Denting jam di dinding kamar ku menjadi kawan bisu di malam ini. Tepat empat hari aku tidak mampu memejamkan mata. Perasaan dan mata ku seolah bekerja sama untuk membuat ku lupa akan kantuk. Tepat nya, Semenjak kedatangan dia di hidup ku. Dia memang parasit yang kini mulai mencuri kebahagiaan hidup ku.
Semua berawal dari keputusan ibu untuk menikah lagi. Kekecewaan dengan sikap ibu yang seolah melupakan kesetiaan Bapak membuat hidup ku semakin kacau. Aku tidak tahu jalan pikiran nya, dan kenapa dia tidak mendiskusikan atau sekedar bertanya pada ku. Ini bukan hal sepele, tetapi juga menyangkut hidup ku.
“rena, ini ibu lakukan buat kamu!”
“buat aku? Jujur deh bu, ini buat kesenangan ibu kan?”
“rena, ibu gak pernah berpikir itu sedikit pun!”
“percuma bu, walaupun aku gak setuju, toh pernikahan itu tetap berjalan!”
“plis, sayang. Jangan begini dong... Ibu hanya ingin yang terbaik buat rena.”
“terbaik buat ku? Atau buat ibu?”
Aku tinggalkan ibu sendiri di kursi kayu itu. Kami tinggal hanya berdua, Bapak sudah dipanggil Tuhan sejak umur ku sembilan tahun. Setiap malam kami selalu duduk bersama di kursi kayu . Kebiasaan saling bercerita apa saja dan saling membuka rahasia adalah agenda rutin kami. Ibu memang sangat jago mencari solusi dari masalah remaja seperti ku, dan solusi dari Ibu benar-benar tok cer.
Akan tetapi kebiasaan itu tidak berlaku untuk masalah ini, Dia menutup rapat-rapat pernikahan nya dengan om bram tanpa membagi cerita dengan ku. Terus terang Aku kecewa dengan sikap nya yang seolah tidak menganggap ku. Mungkin karena Ibu tahu, kalau aku pasti tidak akan pernah mendukung keputusan gila nya.
###
Episode baru dalam hidup ku dimulai, Om bram pindah ke rumah kami hari ini. Minggu yang sempurna untuk bersantai melepas semua penat harus dirusak oleh momen tak menyenangkan ini. Kebencian ku kepada pasangan pengantin baru ini semakin menjadi. Kebersamaan mereka, tawa mereka berdua, dan banyak hal yang mereka lakukan menyakitkan hati ku. Tanpa sadar mata ku berkaca-kaca, dengan cepat ku usap air mata ku, berharap Ibu tidak melihat ku menangis.
“rena, om bram sekarang menjadi Ayah kamu.” Kata ibu sambil memegang tangan ku
Aku tak bersuara, kebisuan ini sebagai wujud protes atas keputusan Ibu.
“rena, kalo rena gak mau panggil ayah, gak papa kok. Om ajah ya..” Kata om Bram lembut
Aku masih membisu, hanya memandang tubuh nya yang besar. Om Bram memang sudah tidak asing lagi bagi ku. Dia cukup dekat dan selalu ada buat kami. Om bram adalah adik Bapak. Walaupun dia sangat baik, tetapi aku masih tidak bisa menerima dia menggantikan posisi Bapak.
“aku capek, aku mau istirahat!” Tanpa melihat mereka aku langsung menuju kamar ku
Aku meneruskan tangisan ku yang terhenti, air mata ku mengalir dengan deras, seperti aliran sungai yang menuju ke hilir. “apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku tidak bisa menerima dia menjadi Ayah ku. Dan Aku terlalu takut akan kehilangan cinta Ibu, Aku takut, Tuhan”
Kehilangan adalah kata yang paling ku benci. Rasa nya begitu sakit, perih, dan begitu tidak adil. Kehilangan telah menelan Bapak dalam Dunia lain dan menyeret Ibu dalam penderitaan. Tidak hanya itu, Kehilangan juga membuat Ibu banting tulang untuk sesuap nasi dan Melemparkan aku ke dalam golongan dhuafa yang perlu dikasihani. Kini, Aku merasa kau akan kembali menghampiri ku lagi dan Om Bram lah yang telah mengantarkan mu kepada ku, untuk merebut orang yang sangat ku cintai. Aku benar-benar benci pada mu.
###
Belum genap seminggu aku melakukan aksi berdiam diri sebagai protes akan pernikahan mereka, Ibu sudah tiga hari tidak ada di rumah. Mereka pasti bersenang-senang atau berlibur bulan madu. Seperti nya agenda mereka cukup lama, melihat baju Ibu di lemari tinggal beberapa. Ada sepucuk surat dari Ibu, aku sudah hafal dengan kebiasaan Ibu kalau harus meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Pasti pesan untuk membuat makan sendiri, atau “kalau pagi beli aja di mbok darmi, warung pecel di kompleks ini,” Aku malas membuka nya, terasa basi.
Penyakit ku kambuh lagi. Penyakit tidak bisa tidur akhir-akhir ini sering melanda jiwa ku. Seperti ada firasat yang aku pun tak mengerti apa. Bayangan ku kembali pada Ibu, “Pasti mereka sedang memadu kasih, bersenang-senang, dan Ibu mulai melupakan ku.”
Tiba-tiba aku sangat rindu dengan Ibu. Dia yang selalu mengajarkan ku akan ketabahan, ketulusan, dan cinta kasih. Dia juga rela mengorbankan dirinya untuk bekerja serabutan semata-mata agar aku dapat meneruskan SMA. Bila mengingat senyum Ibu yang tulus dan penuh harapan, aku tak kuasa menahan tangis. “Tidak selayak nya aku bersikap seperti ini, Engkau juga berhak bahagia Bu, Aku Ridhlo Engkau menikah lagi, Aku Ridlo Tuhan.” Akhir nya dengan mata yang basah, kata-kata itu meluncur dari hati ku yang terdalam.
