua telah sesuai prosedur?”
“Persetan dengan semua prosedur itu! Sudah kulewati serangkaian tes sebelum masuk sini!Tes kecerdasan, volume otak, fisik, dan kesehatan. Semua itu kulakuakan demi Keluarga!” kataku dengan nada tinggi.
“Gak tahunya hanya dijadikan pelacur! Buat apa semua tes itu! Omong kosong!” Omelku keras penuh kebencian.
“Kamu mau pulang?” tanyanya sambil menatapku tajam.
Aku mengangguk ragu.
“Tapi, apa mungkin? Di depan begitu ketat penjagaanya!”
“Memang sangat sulit melewati pemeriksaan depan gerbang kampung ini, semua dijaga ketat. Ini adalah misi rahasia!”
“Misi rahasia?”
“Penguasa ingin mengadopsi konsep egenika yang menjadi dasar pijakan pandangan evolusionis Nazi. Egenika berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat.”
“Egenika?” Tanyaku semakin bingung.
Dia melanjutkan, “Menurut teori itu, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara bagaimana hewan berkualitas baik yang dihasilkan melalui perkawinan hewan yang sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit dimusnahkan.”
“Apa? Dimusnahkan? Kita Manusia bukan hewan!!” Teriakku marah.
“Sssst.” Telunjuknya menempel dibibirnya, pertanda jangan bicara terlalu keras.
“Asal kamu tahu, orang-orang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan dikumpulkan dalam pusat sterilisasi khusus karena dianggap parasit yang mengancam, maka atas perintah rahasianya, dalam waktu singkat mereka semua dibabat habis.”
“Oh Tuhan!” aku melongo tak percaya mendengar kekejaman Penguasa itu.
“Dan kenapa anda tahu semuanya?”
Dia diam cukup lama, kemudian bibir indahnya berucap, “karena aku salah satu pejabat penting di sini.”
“Lalu bagaimana dengan kampung ini? Program kekejaman apa lagi?”
“Dia mengumpulkan semua gadis ber gen unggul untuk menghasilkan keturunan yang unggul pula. Semua gadis akan diuji kecerdasan dan fisiknya.”
“Itu alasan ada serangkaian tes sebelum masuk kesini, Tuan?”
“Betul, dan semua lelaki yang berhak meniduri wanita disini juga lelaki yang telah tersertifikasi, harus lulus serangkaian tes yang sulit.”
“Biadab! Jadi dia memerintahkan didirikannya ladang-ladang khusus reproduksi manusia seperti ini!” Serapahku tak terbendung lagi.
“Ssssst.” Dia memberikan kode untuk tenang kali kedua. Bicaranya sangat tenang dan pelan. Dia melanjutkan, “Dan Para bayi yang lahir kemudian disiapkan menjadi prajurit masa depan olehnya.”
“Lalu bagaimana nasib orang-orang yang tak terpilih?”
Dia tak menjawab sepatah kata pun. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya meminta jawaban. Tapi, dia tetap diam tak bergeming.
“Tuan, Jawab! Jawab! Tuan!”
“Semua telah dimusnahkan diam-diam.” Dia menjawab dengan muka tertunduk.
“Lalu, bagaimana dengan Bapak, Ibu, dan Adikku Tuan?” tanyaku dengan terisak.
“Tuan! Bagaimana dengan mereka?” Aku menangis histeris. Dia memelukku, seakan merasakan kesedihan yang kurasakan.
“Keluarkan aku dari sini! Tolong Tuan! Keluarkan aku!!” mohonku kepadanya.
“Kita coba!” katanya mantap dan penuh keyakinan.
***
Malam semakin larut, namun penjagaan diluar tidak kalah ketatnya dari beberapa jam yang lalu. Mencoba keluar adalah bunuh diri, tapi keinginanku ini sudah tak bisa dibendung lagi, aku hanya ingin ke Desaku, menengok Bapak, Ibu dan Adikku. Aku juga tak sudi dijadikan alat untuk menghasilkan anak atau prajurit masa depan, begitu menjijikkan!
Akhirnya aku menyetujui sarannya, dengan baju yang terbuka kulangkahkan kaki menuju beranda rumah. Membuat dua penjaga di depan rumah berhasrat adalah misiku kali ini. Aku berjalan lenggak lenggok bak ronggeng dengan memamerkan sebagian dadaku yang menyembul. Aku sentuh lengan penjaga itu yang memegang erat pistol. Kubisikkan rayuan dan sedikit desahan manja di telinga kedua penjaga itu.
