Koridor Lantai Dua

Tak bisa kupingkiri kalau virus gila ini telah bertengger di otakku. Bukan karena cincin yang diberikannya padaku seminggu lalu, tapi lebih karena apakah aku benar-benar telah siap untuk manikah? Memang tak  bisa kupingkiri, tatapan matanya selalu berhasil membiusku, kata-katanya pun hampir selalu mampu membuatku meleleh, namun jika sekelebat bayangan tubuhku yang menggemuk, penampilan yang memburuk, ngurus banyak anak, adegan nyapu, ngepel, kehilangan carrier, dan seabreg bayangan hitam itu menjelma dalam benak, langsung semua keindahan yang terbayangkan pun meranggas tak berbekas. Aku bingung, apakah harus kuterima lamaran Dino ini?

Sepertinya slide presentasi untuk meeting besok akan kubuat dirumah. Di meja kecil dengan komputer kantor yang selalu melihatku dengan sadis ini, aku hanya melongo tak bergairah. “Hari ini adalah batas waktu yang diberikan Dino! Bagaimana ini??!!” kataku dengan diriku sendiri seperti dukun yang sedang komat-kamit baca mantra.

Setelah terlalu jenuh dengan layar komputer yang menyerangku dengan pekerjaan berkedok tanggung jawab, kini mataku tertuju pada segelas air mineral dingin di sebelah kanan meja kerjaku. Bayangan Dino tiba-tiba menyembul dalam beningnya air itu. Belum lama jantungku bereaksi atas ketidakwajaran itu, bayanganku versi obesitas pasca melahirkan, sudah mengisi ruang gelas dan menggantikan wajah Dino. Aku semakin kacau, Ingin rasanya pulang saja dari kantor.

***

Dengan suara seraknya dia memanggilku dengan lembut, “Lifa.”
Aku terperanjat, jantungku seakan berhenti. Pesonanya benar-benar telah melayangkan aku dalam kekaguman yang berlebihan. Tapi aku tetap mencoba mengontrol diriku dengan sebaik-baiknya. “yeah, jual mahal!” bisik  hatiku. Aku masih pura-pura tetap berjalan dikoridor lantai dua kantorku, jurus jual mahalku yang telah kupelajari dari guru yang bernama pengalaman.

“Lifa,” panggilnya lagi dengan sedikit menaikkan intonasi. Aku tak mungkin melepaskan kesempatan ini. Aku berbalik, dengan semua konsep yang telah kupelajari dari majalah fashion aku kibaskan rambut panjangku, dengan bibir sedikit menganga ala rihanna aku menatap matanya dengan mencoba mengeluarkan semua inner beuty yang entah masih bersisa atau tidak.

Sepertinya caraku berhasil, Dia beraksi dan tersenyum melihatku. Kemudian misi kedua kulancarkan, dengan berjalan lenggak lenggok penuh keanggunan bak international top model di red carpet, aku dengan penuh percaya diri mendekatinya, dan tetap dengan bibir mengangaku dan kibasan rambutku.

“Dino? Apa kabar? Ada apa?” tanyaku basa-basi dengan selembut mungkin. Tak lupa, mataku terus melirik jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tanganku, ini adalah kesan agar aku terlihat sibuk dan tidak banyak waktu atau dengan kata lain “carrier woman is me”-lah.

“Maaf mengganggu,” katanya dengan muka yang sangat bersalah.

Aku tetap percaya diri dengan tetap melirik jam tanganku, “gak kok, biasa wanita carier, jadi agak sibuk.” Kutekankan sedikit di  kata carier untuk memperlihatkan bahwa aku adalah wanita berkelas. “Dan adegan selanjutnya adalah, aku  harus pura-pura buru-buru masuk kantor dan meninggalkannya dalam ketidakpastian dan tanda tanya. Dengan begitu, Dino akan calling aku dan minta bertemu lagi. Hahahaha” rencana hatiku dengan sedikit tawa ala mak lampir di akhirnya....