Rasa rindu terhadap Ibu yang membuncah mendorong ku untuk membaca surat nya. Dengan Melihat tulisan nya mungkin bisa sedikit mengobati rasa rindu ku. Walaupun aku sudah hafal isi nya, tetapi surat itu ditulis dengan tinta cinta dan air mata seorang Ibu. Aku langsung menuju kursi kayu, mencari surat yang kemarin belum aku sentuh. Aku mulai membuka kertas putih kecoklatan ini. Ku baca dengan hati yang sangat rindu...
Teruntuk Rena yang tercinta
Assalamu’alaikum.
Rena, masih kah kau ingat nak, kamu pernah bilang sama Ibu saat Ayah meninggalkan kita? Kau berkata, “Ibu, aku benci dengan kehilangan. Kenapa Bapak harus menghilang? Aku gak mau Ibu pergi juga kayak Bapak, Aku ingin Ibu selalu di sisi aku.”
Ibu ingat betul dengan semua ucapan mu, keluh kesah mu, dan sedih mu. Ibu mengerti, tidak berat kehilangan seseorang. Tapi, kamu harus bisa menerima. Ingat rena, Tuhan selalu memberi yang terbaik buat kita. Dia maha tahu, Bahkan lebih tahu apa yang kita butuhkan dari pada kita sendiri. Jadi, Tak perlu kau membenci kehilangan nak, dan tak perlu takut akan kehilangan. Karena itulah skenario terindah dari Tuhan untuk kita.
Rena, Pasti kamu benci Ibu menikah lagi dengan Om bram. Semua itu demi kamu Rena! Ibu tak ingin kamu kehilangan sosok seorang ayah, Ibu tidak ingin anak Ibu kurang akan kasih sayang. Melihat Om Bram yang baik, selalu ada untuk kita, dan Rena cocok dengan nya membuat Ibu yakin akan keputusan ini. Walaupun, penolakan mu teramat menyakitkan buat Ibu.
Ku pandangi taman depan rumah ku yang tembus oleh kaca. Disana terlukis senyum Ibu yang ku rindukan. “Ibu, aku tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Cinta mu yang luar biasa sudah cukup buat ku. Aku tidak pernah kekurangan Bu.”
Kulanjutkan membaca surat yang tak biasa di tulis Ibu. Ada sedikit sesal tidak langsung membaca nya kemarin.
Anak ku, Ibu harap, Rena bisa bersikap baik kepada Om Bram. Dia benar-benar mencintai kita. Apakah kau lupa, setiap bulan Om Bram lah yang memberi kita beras? Om Bram lah yang memberi sedikit Uang untuk biaya sekolah mu, nak. Ibu ingin kalian seperti seorang anak dan Ayah. Itu doa Ibu nak.
Tidak terasa air mata meleleh. Aku sungguh merasa bersalah atas sikap protes ku. Ternyata, Ibu punya pertimbangan yang matang menikah dengan Om Bram. “Ya Tuhan, Ampuni Hamba.” Ucap ku perlahan sambil melanjutkan torehan pena Ibu.
Sayang ku, sungguh berat Ibu menulis surat ini. Yang perlu Rena ingat “menerima “ adalah kunci untuk dapat ikhlas akan Takdir Tuhan. Ibu kepingin Rena punya itu. Maafkan Ibu nak, jika Ibu punya salah, maafkan Ibu yang tidak bisa memenuhi semua kebutuhan mu seperti teman-teman mu. Ibu hanya Punya cinta..
Rena, terkadang Ibu pergi berhari-hari, itu Bukan untuk kerja, nak. Akan tetapi, itu adalah jadwal Ibu untuk kemoterapi. Dan vitamin C yang selalu Ibu minum, itu bukan vitamin nak, melain kan obat pembunuh sel kanker dari dokter.
Rena, kamu harus kau tahu nak, Om Bram lah yang membiayai semua administrasi rumah sakit. Dia juga yang memotivasi Ibu, walaupun motivasi Ibu hanya satu, kamu Rena! Hanya kamu motivasi Ibu untuk bertahan hidup! Cuma kamu yang mendorong Ibu untuk berusaha melawan penyakit ganas ini.
Rena, maaf, selama ini harus merahasiakan semua ini dari mu. Itu Ibu lakukan demi kebaikan mu. Ibu merasa lega dan damai sekarang. Harapan Ibu yang terakhir, jadilah anak yang solehah yang taat pada Tuhan ya nak,,,,,
Hati ku teriris perih, jiwa ku hancur. Air mataku terus mengalir. Aku terluka untuk kedua kali nya melawan kehilangan ini. “selama ini Ibu menahan sakit. Ya Tuhan, bodoh nya aku tidak menyadari semua ini.”
###
Catatan : Aku terlambat melihat Ibu ku. Setelah membaca surat nya, aku langsung menuju rumah sakit dimana Ibu dirawat. Terlihat sesosok besar dengan air mata deras berada di tubuh Ibu yang kaku. Tak bisa ku tahan sesal dan rasa bersalah. Kehilangan telah menelan korban nya. Namun, aku tidak ingin dikalahkan nya untuk kedua kali. Aku punya senjata ampuh dari Ibu, “menerima”. Dengan ”menerima semua akan berujung keikhlasan akan Takdir Tuhan. Dan aku harus bisa!”


0 komentar:
Post a Comment