Jurusku berhasil, mereka bersedia masuk ke rumah, dan mulai melempar senjata mereka dan membuka seragam dengan penuh nafsu. Mereka mengejarku berharap adegan threesome akan terjadi malam ini. Sebelum tangan penuh nafsu mereka mendarat di tubuhku yang telah separo terbuka, Lelaki asing yang baru aku tahu namanya Tuan Pram memukul dua penjaga itu dengan botol anggur secara bergantian. Darah muncrat dari kepala penjaga itu, langkah mereka mulai tak imbang. Karena masih sempat bisa melawan, dipukulnya kepala mereka dengan gelas kristal yang ada di meja, kemudian pukulan keras tangan Tuan Pram mendarat di rahang salah satu penjaga itu, karena belum juga tumbang.
Nafasku tersenggal, jantungku berdetak sangat cepat. Bisa lolos dari sini tak pernah terbayang di benakku, tetapi sekarang semua sudah di depan mata. Aku dan Tuan Pram mengendap-endap menuju beranda yang sudah tak berpenjaga. Mobil Tuan Pram di depan rumah, Tuan Pram berjalan di depanku, sedangkan aku harus mengendap-endap di belakang tubuh kekarnya. Aku takut. Sekujur tubuhku kaku. Peluh membasahi keningku. Nyawa kami adalah taruhan.
Mobil berhasil berjalan, aku berada di bawah kursi belakang pengemudi. Karena kami harus melewati satu pemeriksaan lagi di gerbang depan. Jantungku masih berdetak tak karuan, begitu juga tubuhku yang tak sanggup aku gerakkan. Hening. Sepi. Dan mencekam.
Tiba-tiba Mobil berhenti. Pemeriksaan gerbang kampung dimulai. Aku diam. Ingin rasanya tak bernafas, tapi sia-sia. Aku menunduk dengan penuh ketakutan. Pintu belakang dibuka, nafasku memburu, keringat membanjiri semua tubuhku. Cahaya senter bergerak seperti kunang-kunang raksasa yang terbang. Dia menutup kembali pintu mobil dengan sangat keras hingga suaranya memekakan telingaku. Sayup-sayup kudengar suara Tuan Pram.
“Apa!! Kena pasal 1A?” tanyanya kaget.
“Silakan pilih, Tuan!” terdengar suara Penjaga gerbang kampung.
Hening dan sepi. Tak ada suara apa-apa kecuali jangkrik yang berdendang. Sepertinya Tuan Pram berpikir sangat keras, aku pun tak mengerti apa maksud percakapan mereka. Tiba-tiba kudengar teriakan keras dari Tuan Pram.
“Laaaaaaariiiiiii!!!”
Aku keluar dari Mobil, mengikuti himbauan Tuan Pram. Aku berlari sekencang yang aku bisa. Berlari dan berlari, walau tanpa alas kaki, walau dengan baju setengah terbuka, aku terus berlari menjauhi gerbang perkampungan. Aku memejamkan mata dan berusaha berlari sekuat tenaga sejauh yang kubisa. Hanya bayangan Ibu, Bapak, dan Adikku yang menjelma di depan mata.
Kudengar suara tembakan memecah sunyi, hingga dendang jangkrik terdengar berhenti. Kurasakan sesuatu panas menembus punggungku. Sakit. Ngilu terasa sampai ulu hati. Kudengar sayup-sayup suara tembakan lagi, dan sekali lagi punggungku terasa tertusuk peluru panas dari belakang. Aku tak mampu lagi berlari. Darah mengalir dari dua lubang di punggungku, aku merasa sesak. Jantungku bergerak sangat lemah. Aku tak kuat, tersungkur. Aku masih memejamkan mata. Hanya suara langkah kaki mendekat yang sanggup kudengar. “Itu pasti Tuan Pram, dia pasti akan menolongku.” Kata hatiku.
Kubuka mataku perlahan, kulihat sesosok lelaki tinggi tegap dengan pistol di tangannya. Tuan Pram menunduk, “pasti dia ingin memastikan, apakah aku baik-baik saja.” Sayup-sayup kudengar penjaga gerbang itu berbicara,
“Bagus, Tuan. Kau telah berhasil menembaknya!”
“Lebih baik Perempuan ini, yang mati daripada Tuan yang harus mati karena pasal 1A”
“Asal kalian tahu, nyawaku lebih berharga daripada pelacur ini!”
Kata-kata terakhir Tuan Pram begitu jelas kudengar, tanpa isak, tanpa simpati, dan seperti biasa, mantap dan penuh keyakinan.
***
Pasal 1A
Bagi Laki-laki bersertifikasi yang mencoba mengeluarkan gadis-gadis terpilih dari perkampungan, akan mendapatkan hukuman MATI.

0 komentar:
Post a Comment