“Ini, ada sesuatu. Tolo..” sebelum kata-katanya selesai dia ucapkan, kulancarkan ide gilaku itu, aku langsung menyambut sebuah kotak cantik yang ada ditangannya dan bilang maaf sambil berlari menjauhinya menuju lift yang sedang terbuka.”Perfect! romantis banget!” batinku berkata puas. Dalam langkahku yang menjauh samar-samar kudengar teriakannya,
“Kutunggu jawabannya Senin Depan!”

***

Adegan minggu kemarin berputar lagi dalam memoriku. Dikoridor lantai dua yang kini menjadi tempat nomor satu chart tempat galau di hatiku. Gimana tidak, peristiwa itu telah membuatku seminggu menjadi zombie berjalan tanpa tujuan dan arah, melupakan kenikmatan chesse burger, dan orange juice yang tak pernah tergeser dari hatiku. Dino juga tak menghubungiku lagi semenjak pertemuan itu. Ugh! Begitu menyiksa! Semua gara-gara Cincin ini. Cincin dari Dino!

Kuteguk air mineral yang sedari  tadi memantulkan wajah Dino, namun bayangannya tidak langsung saja lenyap. Sekarang malah berpindah di dinding bercat biru telur bebek di depanku ini. Oh my God, kelainan apa ini?
Dering telepon membuyarkan lamunanku, dengan sedikit gelagapan, kuangkat panggilan itu.

“Ibu, Lifa. Pak Dino mau bertemu.” Jantungku seakan berhenti, aku tak menjawab kata-kata dari receptionist kantorku ini, aku malah melongo tak percaya  bahwa ini hari senin.
“Ibu Lifa? Halo Ibu Lifa.”
“Iya, bilang tunggu aku di koridor lantai dua.” Langsung kututup telepon dengan cepat-cepat. Kupikir-pikir lagi kenapa harus di koridor lantai dua? Mungkin, tempat itu akan menjadi tempat bersejarah buatku. Who knows?

Dari ruanganku di lantai lima, aku harus menuju lift untuk sampai di koridor lantai dua. Dengan sepatu ber high heels ini aku sedikit kehilangan kecepatanku sendiri. Aku kaget dan sebel minta ampun, melihat lift service sedang asyik mengotak-atik mainannya. “Oh My God! Kenapa lift-nya harus rusak sih??” Demi cinta, kutekatkan untuk turun lewati tangga. Aku berlari terus menuruni tiap anak tangga, tak peduli high heels yang menyiksa betisku, pegalnya kakiku karena tumpuan tubuhku menuruni tangga, dan keringat yang melunturkan make-up ku. Pokoknya aku tak peduli. Akan ku katakan, “ Dino. Kuterima pinanganmu ini!”

***

Jika ada kaca yang terpasang di setiap dinding kantor, aku akan sangat berterimakasih. Meraba-raba mukaku sendiri seperti meraba wajah orang lain. Untung, tak ada kaca, aku tak ingin melihat penampilanku kali ini. Akhirnya kulangkahkan kakiku di koridor lantai dua, tempat yang sebentar lagi akan menghentikan pencarian panjangku sebagai pencari cinta. Dikoridor inilah, akan kutinggalkan masa lajang yang telah mendarah daging dalam diriku karena telah terlalu lama. Dan mungkin saja dikoridor inilah, kisah hidupku yang baru, bukan hanya cheese burger dan orange juice lagi yang selalu menemani.

Aku terdiam. Merefleksikan kehidupanku yang angkuh. Carrier yang selalu kubanggakan hingga terhempas dari dunia bernama asmara, materi dan kemandirian yang sebenarnya membelengguku dalam sepi dan metafora
“kau, tidak seperti biasa?” kata-katanya yang selalu lembut mengagetkanku dari lamunanku. Mungkin karena dia mengmelihatku terdiam dengan kaki tanpa sepatu dan keringat membasahi mukaku. Mendengar kelembuatan di tiap nada kata-katanya membuat aku semakin yakin akan putusanku ini. Dari SMA Dino memang tak pernah berubah, selalu hangat dan baik kepada semua orang. Sungguh beruntung aku bisa memiliki calon suami seperti dia.

“lift rusak, aku harus turun dari lantai lima. Yeah, terkadang high heels seperti setan, begitu menyiksa!” jawabku dengan sesantai mungkin untuk mencairkan suasana. Aku tetap tidak memakai sepatuku. Nafasku belum teratur juga, ditambah tubuhnya yang semakin mendekatiku, membuat aku semakin sesak nafas saja.

“Fa, aku mau bicara!”

“Aku juga!” kataku menimpalinya dengan cepat.

“Oke kamu dulu!” kali ini dengan elegant dia mengangkat bahunya dan tersenyum manis padaku. Aku meleleh, sedikit kehilangan keseimbangan.

“Din, aku telah terima cincinmu.” Kataku singkat dan meluncur dengan lancar dari bibirku. Ada sebuah bongkahan beban yang terlepas di pundakku seketika itu. Ringan, lega, dan bahagia.

“Syukurlah!!!” sambil memelukku dengan erat. Sentuhannya benar-benar telah melambungkanku dalam indahnya syurga. Membuat aku tak berdaya dalam pesona ketampanan dan kelembutannya. “Tuhan, sepertinya aku sudah gila!” batinku bergumam. Dia begitu bahagia, tak pernah kulihat dia sebahagia ini. Bahkan dia seakan tak percaya dengan apa yang kuucapkan barusan.

“Jadi, kamu setuju?” katanya meyakinkannku.

Aku meneteskan air mata bahagia sambil mengangguk mantap. Dia memelukku lagi, teman SMA yang kini bertemu dalam koridor lantai dua kantor akan menjadi Imamku, aku masih menangis bahagia dan tak percaya...
Dia melepas pelukannya. Dia terdiam sebentar untuk mengatur nafasnya. Dengan kelembutan suaranya dia berucap padaku, membuat bulu-bulu romaku kaget dan berdiri.

“Kami telah berpacaran lima tahun Fa,” Tiba-tiba ada sorot keseriusan dalam matanya. “Tapi, setiap aku melamarnya, dia selalu menghindar. Aku bingung dan sedih. Karena hanya dia yang aku cintai Fa!” Aku mulai tak faham dengan apa yang dia ucapkan. Tapi, aku tak ingin bertanya dulu, melihat keseriusan nya dalam tiap katanya.

“Fa, Adikmu ingin aku minta izin ke kamu untuk melamarnya, itu syarat mutlak! Dan tak bisa diganggu gugat! Dan, kini kau telah mengizinkannya. Thanks Fa!” kata-kata terakhirnya bersamaan dengan linangan bening air matanya. Mungkin dia begitu bahagia, dapat melamar kekasih yang telah lama dicintainya.

“Jadi, cincin ini buat adikku?” tanyaku sedikit menahan isak.

“Iya, itu kutitipkan padamu, waktu kamu buru-buru masuk kantor!”  Mendengar penjelasanya aku hanya biasa bilang “OH...” dengan bibir membentuk huruf o tanpa menganga ala rihanna, tanpa high hells lady gaga, dan tanpa make up  kece- nya Syahrini.  Akhirnya aku hanya sanggup untuk berteriak

“Cheeeeesssseee Buuuurrrgggggerrrr! Oooorrrrrraaannnnnggggge   jjjjuuiiiiiccccceeee!!”

Sambil berjalan menuju lantai dasar tak peduli dengan calon suami adikku yang kutinnggalkan sendiri kebingungan dengan seribu tanda tanya dan sekotak cincin ditangan kanannya.

***

1 komentar:

outbound training di malang said...

kunjungan ..
salam sukses selalu ..:)

Post a Comment